Showing posts with label retreat. Show all posts
Showing posts with label retreat. Show all posts

Tuesday, October 29, 2013

Terima kasih


Terima kasih TUHAN
Hari ini saya belajar bagaimana rasanya dipermalukan..
Hari ini saya merasakan bagaimana rasanya dihinakan dan diabaikan/dihindari

Karena itu saya berjanji tidak akan mempermalukan, menghina, dan atau mengabaikan seseorang
Karena apa yang kecil bagi saya, bisa jadi besar buat orang lain

Friday, June 7, 2013

Menilai Manusia


Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Sarira Saka Busana

Manusia Dihargai Karena Lidahnya, Manusia Dihargai Karena "Busana"-nya

Jujurly, tulisan ini sebenere idenya gegara tadi shubuh itu ada yang share link kaskus, ulasan twitwar-nya seorang tante doktor dengan seorang sutradara. Sebelumnya tante itu dengan seorang musisi. Baca-baca ke belakang, saya kok jadi merasa manusia gampang sekali menilai manusia lain jelek, ya ? 


Tulisan ini jelas tidak dimaksudkan untuk mengekor berantem yang diatas.

Mari kita kembali ke pepatah jawa jaman WaliSanga tadi:

Ajining diri saka lathi, ajining sarira saka busana.
Manusia dihargai karena lidahnya, manusia dihargai karena "busana"-nya.


Bener banget, kan?

Gegara lidah ( dan sekarang juga jempol tentunyah ) seseorang bisa dinilai..
Dan gegara cara penampilan, orang juga bisa dinilai..

Nah, yang sering jadi masalah itu.. bila lantas orang dinilai HANYA berdasar penampakan penampilan, dan/atau dari sisi perlente, dan/atau  dari sisi gelar, dan/atau  dari sisi kepemilikan. Padahal saya yakin pengertiannya tidak mementingkan citra penampilan seperti itu.

Kebetulan, kedua kakek saya ( yang satu muslim yang satu katolik ) pernah menasihati hal serupa. Yang saya ingat, kurang lebih begini: titik masalahnya bukan soal apa/bagaimana busananya, tapi cara berbusana-nya. Pun busana dalam pepatah ini tidak terbatas pada pakaian dari kain, tetapi juga mencakup "pakaian", yakni berupa agama. 

Agama dalam pengertian ini bukan apa yang tercantum di KTP, melainkan nilai2 yang mengatur sendi2 kehidupan manusia. Dan oleh karena itu, agama sering disebut sebagai ageming ati. 

Pengertian ageming ati-nya yang dimaksud tidak berarti menyamakan semua agama --> Soal ini kembali ke masing-masing. Saya muslim, pastinya akan bilang islam yang paling cocok buat saya.. Tetapi adik saya katolik, pasti akan bilang katolik yang paling cocok buat dia. --> melainkan, kalo sudah memiliki agama tertentu, pakailah sebaik2nya sebagai pakaian hati dan jiwa
<-- Ini, katanya, adalah bagaimana orang jawa memandang agama.
Etapi gak tau juga kalo jawa hari gini, loh.. Saya ngga punya kompetensi menebak apalagi menjawabnya: lha wong saya ini jawa ngga jelas, jeh :p  

Berkenaan dengan contoh ageming ati, contoh yang diucapkan kedua kakek saya kebetulan juga sama: Apa gunanya kamu beragama kalo masih menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu ? 
--> dan karena itulah kita #eh saya ding, membedakan antara ajaran agama dengan kelakuan umatnya. 

Beberapa tulisan di bawah ini, meski agak beda penyampaiannya, kesimpulan akhirnya sepertinya mirip2 dengan apa yang saya yakini


1) Membumikan Langit: Ajining Diri Soko Lathi
2) Dongeng Ala "Simbah": 
Ajining Diri Jalaran Soko Lathi 
3) kalo yang ini sih tambahan saja: Suara Merdeka: Makna Tembang Ilir-ilir

Kutipan favorit saya, sekaligus penutup tulisan ini adalah:
Jadi ketika pakaian kita sudah baik..maka harus kita dukung dengan tingkah laku dan tindakan yang baik pula agar wibawa dan kehormatan diri kita terjaga dan orang pasti akan mesem kesengsem untuk menghormati kepribadian kita...
Itu. dari sisi kitanya sebagai "pelaku"
Tentunya  kita sebagai "penilai" juga diharap bijak menilai orang lain, tidak terjebak hanya gegara soal penampilan dan/atau atribut yang melekat pada diri seseorang..


Bukan begitu ?

Thursday, May 16, 2013

Mengelola Hati

BELUM LAMA INI*)  saya ada post ulang tulisan lama berjudul "sambat" ( tulisan itu dulu ditulis sebagai Facebook Notes, lalu disalin ke Blog, dan kemudian Blog itu di share ke FB lagi <-- ide siapa ya dodol begini ?! ) yang intinya saya minta tolong agar TUHAN ikut bantu menata ulang hidup saya. 

Naaah sudah minta sendiri begitu, kan.. ?!
Tapi kenapa juga yah, saat permintaan itu dikabulkan TUHAN,  dan kebetulan DIA menata situasinya tidak sesuai keinginan, saya kok tetap kecewa ya ? 


Ah, tengok lah, apa kali kan si Ari ini? Dia sendiri minta diaturkan, begitu dikabulkan malah kecewa pulak. Kayak mana si Ari ini,  ah!


Setelah dipikir-pikir ( dipikir aja sik, ngga pake dipikir-pikir berulang kali gitu kok ) saya merasa sedang diajari me-manage hati: 
Apakah saya mampu tetap berprasangka baik sama TUHAN kalo DIA menetapkan sesuatu yang tidak sesuai harapan ?  Apa lalu ibadah saya turun ( kualitas dan kuantitasnya ? ),  apakah.. apakah..  dan lain-lain, dan lain-lain, etcetra, etcetra..

Mungkin begitu.

Apapun yang terjadi pada saya,  kehidupan toh terus berjalan dengan segala kebahagiaan yang menyertainya..  Mau yang baik ada, yang buruk ya ada juga. Tapi pada akhirnya itu kan tergantung pilihan Anda, kan ?!
Saya? Saya maunya memilih yang baik. 

Sepanjang saya berpikir semua itu demi kebaikan, maka selama itu juga saya akan selalu bisa bersyukur dan.. tetap bahagia.

Jadi ?
Jadi yaudah.. gitu aja..

---


+ Jadi simpulan tulisan ini apa ya ?
- Tergantung elo sendiri, Sob.. mau menyimpulkan apa
+ Dih.. gitu, sik ?!
- Ya salah elo bacanya serius banget :p   Udah.. Ngga usah dipikirin.. Jalanin aja, Sob. Percaya aja TUHAN itu Mahabaik dan menyiapkan akhir yang indah buat elu ^ ^

---

*) tulisan ini repost status FB tanggal 31 Januari 2013 
    "Sambat" di blog-kan 29 Januari 2013, di FB Notes 13 Desember 2012

Friday, May 3, 2013

带领我 (Lead Me)


明天的道路 明天的事故 只有祢知道
(Míngtiān de dàolù míngtiān de shìgù zhǐyǒu mí zhīdào)
(The way of tomorrow, the happenings of tomorrow, only YOU will know)

是否有彩虹 是否会下雨 只有祢知晓
(Shìfǒu yǒu cǎihóng shìfǒu huì xià yǔ zhǐyǒu mí zhīxiǎo)
(Whether there will be rainbow or whether there will be rain only YOU will know)

我的心要完全相信 我的灵要求告祢
(Wǒ de xīn yào wánquán xiāngxìn wǒ de líng yāoqiú gào mí)
(I will believe wholeheartedly, my spirit will pray to YOU)

带领我 保护我 我的心唱赞美祢的歌
(Dàilǐng wǒ bǎohù wǒ wǒ de xīn chàng zàn měimí de gē)
(Lead me, protect me, my heart sings to YOU a song of praise)

带领我 保护我 我的灵唱敬拜祢的诗
(Dàilǐng wǒ bǎohù wǒ wǒ de líng chàng jìng bài mí de shī)
(Lead me, protect me, my spirit sings to YOU poems of worship)
 ---

the song can be seen on 
--- 

actually 带领我 is a mandarin christian-worship-song.  
but I really love the lyrics and  I  think the lyrics do not conflict with my beliefs....
and because I know exactly I am nothing without GOD. for me, this song really reminds me that GOD is Great. ALLAH Akbar 

Monday, April 29, 2013

Once Again: Bahagia itu Sederhana



SAYA INGAT waktu saya masih bocah cilik* [ umur 2-3 tahun, masih tinggal di Kotabaru, Yogyakarta ],  kalo saya menangis ngga berhenti, orangtua saya akan segera memberdirikan saya di antara jok dan setang Scooter Lambretta dan segera menuju lintasan rel kereta. Biasanya yang dipilih perlintasan kereta Stasiun Lempuyangan instead of Stasiun Tugu..
---- Setelah saya pikir2 alasannya simpel: soale kalo ke Stasiun Tugu, saya pasti minta mampir Malioboro atau Beringharjo, dan ujungnya jajan :p  Orangtua saya memang  pelit #eh cerdas
---- Nggak ding, itu soale waktu itu kereta yang lewat siang-siang ya di Lempuyangan..
Waktu itu, seketika kereta lewat, seketika itu juga tangis saya berhenti dan jadi tertawa-tawa kegirangan.

Nawaktu giliran anak-anak saya, saya juga pakai cara ini..
Tetapi secara rumah kami di Pangkalpinang lebih dekat ke Pelabuhan Pangkalbalam  [ dan relatif mudah masuk ke dalam sampai dermaga ], dan sedang kalau di Batam rumah kami sangat dekat dengan Bandara Hang Nadim,  maka ke situlah kami menuju kalo anak-anak kami sedang rewel.

Saya kurang tahu, tapi mungkin nggak banyak diantara rekan2 FB yang kepikiran ke bandara [ kalo di jakarta ke Soetta, misalnya ], ke anjungan pengantar, hanya untuk menyaksikan pesawat tinggal landas dan atau mendarat.  Tetapi di bulan-bulan awal  sekembali kami ke Pulau Jawa [ dan tinggal di Bintaro ujung arah Ciledug ], ke sanalah kami menuju; Sambil bawa bekal makan minum dan kantong plastik buat tempat sampah.

Perjalanan dari Bintaro - BSD/Kunciran [ tergantung lewat Tol atau Ciledug ] -Neglasari - Bandara, anginnya, frekuensi take-off dan landing-nya, serta jumlah pesawat yang take-off / landing bersamaan [ di landasan yang berbeda tentunyah ] jadi hiburan tersendiri buat anak-anak kami.

Terakhir terakhir ini, karena anak-anak kami toh tidak jauh selisih usianya, kami bisa bikin X-Factor / Indonesia Idol mini di rumah. Kadang-kadang, bisa ajak-ajak anak-anak tetangga [ dan kalo sama mereka, pesertanya bisa sampe 20 loh ].. Dan nyatanya anak2 tetap bisa terhibur.. Orangtuanya juga, sik :D

Ternyata hiburan nggak harus mewah.  
Ternyata bahagia juga nggak harus megah.. 
Tentunya, itu jika ukuran bahagia tidak diukur dengan satuan mata uang dan atau prestise. 
#Bahagia itu #Sederhana

Catatan: 
*   kalo sekarang Bocah-Tua-Nakal :p
tulisan ini terinspirasi dari blog Mas Ananto di sini:  Hiburan Murah Meriah Menonton Kereta Api

Sunday, April 28, 2013

Salam


Saya termasuk yang menikmati suasana pelosok/pedesaan dan atau situasi jaman dulu saat setiap orang yang bertemu mengucapkan salam atau mungkin sekedar "monggo, Pak" atau "badhe tindak pundi? mau kemana?" 
---- Oke deh.. itu mungkin basa-basi.
---- Tapi dulu orang mengucapkannya dengan penuh rasa..

---- Kalo sekarang, "rasa" itu yang jarang kita jumpai. Kita kan masih bisa bedakan mana yang basa-basi yang terasa cuma tempelan dan mana yang betul2 dengan hati

Sampe terharu sih mungkin enggak.
Belum.
Belum  sampe level itu, saya... 

Tapi akan senang sekali rasanya dikelilingi oleh orang2 yang perhatian.

Di kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Kendari, Pangkalpinang, dan bahkan Batam [setidaknya saat saya tinggal di sana], masih sering kita jumpai orang2 yang akan segera membalas sapaan kita, atau malah tersenyum menyapa duluan.

Naah.. kalo di Jakarta, kadang2 saat kita mencoba tersenyum dan menyapa, eh yang disapa malah menatap kita penuh selidik "ini orang SKSD mau ngapain ya?"
---penuh curiga kalinya orang-orang di kota metropolitan ini ya? macam betol aja


Sapaan Sakti ?

Tetapi untungnya, bahkan di Jakarta, masih ada orang2 yang meski mungkin hatinya bertanya-tanya, tetap akan membalas sapaan kita..  Kata sapaan sakti yang biasanya dibalas itu adalah: as-salaamu'alaykum

Iyalah.. khususnya bagi muslimin, kata sakti ini kalo udah diucap kudu dibalas soalnya..
Jadi kadang2, etapi ini bukan karena sentimen agama, saya lebih sering mendahului mengucap salam. 90% dibalas :D

Tapi ini aturan khusus :D
Dalam kaitan hubungan sosial masyarakat yang saya angkat, ini jadi "aturan khusus" yang meski relevan tapi sebaiknya saya bahas tersendiri. Mohon maaf
Mari kita kembali ke laptop..


Spesial Pake Telor

Saya bicara salam dan sapa di sini konteksnya umum.

AlhamduliLlaah, saya masih dikeliingi orang2 yang baik..
Orang-orang saling tersenyum, atau mengangguk sopan, atau menyapa, kalo bertemu. 
Ya pastinya tidak setiap orang, tapi kebanyakan  (^-^)V
Dan karena ketulusan itu dapat dirasakan, maka saya boleh pastikan bahwa orang2 baik  di sekeliling saya ini murni bukan basa-basi, melainkan karena memang pada dasarnya baik ^ ^ 

May God bless you, brothers/sisters.. ^ ^


::juga diinspirasi dari status FB sendiri 3 April 2013
::status itu sendiri terinspirasi dari tulisan ini

Sunday, April 21, 2013

Tentang Kesalahan

foto dari cover buku ( free e pub)
I Forgive You: Why You Should Always Forgive http://www.smashwords.com/books/view/13176
PERNAH NONTON dong film Spiderman ?Tau dong episode Sandman ?

Yang menyenangkan dari film Spiderman (entah itu karena Marvel Comics-nya yang punya ciri khas tokohnya adalah "spiderman juga manusia" "manusia biasa penuh problematika" atau gegara aksi pembuat filmnya), ternyata ada banyak sisi yang bisa dilihat dalam sebuah kejadian. termasuk dalam peristiwa pembunuhan Ben Parker, konflik antara Mary-Jane dan Peter, dan lain-lain.

Dalam kasus Ben Parker, penembakan yang menewaskannya itu terjadi tidak disengaja. Pelakunya betul2 berada dalam keadaan yang "sangat membutuhkan", akan tetapi lingkungannya tidak peduli. 
Terpojok.. 
Dan setelah apa yang terjadi, si pelaku (yang kemudian bermutasi menjadi Sandman) menyesalinya setiap malam.

Saya yakin setiap kita pernah membuat kesalahan dalam hidup, baik sadar maupun tidak. Kesalahan itu sendiri mungkin sudah sesuatu; tetapi rasa bersalahnya itu sendiri adalah sesuatu yang lain.

Saya sendiri pernah juga melakukan kesalahan. Saat itu terjadi, saya tidak menyadari kesalahan itu. Dalam kasus saya, tepatnya: saya terlalu egois untuk sadar bahwa itu adalah kesalahan. Tetapi ketika tahu, nyatanya saya jadi kepikiran setiap saat setiap waktu..  dan belum terhenti sampai akhirnya bisa minta maaf secara langsung --dengan penuh perjuangan ituh, karena xiaolongnv  orangnya juga sudah 16 11 tahun menghilang dan ngga mudah nyarinya-- 

...Dan karena saya alami sendiri, saya tahu beratnya minta maaf itu. Seperti itu juga saya paham beratnya memaafkan. Dan saya salut pada mereka yang melakukan itu dengan mudah, tetapi tetap serius ( bukan cuma sekedar maaf di mulut ).
Karena itulah,  ketika Peter Parker berkata "I forgive you" pada Sandman setelah tahu apa yang terjadi --dan tentunya karena saya punya penyakit kegeeran tingkat tinggi hingga selalu mengambil kesamaan dengan apa yang pernah saya alami sendiri--  entah kenapa, saya kok jadi ikut-ikutan merasa lega.

Mungkin pada dasarnya manusia memang ingin merasa "diterima". tidak dianggap berbeda. Sukur2 bisa disayangi --natapi kalo bagian terakhir ini, tentunyah ada klausul: syarat dan ketentuan berlaku :p




catatan: 
1. Tulisan ini sebenernya editan ulang dari status FB ane tanggal 14 Januari 2013, abis nonton film Spiderman untuk kesekian kalinya di layar kaca
2. Ya, tulisan ini ada hubungannya, tetapi tidak terbatas, denganmu.. sebelum kamu nuduh aku akui duluan :p

Saturday, February 23, 2013

Lagi Sok Mikir


Tengah malam gini, suka mikirin apa apa yang dilakukan hari ini.
Kadang2 suka keterusan sampe soal kemarinnya..
Dan kadang2 soal kemarinnya kemarin..

Seringnya suka lucu sih melihat masalah yang (saat itu) tampak besar dan atau urgent, ternyata kalo sekarang dipikirnya, ternyata bukan masalah yang cukup berarti atau bisa diselesaikan dengan mudah kalau pakai cara lain.  Sebaliknya, kadang melihat sebuah permasalah yang (saat itu) tampaknya sepele, e ternyata kalo sekarang diliat-liat lagi sebetulnya efek/akibatnya penting banget sekarang/saat ini.
+ lucu juga, nggak ?
- enggak lucu, pastinya :p

Sempat beberapa kali juga mengalami perkara sepele seperti salah pengertian, yang sebetulnya bisa di-clear-kan dengan mudah, jadi panjang hanya gara2 kita sedang banyak pikiran alias ngga bisa mikir panjang dan jadinya langsung erosi emosi...   Dan gara2 cimory emosi beginian, saya nyaris menghancurkan hubungan dengan kawan lama masa kecil (e sampe gede, ding) yang 11-12 tahun kepisah dan baru ketemu lagi sekarang
<-- oh iyes, ini kejadiannya udah beberapa minggu yang lalu.. pan ini contoh, ngga harus apdet kek infotenmen dong ? *tuwing tuwing* :p

Jadi mikir-mikir deh: Tenang dan Pengendalian Diri itu penting sekali.
Tiap orang (teorinya) bisa, kok.. karena tenang itu suasana, sedang pengendalian diri juga bukan ilmu silat yang belajarnya susah.. Ini tinggal bagaimana membangunnya dan atau mengkondisikannya saja.

Jadi inget jaman dulu pernah latihan silat pernapasan. Intinya sih dengan berlatih, kita jadi "menguasai" tubuh kita sendiri, maka jadi PD dan tenang karena full control atas bodi kita.  Habis itu, latihan tahap selanjutnya, sama si pelatih kita disambitin pake arang yang masih nyala membara dan atau pake korek api.
Dalam keadaan PD dan (jadinya) tenang, sepertinya arang membara itu bergeraknya perlahaan banget kayak slow motion film silat jaman dulu.. Kita cukup bergerak seperlunya aja maka.. bye bye arang membara ^ ^

Oh, oke deh.. kalo itu pake latihan.

Yang ngga pake latihan juga ada kok.
Saya pernah ngebut karena ngejar jam siaran di Kendari. Di depan Masjid Agung Kendari, mendadak ada becak dari kiri jalan mendadak melakukan gerakan langkah tegap belok ke kanan maju jalan,  sementara saya yang ambil satu jalur di sebelah kanan dia sudah terlalu dekat untuk merem atau menghindar.. Sudah dapat ditebak, saya menghantam becak itu dan tubuh saya terlontar jauh sampe 5-6 meteran melintasi jalanan sisi kanan (yang untungnya kosong) kayak angry bird; kemudian jatuh dengan kepala lebih dulu, terseret seret sampai masuk selokan di ujung jalan sebelah sana.
PS: becaknya bergeming pun tidak. Asli nggak adil! Huehueheu :p

Entah kenapa saat itu saya tenaaang sekali. Jadi perasaan saya saat "terbang" itu saya sadar loh saya sedang terlontar; dan masih bisa mikir begini: "Oh, gini toh rasanya jadi superman. Asik juga.." baru kemudian jatuh dengan kepala dulu <-- don wori, stuntman-nya aman kok, kan pake helm cakil :D

Trus ini cerita maksudnya apa ?

Maksudnya, bahkan dalam situasi kayak begitu, kalo pikiran/jiwa sedang tenang.. ya bagaimanapun tetap aja kita tenang. Itu kan soal kondisi yang terciptakan dengan menjaga kondisinya.
Artinya, kalo kita mau, kita sendiri bisa membuat kita tetap tenang dalam keadaan bagaimanapun.
Ketika tenang itu sudah ada, mau ada aksi apapun. reaksi kita tetap akan terkendali dan insyaa Allah kita bisa menghindari konflik yang tidak perlu.

Coba deh.

Terserah mana yang lebih mudah. Pake latihan (silakan tanya sama yang ahlinya), atau mengkondisikan diri aja. Semoga setelah itu bisa kita lakukan, kalo kebetulan lagi iseng kayak saya gini mikir2in yang tadi atau kemaren atau kemarennya lagi, tindakan yang kita sesali atau ngga pas itu bisa kita minimalkan, syukur-syukur ngga perlu terjadi.

Mohon maaf kalo kepanjangan. Ini nulisnya sambil ngantuk. Isi pikiran juga udah ngelayang-layang entah kemana..
PS: ngga pake daun khat kok. ciyus.. :p

Semoga bermanfaat.
Kalo enggak, mohon maap ya? :D

Wednesday, January 30, 2013

Sambat


ya Allah ya TUHAN ku,
terima kasih. 
hidupku ini mungkin tidak selalu sesuai yang aku inginkan,
tapi sekarang aku tahu bahwa Engkau menyiapkan hidupku seperti yang aku perlukan.

tapi TUHAN.. 
jujur-jujuran ya,. 
saya ini orangnya ndableg je.. 
meski saya tahu Engkau menciptakan manusia itu dengan kebebasan memilih.
tapi kalo Engkau pasrahkan pilihan saya pada diri saya, mesthi lho nanti saya malah kesasar ke arah yang buruk.. 

lha mbok nyuwun tulung tangan saya diiket dengan tali-Mu
lalu Engkau tariklah biar saya tetap di jalan-Mu..
kalo saya masih rada error, nyuwun tulung di-slenthik sedikiiiit aja –jangan keras-keras tapinya ya–
insyaa Allah saya akan jadi lebih baik lagi, minimal buat diri saya dan keluarga..  
aamiyn

matur sembah nuwun

post ulang dari https://www.facebook.com/notes/antonius-mikael-suryawardhana/sambat/10150431493917663

Saturday, December 22, 2012

Tentang Hari Raya

BEBERAPA hari ini linimasa saya, baik di FB maupun twitter, dipenuhi perdebatan sengit tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lainnya. Perdebatannya memang sengit, sampe nyengiti.. 
Kalo boleh jujur sih, saya sudah bosan..  Why ? Sebab setiap tahun sebetulnya topik itu diangkat terus dan terus. 
Lho.. Memangnya, ada apa dengan cinta ingatan kalian ? 
Perlukah diulang-ulang ? Padahal materi dan sudut pandangnya ya cuma itu lagi dan itu lagi.. Orang2nya juga loe lagi loe lagi gak berubah..

SAYA memandang Hari Raya itu agak berbeda. Bagi saya, Hari Raya itu justru waktunya silaturahmi. Urusan keimanan, yang paling paham ya diri sendiri.
Gak usah susah-susah, ambil contoh pas Lebaran. Semua bergembira karena manusia kembali fitri. 
Itu teorinya. Memangnya yakin puasa kita diterima sehingga Allah meridlai ? Kalo saya, gatau kenapa, seringnya malah nangis kalo Lebaran (baca: THR kok langsung abis liat kelakuan sendiri masih belum bener, padahal ramadhan-nya udah abis)
Saya pikir seperti itu jugalah kalo natalan. Pastinya ngga sama-sama gitu, tapi konsep menyambut Hari Raya-nya saya pikir ngga jauh beda: Perayaan ! Orang-orang (harusnya) gembira bersukacita..

Masalahnya, In My Sotoy Opinion ya?, jangan2 yang tampaknya bergembira pas Hari Raya itu bukan gembira karena sebab-sebab keagamaan dan atau keimanan itu sendiri.
Jangan2 itu cuma euforia (yang lain tampak gembira, jadi baiknya kita ikut gembira)? Atau jangan2 gembira karena akan mendapatkan hongbao a.k.a angpau ? Karena baju baru, mungkin ?
Atau meski kita ngga ikut merayakan jadi ikut gembira karena gebyar diskon yang cetar membahana itu, mungkin ? Ikut dapat liburan, mungkin ?

Sudah beberapa lama saya perhatikan, Hari Raya (agama samawi yang manapun) sudah tercemar. Hari Raya justru menjadi ajang komersial: jor2an diskon, jor2an event, jor2an paket wisata (dengan tematik hari raya), dan lain-lain tapi lupa pada esensi apa yang seharusnya dirayakan. Sekali lagi, ini In My Sotoy Opinion lho ya :p

JUJUR, saya juga ngga bermaksud ngebahas Hari Raya keagamaan dari sisi agama. 


Pernah nggak perhatikan: jelang hari raya, orang2 berusaha untuk merayakannya berkumpul dengan orang2 yang mereka sayangi, termasuk dengan jalan pulang kampung ?


Pernah ngga kebayang: di suatu tempat terpencil nun di perbatasan, ada seseorang petugas yang ngga bisa pulang untuk berhari raya dengan keluarga karena ngga dapat cuti, atau ngga ada orang lain yang menggantikan, atau malah lebih parah: ngga punya duit buat pulang ?

Atau mungkin karena sedang bertugas, termasuk Pak Polisi atau Penjaga Lintasan Kereta yang berjaga2 demi kenyamanan kita semua pulang kampung untuk berhari raya  ?
Dan atau bertugas di garis depan pertempuran, jauh dari keluarga sementara jelas ga bisa pulang ?

Film Joyeux Noel menceritakan itu. Dalam perang parit 1914 di Perancis, masing-masing pasukan Perancis, pasukan Skotlandia, dan pasukan Jerman saling berkubu dalam keheningan suasana jelang Hari Raya. 
Tetapi Hari Raya akhirnya memenangkan perang. Ia mampu menjembatani segala perbedaan pandangan politik dan entah apalah dari ketiga pasukan itu. Setidak2nya untuk sementara.

SAYA PIKIR, pada akhirnya manusia memang cenderung ingin bersilaturahmi berkumpul bersama orang2 yang mereka cintai. Tak peduli bagaimana orang Perancis menggambarkan kebengisan orang Jerman, ternyata orang Jerman pun punya keluarga dan merindukan mereka. Demikian pula bagaimanapun orang Jerman menggambarkan orang Perancis, ternyata mereka sama-sama juga seperti orang Jerman: baik dan lembut pada orang2 yang mereka sayangi.

Dan itu jugalah semangat saya ketika saya mengucapkan selamat ber-Hari Raya. Saya ikut senang karena sebab-sebab seperti di atas, meskipun tidak ikut merayakan.

Demikian.



PS: Saya sungguh berharap film seperti Joyeux Noel inilah yang diputar pada saat Hari Raya ( kalo ikut film ini ya pas Natal mungkin lebih tepat ) 
..........dan plis, jangan Home Alone lagi yak ?  


Wednesday, December 5, 2012

Tentang Hidupku


Ya Allah,

Sedangkan aku tidak tahu kapan expired-date hidupku
Namun aku....

Ya Allah, ampuni aku

Friday, November 7, 2008

YUSUF MANSUR VS SEKURITI POM BENSIN

as.wr.wb,

subhanaLlah
Insya Allah, ini kisah nyata
meneruskan dari kawan

was.wr.wb,
ari.ams


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Daniman, Ardi
Tanggal: 6 November 2008 16:19
Subjek: FW: YUSUF MANSUR VS SEKURITI POM BENSIN 

-fwd-

Semoga bermanfaat


From: Indajani, Ina

Sent: 06 Nopember 2008 16:01
Subject: FW: YUSUF MANSUR VS SEKURITI POM BENSIN

-----Original Message-----
From: Erika, Ade Chika
Sent: Thursday, November 06, 2008 11:00 AM
Subject: FW: YUSUF MANSUR VS SEKURITI POM BENSIN

 

Ini ada cerita ringan, dialog antara Ust. Yusuf Mansur dengan Security POM Bensin

Agak panjang, tapi percaya deh enak kok dibacanya ….

SEMOGA BERMANFAAT

 

Banyak yang mau berubah,
tapi memilih jalan mundur.

Andakah orangnya?


Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya: "Nanti di depan ke kiri ya".
"Masih banyak, Pak Ustadz".
Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya pengen pipis.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti. "PakUstadz!". Dari jauh ia melambai dan mendekati saya.
Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.
"Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…". Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.
"Saya ke toilet dulu ya".
"Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?"
"Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?"
"Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz".
Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang "berhentiin" saya. Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali "target operasi" dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.
Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, "Ok, ntar habis dari toilet ya".

***

"Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?", tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.
"Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?"
"Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya".
"Wah, ustadz langsung nembak aja nih".
Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.
"Udah shalat ashar?"
"Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja".
"Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?"
Sekuriti itu senyum aja.
Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.
"Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini", saya mengejar.
"Ya, kurang lebih dah".
Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang 'alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu. Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.
"Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari senang".

Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara?
Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.
Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.
Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, "Terus, mau berubah?"
"Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?"
"Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya".
"Ngebut gimana?"
"Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe keduluan Allah".
Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini.. Kan aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.
"Yang kedua," saya teruskan. "Yang kedua, keluarin sedekahnya".
Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. "Pak Ustadz,  pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan".
"Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?"
"Satu koma tujuh, Pak ustadz".
"Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede".
"Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz".
"Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?"
"Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz".
"Koq bisa?"
"Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt".
"Terus, kenapa masih kurang?"
"Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak".
"Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?"
"Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz".
"Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot".
Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu. Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.
"Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?"
"Mau Ustadz. Saya benahin dah".
"Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin.. Ikutan semuanya ngebenahin shalat".
"Siap ustadz".
"Tapi sedekahnya tetap kudu loh".
"Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada".
"Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq".
"Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya".

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah.
Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, "Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?". Si sekuriti mengangguk. "Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?". Sekuriti ini ngangguk lagi. "Selama saya bisa, saya akan jalanin," katanya, manteb.
"Gajian bulan depan masih ada ga?"
"Masih. Kan belum bisa diambil?"
"Bisa. Dicoba dulu".
"Entar bulan depan saya hidup pegimana?"
"Yakin ga sama Allah?"
"Yakin".
"Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau".
Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya. Trmasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al Qur'an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum'at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!

Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup.. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya.
Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga,. Ga kebagian.

***

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya.
"Mana bisa?" kata komandannya.
"Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani".
Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.

Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini pom bensin.. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, "Buat sedekah katanya Pak", begitu kata komandannya.
Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh bos nya.
"Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya", begitu lah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya.. Malah tambah cerah muka nya.
Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.
Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.
Suatu hari bos nya pernah berkata, "Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma".
Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.
Berhasil kah?
Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.
"Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren".
Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.
Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan.
Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.
Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Ga perlu kasbon.

Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini.
Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.

Saudara-saudaraku sekalian.. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya.
Subhaanallaah, masya Allah.

Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.
Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.

Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.
Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai penutup.

Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat keluarga dan kawan-kawan di sekeliling saudara semua. Saya merapihkan tulisan ini di halaman parkir rumah sakit Harapan Kita.. Masih di dalam mobil. Sambil menunggu dunia terang. Insya Allah hari ini bayi saya, Muhammad Yusuf al Haafidz akan pulang ke rumah untuk yang pertama kalinya. Terima kasih banyak atas doa-doanya dan perhatiannya. Mudah-mudahan allah membalas amal baik saudara semua.

Dari semalam saya tulis esai ini. Tapi rampungnya sedikit sedikit. Ini juga tadinya bukan esai sekuriti ini yang mau saya jadikan tulisan. Tapi ya Allah jugalah yang menggerakkan tangan ini menulis.

Semalam, file yang dibuka adalah tentang langkah konkrit untuk berubah. Lalu saya lampirkan kalimat pendahuluan. Siapa sangka, kalimat pendahuluan ini saja sudah 10 halaman, hampipr 11 halaman. Saya pikir, esai ini saja sudah kepanjangan. Jadi, ya sampe ketemu dah di esai berikutnya. Saya berhutang banyak kepada saudara semua.. Di antaranya, saya jadi ikut belajar.

Semalam saya ikutan tarawih di pesantren Daarul Qur'an internasional. Sebuah pesantren yang dikemas secara modern dan internasional. Tapi tarawihnya dijejek 1 juz sekali tarawih. Masya Allah, semua yang terlibat, terlihat menikmati. Ga makmumnya, ga imam-imamnya, ga para tamu dan wali santri yang ikut. Semua menikmati. Jika ada di antara peserta KuliahOnline yang pengen ikutan tarawih 1 juz ini, silahkan datang saja langsung ya. Insya Allah saya usahakan ada. Sebab saya juga kebagian menjadi salah satu imam jaganya. Ya, kondisi-kondisi begini yang saya demen. Saya kurangin jadwal, tapi masih tetep bisa ngajar lewat KuliahOnline ini. Dan saya masih sempet mengkader ustadz-ustadz muda untuk diperjalankan ke seantero negeri. Sementara saya akhirnya bisa mendampingi para santri dan guru-guru memimpin dan mengembangkan pesantren Daarul Qur'an ini.

Ok, kelihatannya matahari sudah mulai kelihatan. Saya baru pulang juga langsung dari TPI. Siaran langsung jam 5 ba'da shubuh tadi. Istri saya meluncurnya dari rumah. Doakan keluarga kami ya. Saya juga tiada henti mendoakan saudara dan jamaah semua


Tuesday, September 23, 2008

Tentang Seorang Baik Yang Telah Tiada..

Kalau Allah sudah menghendaki, maka ia tinggal bersabda Kun Fayakuun.. Maka Jadilah..

Dulu, tahun 2000, kami adalah enam sahabat yang sama-sama tugas di pelosok Indonesia Timur. Setelah kembali ke Jakarta, posisi yang dua menjauh, dan tergantikan oleh tiga orang lain. Sehingga kini menjadi tujuh sahabat. diluar jam kuliah atau jam kerja, kalau ada yang satu, yang lain ada pula.

Saat itu, dari bertujuh ini, yang empat sepakat bikin usaha sedang yang tiga bekerja di sebuah KAP/Konsultan. Yang tiga, meski ngga bisa bergabung dengan kami yang empat, punya komitmen untuk turut membantu usaha kami yang empat. Intinya, bertujuh ini sepakat untuk keluar dari PNS. Kalau istilah sahabat-sahabat dunia kang-ouw, kami bertujuh tidak minta lahir bersama, tetapi bersedia mati pada hari yang sama (taelah.. gaya lu Ri..)

Back to Laptop.

Salah satu kawan kami yang kerja di KAP, mendadak meninggal dunia. Dalam usia yang masih sangat muda 27 tahun. Meninggalkan seorang istri dan seorang bayi berusia 9 bulan.
Kami semua berkabung dan ada juga yang sedikit kecewa karena ia mendahului kami.

Saya ? cuma bisa pasrah bilang "elo emang good guy, Prend.." ini sebab saat dia married tahun lalu, satu angkatan kami hadir, dan subuh itu satu angkatan hadir juga; termasuk hadir diantaranya adalah cukup banyak angkatan kami yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang akuntan. Terharu sekali melihat kawan2 ini mau datang sejak jam 3 pagi, begitu banyaknya kawan2 yang datang sampai2 warga setempat sempat salah sangka.. 
Saya hitung jumlah yang shalat shubuh dan shalat jenazah, lebih dari 8 shaf.. dan saya yakin jumlah orang ke sampingnya lebih dari 15 orang..
(akankah bila tiba giliran saya, kawan2 saya kelak akan berdatangan seperti itu? -aih inginnya jadi good guy-)

Teman A ? saking sedihnya ia hanya bisa bilang "Elu gila lu, lu kan janji mau mampir liat-liat ke kantor baru. Gua tagih janji elu sekarang !!" seolah lupa kawan kami ini sudah meninggal.

Teman B ? ia justru menyesali nasib kawan ini yang menurut dia malang.."Prend, anak elu masih kecil Prend.. Gila lu milih ngga bertahan.."
dll dst..

Semua ini dialog di samping ambulans yang akan membawa jenazah almarhum ke kota kelahirannya. Iya, saya tahu ada beberapa kesalahan logika dalam kalimat2 kami. Tapi itulah yang terjadi saat itu. Kesedihan membuat kami seolah buta mata buta hati.. waktu itu..

Malamnya, kecapekan, bakda isya entah mengapa saya tertidur. Saya bermimpi ada di sebuah taman yang luar biasa indah. Betul2 indah pemandangannya. Bahkan iklan Salem High-Country yang tayang di TV3 Malaysia saat itu kalah jauh dengan ini. Ini aneh, saya ngga pernah bermimpi sefeminin ini. Tapi saya ikuti jalan setapak itu..
Tiba2 saya dengar suara memanggil. Saya ikuti suara itu sampai ketemu sebuah ayunan dimana kawan saya almarhum sedang bermain-main dan tersenyum.
"Elu juga kudu jadi good-guy juga dong Ri, biar elu bisa ada di tempat yang kayak gini. Elo liat deh, semua ada di sini.. "
dst dst.. ngga perlu saya ceritakan apa saja yang ada di sana..
Tapi pertanyaan berikutnya sungguh menusuk. Ia berhenti dan menunjuk, "Masalahnya, elu udah jadi good-guy belum Ri ?"
Seiring habisnya pertanyaan itu, berkelebatan segala kejadian yang saya alami dan atau lakukan muncul seolah ada layar LCD di depan mata. Melihat itu, saya hanya bisa merinding dan menangis. Ternyata saya belum pantas jadi good-guy. Jadi saya mohon ampun pada-Nya saat itu dan minta tolong jadi good-guy. Tapi saya mendadak sudah terbangun seiring adzan shubuh.

Esok paginya, saya ceritakan mimpi itu ke Kawan A yang satu kos dengan saya. Ia hanya tertawa saja. "Elu terlalu sedih Prend, kita semuanya.." begitu katanya
Mendadak, pukul 10 pagi itu kami harus pergi bertemu calon klien potensial. Maka kami, saya, kawan A, dan kawan B pergi meninggalkan pos tanpa penjagaan, hanya seorang penjaga wartel (yang sekaligus resepsionis kami) saja yang ada.
Pulang dua jam kemudian, si penjaga wartel ini menyampaikan bahwa tadi ada teman yang berkunjung. Ingin melihat kantor, katanya. Karena ia sangat meyakinkan sebagai teman kami, maka si penjaga mempersilakan kawan ini melihat-lihat. Ketika ditanya apa mau menunggu kami pulang, si tamu ini menjawab, maaf tidak bisa, saya mau pergi jauh.
Pada titik itu, kami mulai menduga-duga..  apalagi kawan2 sudah mendengar cerita saya sebelumnya.
Kebetulan saya memiliki beberapa foto lama, tapi foto ramai2, tidak ada yang close-up.
Kami minta ia menunjuk yang mana yang datang, kalau ada di foto ini. Dengan yakin, ia menunjuk wajah almarhum.
Tiga foto yang berbeda dan ia tiga kali menunjuk dengan benar. Padahal si penjaga ini belum pernah betemu sebelumnya.

Malam itu juga kami berkumpul di rumah kawan B dan mendoakan almarhum. Kami menduga2 ada apa ya ? Baru setelah beberapa lama, kami mengambil kesimpulan bahwa entah almarhum betulan entah jin baik yang menyamar sebagai almarhum, yang jelas ia menjawab semua komentar kami pagi itu

Belum ada semenit kami menyimpulkan itu, HP Kawan B berbunyi tanpa ada caller ID. Kawan B sudah menduga bahwa ini pasti ada kaitannya maka ia merekam pembicaraan itu (secara waktu itu belon ada HP pake loudspeaker gitu loh)
Dan kami yakin sekali bahwa itu mirip sekali dengan almarhum dan ia menyapa, "Halo Broer. Gimana kabarnya ? Anak elu baik-baik aja kan ? Jangan lupa elu jaga kesehatan, ya.."
Kawan kami B ini sudah tidak bisa ngomong lagi. Hanya bisa bilang iya iya dengan terbata-bata..

Saat kami mendengarkan rekamannya, kawan D --belum saya ceritakan sebelumnya tadi-- yang paling dekat dengan almarhum langsung merebut telepon dan menelepon balik. Dua kali ia telepon caller ID yang tidak nampak itu (tapi ada jejaknya sih) tertuju pada dua nomor yang berbeda, yang pertama sebuah gudang di Jakarta Utara, dan yang kedua sebuah kantor di Jakarta Barat yang sedang lembur. Dan semuanya adalah klien kawan kami ini

Saya tidak tahu apakah ini yang disebut keajaiban Tuhan.
Saya tidak berani memastikan ini betul almarhum atau hanya Jin yang memirip2kan almarhum
Yang jelas, pesan yang ditinggalkan baik. Ia mengucapkan selamat tinggal dengan membalas semua perkataan kami kawan2 dekatnya di ambulans.

Selamat jalan, kawan
Gw kangen sama elo, Prend.. Ngga ada yang ngomelin gw lagi kalo gw males shalat di awal2 waktu..
Gw masih berusaha jadi good-guy Prend. But believe me it's soo hard.. Sebab good guy versi elo itu ngga cukup jadi orang baek, tapi juga jadi orang bener. Nah gw ini baek aja belon beres, apalagi benernyee..?!
Wish you still happy on "the garden" there and may God bless you forever, here on earth and there.. and  later..

BR, ari.ams
In memoriam of our friend AA, Aug 1973 - July 2000

Wednesday, July 16, 2008

Tentang Menyukuri Nikmat Tuhan


Ustadz kami sering mengajarkan bahwa Allah memberikan rezeki yang telah ditetapkan sebelumnya kepada kita. Itu kita percayai.
PS: Kalaupun ada yang diberi tambahan kelebihan rezeki, tentunya itu dengan seizin Allah pula.. (note: ini tambahan dari saya, bukan kata ustadz. mohon maaf kalo salah)

Oleh karena itu, bahkan dua orang sahabat yang besaran gajinya sama persis dan dengan jumlah tanggungan yang sama banyaknya, tidak selalu sama "jumlah" asap dapurnya (^^)
Dan itu yang terjadi pada seorang sahabat saya bernama si A. Tanggalan kalender baru menunjukkan angka belasan di bulan Juni,tetapi mereka, sahabat saya dan istrinya, sudah kehabisan uang sama sekali. Hanya tinggal lima ribu di kantung sahabat ini dan sepuluh ribu di kantung istrinya di rumah.

Masalahnya, akhir tanggal belas-belasan ini mereka sudah harus membayar separuh uang pangkal sepasang putri kembar mereka masuk sekolah. Sementara uang yang tadinya disiapkan untuk itu sudah terpakai untuk biaya pengobatan; mendadak seluruh anggota keluarga sakit termasuk mertua yang kebetulan datang dari luar kota, dan itu membuat tabungan mereka habis tidak bersisa.

Sahabat saya ini, tidak seperti sahabat-sahabat saya yang lain tetapi masih lebih baik dari saya, bukanlah orang yang setiap saat ke masjid beribadah (note: saya bilang begini tidak berarti sahabat saya ini ngga shalat lima waktu lhoo..). Pada saat kesulitan itu pun sebenarnya juga tidak banyak berubah juga, hanya saja beberapa kali bertemu di masjid (note: mushalla kantor ding.. saya salah..) wajahnya sedikit lain. lebih pucat dari biasanya. besok-besoknya kok malah lebih parah.. tapi sepintas lalu juga sepertinya jadi lebih pasrah.

Hari itu, ketika uang sahabat saya ini tinggal lima ribu yang saya ceritakan tadi, mereka berdua suami-istri kebingungan. Bingung, boro-boro buat bayar cicilan uang pangkal,  sedang buat belanja saja  uang mereka tinggal segitu-gitunya, yang paling  hanya cukup untuk dua hari bila dihemat. sahabat ini, bukan orang yang mudah meminjam uang (note: sebab kalaupun meminjam, kemampuan untuk mengembalikan juga terbatas tidak bisa sekaligus lunas.. ini alasannya untuk sebisa mungkin ngga pinjam uang).

Sahabat saya ini hanya bisa memohon pada Allah untuk diberikan jalan keluar sekaligus perlindungan daripada-Nya.

Malam itu, ia pulang dengan gontai. Hatinya seperti mencelos bila memikirkan hari ini uang istrinya pasti sudah habis untuk berbelanja.  Tinggal lima ribu di kantungnya. Ia harus memilih apakah untuk jaga-jaga bensin ataukah untuk makan keluarganya esok hari..
Mendadak ia teringat bahwa ia memiliki sejumlah jasa kepada beberapa orang yang belum dibayar. Tetapi ia ingat bahwa tagihannya belum jatuh tempo, jadi pastinya belum akan ia terima hari ini ataupun esok.
Ya sudahlah, waktu itu pikirnya, saya sudah berusaha sekuat tenaga, kalau ngga berhasil juga, pasti ada jalan keluar atau ada maksud-Nya dengan semua ini..

Entah mengapa, ia seperti dituntun oleh sesuatu, mendadak motornya harus menghindari sesuatu dan ia berkelit, berbelok arah ke jalan masuk sebuah bangunan dimana terdapat sebuah ATM. Berhenti pula ia mengambil napas, bersyukur bahwa ia mampu menghindari tabrakan.

Mendadak pintu ATM terbuka, seseorang baru keluar dari sana dan entah mengapa pintunya tidak menutup rapat. 
Tiba-tiba muncul pikiran sahabat saya ini untuk masuk ke ATM itu.
Sahabat ini tertawa kecil pada pikirannya sendiri karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki sejumlah uang yang cukup untuk diambil, tetapi kakinya tidak mau menuruti pikirannya.
Tahu-tahu ia sudah ada di dalam ruangan ATM dan sudah mencoba mengecek saldo.
Alangkah terkejutnya sahabat ini ketika melihat saldo banknya ada lebih dari jumlah yang ia butuhkan: untuk belanja sampai akhir bulan, untuk membayar cicilan uang pangkal putri mereka, dan bahkan masih lebih lagi..
Ia terkejut dan mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak salah lihat.
Dikeluarkan kartunya dan dimasukkannya lagi.Diceknya lagi. Angkanya sama.
Dicobanya cek mutasi beberapa transaksi terakhir, ternyata ada uang masuk seminggu yang lalu.. tentu  belum ketahuan siapa pengirimnya.
Ia coba bertanya pada C/S bank yang bertugas lewat telepon, tapi petugas di telepon tidak bisa menjawab dari siapa. 
Ia coba telepon dan sms "klien"-nya, ternyata sang klien juga belum membayar tagihannya.

Maka sahabat ini hanya bisa bersujud syukur. 
Lalu ia pulang dengan terpesona; naik motor sambil setengah oleng, antara ingin menangis bahagia dan tidak percaya serta penuh rasa syukur..

Dan itulah saat kapan saya (berhasil) menyusul dari belakang dan segera hentikan dia karena berbahaya. Dan sampailah cerita ini pada saya, dan kini pada teman-reman semua; dengan izin tentunya.
---

Kisah di atas adalah kisah nyata meski mungkin jarang dialami orang lain.
Saya aja ngga pernah mengalami meskipun ingin sekali.. :p
Ahem.. kalo ada rekan2 yang mau transfer semilyar ke saya diam-diam, jangan ya.. ntar diinterogasi petugas dikira uang suap lho.. cukuplah sepuluh atau seratus juta aja ^^  --halah!!--

Bukan soal keajaibannya yang ingin saya ceritakan.
Ini adalah kesimpulan sahabat tadi: 
Allah mungkin menggunakan ujian atau cobaan (note: atau musibah. ini tambahan saya, lagi2 karena perbedaannya suka terlalu tipis heheh) supaya kita manusia ingat pada-Nya..
Di sisi lain, setelah mengalami cobaan, maka anugerah sekecil apapun, yang dalam keadaan normal mungkin tidak terasa,  jadi begitu fenomenal.. Hati ini, seolah berebut antara menyebut AlhamduliLlah dan Allahu Akbar..

Iya juga kali ya.. 
 
PS: saat ini sih udah ketahuan itu uang dari siapa, dan uang itu memang halal untuk sahabat ini..  atas suatu jasa yang pernah diberikannya yang ia sendiri malah sudah lupa.. sebab kejadiannya sudah lama sekali.
jadi ingat pepatah ini: "Tuhan menjadikan segala sesuatu itu indah pada waktunya" (..ataukah "pada waktu-Nya" ? saya ngga jelas juga..)
V(^.^)V