Showing posts with label sinaumaning. Show all posts
Showing posts with label sinaumaning. Show all posts

Sunday, January 12, 2014

Mendadak Alim: Put ALLAH First

Pendahuluan 

- Ini asli tulisan mendadak alim. Nakarena aslinya emang bukan orang alim, jadi kalo ternyata banyak yang salah, ya tolong bantu diluruskan; Istilah jaman yahoogroups, teh: CMIIW
- Tulisan ini juga menggunakan Bahasa Indonesia KW 4 Bahasa Indonesia tidak baku,  jadi mohon maaf kalo bahasanya rada-rada gimanaaa gitu *menjura*



Mulai
Saya sering mendengar orang-orang alim (maksud ane "alim" benaran, yah) bicara soal Put ALLAH First ini, kurleb kalimatnya: "perbaiki agamamu maka Allah akan memperbaiki duniamu". 
<-- baca.="" bahasa="" beda="" dengan="" di="" diterjemahkan="" haditsnya="" hr="" i="" indonesia="" ini="" kalimat="" kalimatnya="" kalo="" ke="" ketemu="" kurleb="" lupa="" maksud="" mana="" nyari="" sama="" saya="" seperti="" tapi="" tirmidzi="" yang=""> letterlijk
agak beda pengertiannya.  Nadaripada nanti malah bisa diplesetin kemana-mana (sama orang nekat) jadi mending ngga saya tulis

Dan saya yakin ini bukan kebetulan, sejak jaman saya kecil, saya sering mengutip ayat alkitab tentang ini. Tepatnya Matius 6:33
<-- a="" akan="" bermaksud="" berupa="" dari="" facebook-nya="" gambar="" hanya="" href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152106303943555&set=a.10150300456638555.357315.738403554&type=1&theater&notif_t=comment_mention" jauh="" lebih="" mas="" mengatakan="" menyinggung="" ngga="" renungan="" saya="" share="" tapi="" yang="">Satriyo Boediwardoyo
  yang saya attach (atau embed? tapi maksud saya ya gambar yang itu kok) itu. insyaa Allah universal sifatnya..

AFAIK, kebanyakan orang, termasuk saya (ngaku duluan deh daripada di-bully), biasanya mencari hal-hal lain (seperti rejeki, cita-cita tertentu, jodoh, jodoh, jodoh lagi..  #ups #apasih? #ngelanturdeh) baru kemudian menghadap TUHAN. Itu pun, biasanya meminta supaya usaha kita mencari hal-hal lain tadi itu dikabulkan.

Dari satu sisi, mengenai usaha dan tawakal, mungkin SOP nya begitu: usaha dulu, baru pasrah sama ALLAH apapun yang IA tetapkan sebagai hasilnya.
Tetapi dari sisi fokus, rupanya aturan mainnya ngga begitu..

Kalo kita belajar hadits, biasanya hadits pertama yang diajarkan adalah ini: Innama a'malu binniyyaat <-- amal="" br="" itu="" niatnya.="" perbuatan="" segala="" sesuatu="" tergantung="">
Lanjutan kalimatnya kurleb gini: kalo niat hijrah karena Allah dapatnya Allah, kalo niat karena harta/wanita ya dapatnya itu, tapi entar di hari akhir ngga dapat apa-apa
<-- apanya="" ini="" kali="" kan="" lah="" nah="" nbsp="" ngeri="" p="">

Jadi segala sesuatu niatnya liLlahi ta'ala, bukan "untuk aku", "sebab aku".. apalagi "karena aku".

Lah bukannya sama-sama aja ?
Hmm.. setelah saya perhatikan sih beda, Temans
Itu tampak di bagian yang di gambar itu dibilang "forget everything"
You know laaah...
Njenengan kan lebih pinter dari saya..
Lah saya ini kalo ngga disindir Mas Satriyo apa eling ? Nggak. Pasti udah bablas entah ke mana tauk

Ini jadi -apa ya?- semacam #notetomyself lah, sepertinya kebanyakan ngejar sesuatu dunia, malah ancur2an.
Beneran.
ALLAH itu seperti sedang bikin saya mikir: "Tuh, Ri.. Kalo niat elo kurang bagus, mo usaha kayak gimana juga, ngga beres kan jadinya ?"

Kalo ini kira2 temen yang ngomong, pasti temen itu udah nambahin ngomong gini: Elu kagak percayaan banget sih ma gw.. Udah deh, rencana gw itu bagus buar elo. Ikutin aja daah, kagak bakal dah elo nyesel..
< eini kalo temen yang ngomong, loh yaa..

Naah toyoran terakhir yang bikin "Jebret Pisan" ya sharing dari Mas Satriyo ini..
(PS: JazaakumuLlaah khayran katsiyran, ya Mas.. dan kepada siapapun yg sebelum2nya)

Jadi.. Jangan kayak saya yah, Temans
Kalo sedodol saya ini, masih harus
1) perbaiki/lurusin niat,
2) percaya rencana ALLAH itu pasti (lebih) indah (daripada rencana saya)

ALLAH lebih dulu < ini simpulan saya setelah merenungkan gambar itu, ngga ngutip siapa2 > baru kita berusaha sekuatnya, dan kembali tawakal pada ALLAH akan hasilnya ^ ^

Demikian simpulan orang awam yang mendadak alim seperti saya.
Bila benar, AlhamduliLlaah, semoga bermanfaat. Jika ada yang salah, itu karena emang saya-nya yang dodol, mohon maaf dan tolong saya dibantu betulkan :D

Mari Jumatan ^ ^

Friday, June 7, 2013

Menilai Manusia


Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Sarira Saka Busana

Manusia Dihargai Karena Lidahnya, Manusia Dihargai Karena "Busana"-nya

Jujurly, tulisan ini sebenere idenya gegara tadi shubuh itu ada yang share link kaskus, ulasan twitwar-nya seorang tante doktor dengan seorang sutradara. Sebelumnya tante itu dengan seorang musisi. Baca-baca ke belakang, saya kok jadi merasa manusia gampang sekali menilai manusia lain jelek, ya ? 


Tulisan ini jelas tidak dimaksudkan untuk mengekor berantem yang diatas.

Mari kita kembali ke pepatah jawa jaman WaliSanga tadi:

Ajining diri saka lathi, ajining sarira saka busana.
Manusia dihargai karena lidahnya, manusia dihargai karena "busana"-nya.


Bener banget, kan?

Gegara lidah ( dan sekarang juga jempol tentunyah ) seseorang bisa dinilai..
Dan gegara cara penampilan, orang juga bisa dinilai..

Nah, yang sering jadi masalah itu.. bila lantas orang dinilai HANYA berdasar penampakan penampilan, dan/atau dari sisi perlente, dan/atau  dari sisi gelar, dan/atau  dari sisi kepemilikan. Padahal saya yakin pengertiannya tidak mementingkan citra penampilan seperti itu.

Kebetulan, kedua kakek saya ( yang satu muslim yang satu katolik ) pernah menasihati hal serupa. Yang saya ingat, kurang lebih begini: titik masalahnya bukan soal apa/bagaimana busananya, tapi cara berbusana-nya. Pun busana dalam pepatah ini tidak terbatas pada pakaian dari kain, tetapi juga mencakup "pakaian", yakni berupa agama. 

Agama dalam pengertian ini bukan apa yang tercantum di KTP, melainkan nilai2 yang mengatur sendi2 kehidupan manusia. Dan oleh karena itu, agama sering disebut sebagai ageming ati. 

Pengertian ageming ati-nya yang dimaksud tidak berarti menyamakan semua agama --> Soal ini kembali ke masing-masing. Saya muslim, pastinya akan bilang islam yang paling cocok buat saya.. Tetapi adik saya katolik, pasti akan bilang katolik yang paling cocok buat dia. --> melainkan, kalo sudah memiliki agama tertentu, pakailah sebaik2nya sebagai pakaian hati dan jiwa
<-- Ini, katanya, adalah bagaimana orang jawa memandang agama.
Etapi gak tau juga kalo jawa hari gini, loh.. Saya ngga punya kompetensi menebak apalagi menjawabnya: lha wong saya ini jawa ngga jelas, jeh :p  

Berkenaan dengan contoh ageming ati, contoh yang diucapkan kedua kakek saya kebetulan juga sama: Apa gunanya kamu beragama kalo masih menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu ? 
--> dan karena itulah kita #eh saya ding, membedakan antara ajaran agama dengan kelakuan umatnya. 

Beberapa tulisan di bawah ini, meski agak beda penyampaiannya, kesimpulan akhirnya sepertinya mirip2 dengan apa yang saya yakini


1) Membumikan Langit: Ajining Diri Soko Lathi
2) Dongeng Ala "Simbah": 
Ajining Diri Jalaran Soko Lathi 
3) kalo yang ini sih tambahan saja: Suara Merdeka: Makna Tembang Ilir-ilir

Kutipan favorit saya, sekaligus penutup tulisan ini adalah:
Jadi ketika pakaian kita sudah baik..maka harus kita dukung dengan tingkah laku dan tindakan yang baik pula agar wibawa dan kehormatan diri kita terjaga dan orang pasti akan mesem kesengsem untuk menghormati kepribadian kita...
Itu. dari sisi kitanya sebagai "pelaku"
Tentunya  kita sebagai "penilai" juga diharap bijak menilai orang lain, tidak terjebak hanya gegara soal penampilan dan/atau atribut yang melekat pada diri seseorang..


Bukan begitu ?

Thursday, May 16, 2013

Trust



SAAT SESEORANG MEMUTUSKAN untuk menikah dengan seseorang, yang terjadi sebetulnya masing2 percaya atau mempunyai keyakinan yang memadai --jiah, bahasa auditor keluar--  bahwa pasangannya itu dapat diandalkan atau yang terbaik 
PS: kriterianya bisa beda antara satu orang dengan yang lain.. 


Menikahkan usaha dan atau berusaha bersama-sama, ternyata juga membutuhkan hal yang sama. Usaha ngga akan berjalan lancar, bila pengusahanya satu sama lain tidak punya kepercayaan.

Namun begitu, asal percaya, ternyata juga tidak cukup untuk dunia usaha.
Teman lama dan atau saling mengenal di luar usaha, bahkan yang biasa ledek2an atau curcol2an, atau bahkan terikat hubungan saudara atau suami-istri, ternyata itu juga masih belum cukup..

Hmm.. tetapi itu nanti di kajian lain, ane sendiri belum selesai diajarinnya :D


Bagaimana agar tumbuh kepercayaan di dalam dunia usaha itu, sudah banyak teori/tulisan yang membahasnya. Saya cuma share definisi "Trust" menurut Merriam-Webster Dictionary aja di marih <-- sok atuh di klik, heula 

Friday, April 12, 2013

Tenang

Khutbah Jumat hari ini di masjid di lingkungan dernaga 2 dan 3 Dok Kodja Bahari bicara mengenai hubungan manusia dengan TUHAN-nya

Sedikit kutipan mengenainya:

"Di hari akhir, manusia ditanyai pertama kali adalah shalat-nya. Jika shalat-nya baik, maka insyaa Allah baik pula seluruh amalnya. 
Tetapi ada sedikit masalah di sini, saudara-saudara.. Yakinkah kita bahwa shalat kita itu sudah baik di mata Allah SWT ? Ingat, ada hadits mengenai orang yang 60 tahun ditolak shalatnya..60 tahun shalatnya sia-sia, saudara-saudara.. Dan itu karena... ? 
Menurut hadits tersebut, itu karena "ia menyempurnakan rukuk-nya tetapi tidak menyempurnakan sujud-nya, dan ia menyempurnakan sujud-nya tetapi tidak menyempurnakan rukuk-nya".  
Itulah sebabnya kita diminta shalat dengan thuma'ninah.."

Adapun hadits yang dimaksud adalah
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً وَمَا تُقْبَلُ لَهُ صَلاَةٌ وَلَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلاَ يُتِمُّ السُّجُودَ وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلاَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ
“Sesungguhnya (ada) seseorang sholat selama enam puluh tahun, namun tidak ada satu sholat pun yang diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, namun tidak menyempurnakan ruku’nya.” [Hadits hasan riwayat al-Ashbahani dalam at-Targhib, lihat ash-Shohihah no. 2535]

kutipan di atas ini, saya copas tanpa ijin (mudah2an diikhlaskan) dari sini

Jujur saya terpana mendengarnya. Alangkah rugi dan sialnya kawan itu.. Mungkin dia merasa sudah menunaikan kewajibannya, mungkin pula ada harapan-harapan yang ia inginkan dalam doa-doa shalatnya.. tapi selama sekian lama boro2 diterima, dilirik pun tidak.

Saya ? 
jangan-jangan saya sendiri begitu ?
NaudzubiLlaahimindzalik ! Jangan sampe deh begitu :(



Omong-omong, jangan-jangan kita yang tinggal di Indonesia ini ngga suka ngecek bener enggak shalatnya ya ?

Coba deh, kalo tarawih yang dicari yang bacaan dan "senam"-nya paling cepet.
Coba lihat lagi deh, di Indonesia boleh dibilang muslimnya terbesar di dunia, dari 10 orang yang kita lihat, kemungkinan besar 8-nya muslim. Tapi lihat lagi Indonesia: korupsinya paling tinggi, lalu lintasnya paling semrawut, pembangunan negerinya berantakan sampe soal menjamin kestabilan harga aja bubar.. geng-geng-an di masyarakatnya paling banyak, termasuk geng atas nama agama, dan semuanya mengaku paling betul paling suci sedang yang lain sesat !
Jangan-jangan semua kita, saya dan Anda (bila Anda muslim tentunya), ngga ada satu pun yang shalatnya diterima..


NaudzubiLlaahimindzalik ! 
AstaghfiruLlaahaladziymi..
---

back to khutbah jumat :D

Habis itu dibicarakan tentang apa dan bagaimana thuma'ninah itu.. Lalu kemudian shalat yang thuma'ninah itu dipraktikkan bersama-sama saat shalatnya

Pengin tahu seperti apa thuma'ninah dalam shalat itu ? Coba deh klik ke mari

Semoga bermanfaat :D
gambar diambil dari http://riangold.files.wordpress.com/2011/02/sholat1.jpg?w=289

Monday, April 1, 2013

Belajar Ikhlas dari Warung Sebelah



Hari itu, di bulan Juni 2012, kami ada perjalanan cek fisik dari Dili ke Maliana. Perjalanannya makan waktu 4 jam sekali jalan. Setelah perjalanan panjang pulang dari Maliana di Bobonaro, kami tiba kembali di Dili pukul 21:20 waktu setempat.

Dili itu, jangan dibandingkan dengan Batam apalagi Jakarta. Sama Pangkalpinang atau Kendari aja mungkin masih kalah, kok. Jam 9 itu, jalan utama Dili udah sepiiiiiiii banget, mobil lewat bisa dihitung dengan jari. toko2 nyaris semuanya sudah pada tutup.
Situasi ini memang bikin bingung karena kami belum ada yang makan malam :(
Pilihan akhirnya (lagi lagi) jatuh ke Eastern, yang paling dekat hotel, oleh karena itu sering betul kami makan di situ.  Eastern itu, judulnya sih resto burger, tapi isinya selain burger juga jualan chinese food. Dan yang paling penting itu.. harganya murah (untuk ukuran Dili) dan rata-rata sama untuk setiap paketnya..
Naah kali ini saya memilih menu..
#halah !!
::kok ngomongin makanan, sih !? bukan ituu.....!

Menjelang jam 10,  kami melihat anak yang punya toko merangkap kasir, keluar membawa 4 kotak burger. Saya perhatikan ia membagikannya kepada 4 anak kecil penjaja pulsa Timor Telecom yang masih menunggu pelanggan ( khususnya setap-setapnya PBB dan tentara/polisi Australia yang rata2 pada tinggal di hotel2 sekitar sini).
::setap ! Jadi inget para "junior asisten setap"-nya tax-inaer nih :p

Kami goda dia ( aslinya sih sok-sokan pake english ) : "Kenapa ngga dituker pulsa aja, Ce?" 

Dia cuma ketawa aja dan menjawab ( naah.. "cara" menjawab nya ini bikin ketohok yang pertama. Dia jawab dengan bahasa indonesia meskipun patah2  berlogat campuran chinese dan bagian tertentu di Indonesia ) : "Itu kan burger dan kentang yang tidak  laku.. Kalau disimpan, besok juga basi.. Bagus dikasih orang biar ada manfaat. Lagipula semua kebaikan pasti kembali ke kita lagi kok, kadang2 berlipat ganda.." 
( ini lagi.. denger "isi" jawaban itu jadi ketohok yang kedua kali :p )

Saya jadi mikir: kalo saya jadi dia, belum tentu saya bersedekah dengan ikhlas seperti itu lho.. 

Tapi oke deh.  Dari sisi matematika sedekah yang selama ini saya diajari, sedekah kita akan kembali berlipat-lipat ganda.. Bisa jadi karena itulah rejeki si Eastern lancar. Sepertinya, nyaris tiap kali ke sana, meja kosong cuma ada satu dua saja..

Yang paling bikin saya merasa tertohok itu sebetulnya ini: dia ini sedekah ikhlas tanpa beban loh.. Bukan karena tahu, bukan pula karena mengharap balasan yang berlipat ganda..

Nah.. Kalo saya dan Anda, gimana ?  
#ehsalah
::saya aja, ding..
...


repost dengan sedikit editan info tambahan dari FB Notes tanggal 15 Juni 2012
https://www.facebook.com/notes/ari-ams/belajar-ikhlas-dari-warung-sebelah/10150904991552663

Saturday, February 23, 2013

Lagi Sok Mikir


Tengah malam gini, suka mikirin apa apa yang dilakukan hari ini.
Kadang2 suka keterusan sampe soal kemarinnya..
Dan kadang2 soal kemarinnya kemarin..

Seringnya suka lucu sih melihat masalah yang (saat itu) tampak besar dan atau urgent, ternyata kalo sekarang dipikirnya, ternyata bukan masalah yang cukup berarti atau bisa diselesaikan dengan mudah kalau pakai cara lain.  Sebaliknya, kadang melihat sebuah permasalah yang (saat itu) tampaknya sepele, e ternyata kalo sekarang diliat-liat lagi sebetulnya efek/akibatnya penting banget sekarang/saat ini.
+ lucu juga, nggak ?
- enggak lucu, pastinya :p

Sempat beberapa kali juga mengalami perkara sepele seperti salah pengertian, yang sebetulnya bisa di-clear-kan dengan mudah, jadi panjang hanya gara2 kita sedang banyak pikiran alias ngga bisa mikir panjang dan jadinya langsung erosi emosi...   Dan gara2 cimory emosi beginian, saya nyaris menghancurkan hubungan dengan kawan lama masa kecil (e sampe gede, ding) yang 11-12 tahun kepisah dan baru ketemu lagi sekarang
<-- oh iyes, ini kejadiannya udah beberapa minggu yang lalu.. pan ini contoh, ngga harus apdet kek infotenmen dong ? *tuwing tuwing* :p

Jadi mikir-mikir deh: Tenang dan Pengendalian Diri itu penting sekali.
Tiap orang (teorinya) bisa, kok.. karena tenang itu suasana, sedang pengendalian diri juga bukan ilmu silat yang belajarnya susah.. Ini tinggal bagaimana membangunnya dan atau mengkondisikannya saja.

Jadi inget jaman dulu pernah latihan silat pernapasan. Intinya sih dengan berlatih, kita jadi "menguasai" tubuh kita sendiri, maka jadi PD dan tenang karena full control atas bodi kita.  Habis itu, latihan tahap selanjutnya, sama si pelatih kita disambitin pake arang yang masih nyala membara dan atau pake korek api.
Dalam keadaan PD dan (jadinya) tenang, sepertinya arang membara itu bergeraknya perlahaan banget kayak slow motion film silat jaman dulu.. Kita cukup bergerak seperlunya aja maka.. bye bye arang membara ^ ^

Oh, oke deh.. kalo itu pake latihan.

Yang ngga pake latihan juga ada kok.
Saya pernah ngebut karena ngejar jam siaran di Kendari. Di depan Masjid Agung Kendari, mendadak ada becak dari kiri jalan mendadak melakukan gerakan langkah tegap belok ke kanan maju jalan,  sementara saya yang ambil satu jalur di sebelah kanan dia sudah terlalu dekat untuk merem atau menghindar.. Sudah dapat ditebak, saya menghantam becak itu dan tubuh saya terlontar jauh sampe 5-6 meteran melintasi jalanan sisi kanan (yang untungnya kosong) kayak angry bird; kemudian jatuh dengan kepala lebih dulu, terseret seret sampai masuk selokan di ujung jalan sebelah sana.
PS: becaknya bergeming pun tidak. Asli nggak adil! Huehueheu :p

Entah kenapa saat itu saya tenaaang sekali. Jadi perasaan saya saat "terbang" itu saya sadar loh saya sedang terlontar; dan masih bisa mikir begini: "Oh, gini toh rasanya jadi superman. Asik juga.." baru kemudian jatuh dengan kepala dulu <-- don wori, stuntman-nya aman kok, kan pake helm cakil :D

Trus ini cerita maksudnya apa ?

Maksudnya, bahkan dalam situasi kayak begitu, kalo pikiran/jiwa sedang tenang.. ya bagaimanapun tetap aja kita tenang. Itu kan soal kondisi yang terciptakan dengan menjaga kondisinya.
Artinya, kalo kita mau, kita sendiri bisa membuat kita tetap tenang dalam keadaan bagaimanapun.
Ketika tenang itu sudah ada, mau ada aksi apapun. reaksi kita tetap akan terkendali dan insyaa Allah kita bisa menghindari konflik yang tidak perlu.

Coba deh.

Terserah mana yang lebih mudah. Pake latihan (silakan tanya sama yang ahlinya), atau mengkondisikan diri aja. Semoga setelah itu bisa kita lakukan, kalo kebetulan lagi iseng kayak saya gini mikir2in yang tadi atau kemaren atau kemarennya lagi, tindakan yang kita sesali atau ngga pas itu bisa kita minimalkan, syukur-syukur ngga perlu terjadi.

Mohon maaf kalo kepanjangan. Ini nulisnya sambil ngantuk. Isi pikiran juga udah ngelayang-layang entah kemana..
PS: ngga pake daun khat kok. ciyus.. :p

Semoga bermanfaat.
Kalo enggak, mohon maap ya? :D

Saturday, February 9, 2013

Harapan, Rencana, dan Realisasi


Setiap orang punya harapan untuk hidupnya sendiri di masa yang akan datang ( apakah di dunia maupun di akhirat, semua pasti punya ). Kalau harapan itu tidak dijabarkan ke dalam sebuah rencana aktivitas, tentu sulit harapan itu dapat direalisasikan (meski bukannya tidak mungkin ).

Yang jadi masalah buat saya adalah seberapa kuat harapan itu berpengaruh pada hidup kita. Harapan haruslah cukup kuat untuk memberi semangat kita merealisasikannya; tapi pengalaman saya beberapa minggu ini juga menunjukkan bahwa harapan itu tidak boleh terlalu kuat sehingga menguasai hidup kita.

Kok gitu ? ya soalnya antara terlalu semangat dan obesitas obsesi itu bedanya tipis banget :p

Salah satu masalah ketika obsesi itu hadir adalah ketiadaan akal sehat, dan kadang2 over positive thinking (!!) sehingga setiap perubahan rencana adalah kejahatan --> ujung2nya malah negative thinking.
Dan orang seperti saya, juga tidak luput dari kesalahan semacam ini. Emosi pun muncul, seolah2 rencana keberhasilan itu pasti.. padahal berdasarkan pengalaman, tidak mungkin semua terlalu smooth :D

Ambil contoh: ketika profit margin dalam realisasi cuma segini padahal direncanakan segitu, saya merasa sangat kecewa.. atau ketika rekan usaha ada halangan yang cukup membuatnya kesulitan untuk bergerak seirama seiringan, saya merasa dikhianati <-- eini contoh lho Ya, ngga bermaksud beneran gini.. sorii :p

Padahal kalau kita memilih diam sejenak, maka semua negative thoughts itu bisa diredam dan mulai melakukan Plan B ( dan kalo masih gagal juga masih ada 24 huruf lagi :)

So waspadalah..
1. Jagalah agar kita yang menjadi Tuan atas harapan atau tindakan kita sendiri
2. Masalah apapun yang datang seharusnya belum jadi masalah. Reaksi kita atas masalah itu yang akan menentukan apakah terselesaikan atau justru kian membesar.

Saturday, October 4, 2008

RI Harus Mengantisipasi Krisis


original article: http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/04/07051644/ri.harus.mengantisipasi.krisis
/Home/Bisnis & Keuangan/Ekonomi
RI Harus Mengantisipasi Krisis
Presiden AS George W. Bush saat menyampaikan paket penyelamatan ekonomi pemerintahnya di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, Washington, DC, 30 September 2008.
Sabtu, 4 Oktober 2008 | 07:05 WIB

JAKARTA, SABTU - Banyak negara sudah berbicara soal cara mengantisipasi dampak buruk krisis ekonomi di AS di negara masing-masing. RI juga diharapkan melakukan hal serupa ketimbang terlambat dan kemudian terjerembab pada masalah lebih dalam.

Bicara soal antisipasi, kepada Kompas, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menekankan pentingnya mempercepat reformasi ekonomi. Hal ini terasa abstrak, klasik, dan membosankan. Akan tetapi, reformasi itu mendesak untuk dilakukan, seperti percepatan perbaikan iklim investasi, perbaikan sarana dan prasarana, serta percepatan pengadaan listrik, yang menjadi keluhan umum investor.

Jika hal ini dilakukan, arus dana yang mengering dari bursa saham dan bursa uang bisa dikompensasikan dengan arus masuk uang dari penanaman modal asing langsung.

Mari Pangestu mengatakan, ini adalah hal yang harus dilakukan jika krisis keuangan di AS berlangsung lebih lama. Sejauh ini, kata Mari Pangestu, ekspor Indonesia masih meningkat pesat ke Asia Timur juga AS dan Eropa. Sejauh ini tampaknya tak ada masalah. Namun, jika krisis ekonomi di AS berlangsung lebih lama, ekspor Indonesia ke Asia Timur juga bisa terpengaruh alias berdampak negatif. Masalahnya ekonomi di Asia Timur, yang menjadi landasan utama ekspor RI, juga bergantung pada keadaan ekonomi Eropa dan AS.

Melihat kecenderungan pelemahan ekonomi di AS, yang sudah merembet ke Perancis, jelas Indonesia harus serius melakukan antisipasi dini. Analisis IMF menunjukkan, ada 113 krisis keuangan (termasuk krisis perbankan) di 17 negara industri dalam 30 tahun terakhir. Hanya setengah dari krisis itu yang memicu resesi. Namun, krisis di AS diperburuk dengan krisis perbankan. Merujuk pada analisis IMF, dampak buruk dari krisis perbankan dua atau tiga kali lebih besar karena bisa membuat aliran dana tersendat, dan membuat sumber permodalan mengering. ”Besaran krisis keuangan di AS sangat krusial,” kata Subir Lall, Wakil Ketua Divisi Riset IMF. Ia mengatakan, besar potensi penurunan ekonomi AS akibat krisis sektor perbankan, termasuk bank investasi.

Rencana darurat

Di Seoul, Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak meminta teknokrat ekonomi menyiapkan rencana darurat mengantisipasi skenario terburuk dari krisis keuangan AS. Presiden Lee meminta otoritas menjamin kebutuhan dana-dana yang diperlukan perusahaan lokal, termasuk kebutuhan akan dollar AS.

Presiden Lee juga sudah mengusulkan koordinasi dengan para menteri keuangan China dan Jepang untuk merespons pada potensi krisis. ”Semua birokrat harus memberi respons tanpa mengeluh dan harus menyusun rencana darurat,” kata Presiden Lee. Hal ini dinyatakan karena investor asing sudah mulai menarik dana dari Korea Selatan dan menyebabkan sumber permodalan bagi bisnis menyurut.

Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo juga mengatakan, memantau secara saksama perkembangan krisis. ”Masalahnya tidak ada negara yang akan lepas dari dampak krisis,” kata Presiden Arroyo.

Federasi Industri Thailand (FTI) juga mengadakan pertemuan dengan Menkeu Thailand Suchart Thada-Thamrongvech, Jumat (2/10). Dalam pertemuan itu, Presiden FTI Santi Vilassakdanont mengatakan, krisis di AS telah menyebabkan produk ekspor Thailand melemah akibat penurunan pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor. FTI mengajukan delapan langkah yang penting dilakukan, seperti penurunan bea masuk impor, peningkatan keyakinan konsumen, dan penurunan pajak korporasi. FTI meminta otoritas moneter mengawasi produk-produk investasi asing yang beracun (toxic)

Jangan puas diri

Hal serupa juga dikatakan ekonom Dr Rizal Ramli. ”Kita selama ini seperti merasa puas diri dan mendaulat sukses ekonomi karena terjadi kenaikan harga komoditas ekspor. Rasa bangga itu kini gugur karena harga-harga komoditas sudah anjlok. Pernyataan bahwa ekonomi makro baik- baik saja seharusnya ditelaah kembali,” kata Rizal.

Rizal menyarankan, bangunlah ekonomi Indonesia dengan mengembangkan atau mendorong produktivitas dan ini adalah hal urgen. Faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi, lagi-lagi kembali pada desakan soal perbaikan pelayanan birokrasi, penghapusan pungutan- pungutan, red tape, dan lainnya. ”Ini tidak saja berguna untuk mendatangkan investasi asing, tetapi juga merangsang aktivitas ekonomi domestik. Ini terkesan naif, tetapi jika dilakukan secara saksama dan berkesinambungan, ekonomi Indonesia akan memiliki pijakan kuat,” katanya.

Rizal Ramli mengatakan, China telah menunjukkan hal itu, yakni dengan memperbaiki pelayanan pada investor yang meningkatkan produktivitas dan ekspor. Dari hasil ekspor, China memiliki cadangan devisa lebih dari 1,5 triliun dollar AS, tertinggi di dunia. Hal ini membuat ekonomi China menjadi salah satu yang paling solid di dunia dan Pemerintah China bisa memiliki kas yang mencukupi untuk memompa perekonomian jika krisis di AS memberi dampak negatif.

Sisi moneter

Antisipasi dari sektor moneter juga harus dilakukan. Ekonom A Tony Prasetiantono menyarankan agar BI tetap mempertahankan suku bunga inti (BI Rate). Masalahnya, jika BI menaikkan suku bunga, hal ini akan mengetatkan peredaran uang, yang justru tidak pas pada saat pasar modal sedang ketat. Jika BI menurunkan suku bunga, inflasi akan menjadi ancaman dari sisi lain. Sebaiknya BI tidak perlu melakukan intervensi atau tidak perlu mengubah suku bunga dan cukup dengan mempertahankan BI Rate pada level 9,25 persen.

Pengamat pasar modal, Januar Rizky, kembali mengkritik otoritas Indonesia yang terkesan menganggap sepele krisis keuangan AS, yang sudah mengorbankan Indonesia, berupa kerugian yang dialami warga kaya Indonesia yang membeli produk-produk Investasi asing.

Januar meminta otoritas tidak lengah. Masalahnya, kerugian yang dialami korporasi AS juga membuat mereka mencoba mencari celah, dengan bermain di bursa saham dan di pasar uang di negara berkembang. Celah itu harus disumbat.

”Jika tidak, secara perlahan dana RI akan tersedot lewat permainan di bursa, dari naik turunnya indeks di bursa saham dan kurs rupiah,” kata Januar, yang meminta investor awam absen dulu dari bursa.



Sumber : Kompas Cetak

WW" Krismon 1997 dan Wall Street Crash 2008: kita gimana?

original articlehttp://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=947

Krismon 1997 dan Wall Street Crash 2008: kita gimana?

Perspektif Online
22 September 2008

oleh: Wimar Witoelar

Apakah bisa dibandingkan, dua peristiwa ambruknya dunia keuangan ini? Dari segi akibat, krismon 97 di kita mengakibatkan hancurnya bank dan konglomerat, dipecatnya Gubernur Bank Indonesia dan akhirnya kejatuhan rezim Suharto disertai peristiwa berdarah tragedi Mei dan peristiwa Trisakti dan Semanggi I dan II. Wall Street Crash 2008 tidak disusul huru-huru fisik, tapi sangat jauh lebih besar dalam ukuran uang.

Krismon 97 ditandai oleh paket bantuan IMF sebesar US$ 23 Billion (Milyar). Wall Street Crash 2008 sedang diusahakan penanggulangannya dengan paket bantuan pemerintah Amerika Serikat sebesar US$ 700B, yang mungkin menggelembung menjadi US$ 1,300B yaitu US$ 1.3 Trillion, atau lebih dari sepuluh kali APBN Indonesia! Dilihat dari asal usulnya, ada persamaan dan tentunya banyak perbedaan.

Krismon 1997 di Indonesia adalah bagian dari krisis finansial yang melanda beberapa negara Asia mulai Juli 1997. Mulainya di Thailand dengan jatuhnya mata uang Thai Baht setelah Baht dilepaskan dari “peg” dengan US Dollar setelah melemahnya Baht akibat menggelembungnya hutang luar negeri, sebagian besar sebagai akibat spekulasi real estate. Orang membangun gila-gilaan menggunakan uang hutang yang tidak bisa dibayar kembali. Melemahnya Thai Baht secara mendadak menular pada melemahnya mata uang lain di wilayah ini dan krisis melanda Thailand, Korea Selatan dan Indonesia. Hong Kong, Malaysia, Laos dan Filipina juga “kena”.

Thailand dan Korea Selatan bisa pulih dalam waktu singkat karena ekspor mereka cukup kuat untuk melayani hutang luar negeri. Tapi walaupun kebijaksanaan fiskal negara-negara Asia cukup baik, IMF meluncurkan program bantuan US$ 40B untuk memperkuat mata uang tiga negara itu agar tidak menyebar.

Tapi di Indonesia, hutang kepada IMF yang tidak bisa dibayar oleh penghasilan nasional membuat ekonomi kita makin masuk krisis. Akhirnya efek sampingnya menyebar sampai Presiden Suharto terpaksa mundur akibat kehilangan kendali akibat devaluasi Rupiah.

Krisis Moneter 1997 di Indonesia

michel.jpg

Direktur IMF Michel Camdessus dan Presiden Suharto

Pada waktu krisis melanda Thailand, keadaan Indonesia masih baik. Inflasi rendah, ekspor masih surplus sebesar US$ 900 juta dan cadangan devisa masih besar, lebih dari US$ 20 B. Tapi banyak perusahaan besar menggunakan hutang dalam US Dollar. Ini merupakan cara yang menguntungkan ketika Rupiah masih kuat. Hutang dan bunga tidak jadi masalah karena diimbangi kekuatan penghasilan Rupiah.

Tapi begitu Thailand melepaskan kaitan Baht pada US Dollar di bulan Juli 1997, Rupiah kena serangan bertubi-tubi, dijual untuk membeli US Dollar yang menjadi murah. Waktu Indonesia melepaskan Rupiah dari US Dollar, serangan meningkat makin menjatuhkan nilai Rupiah. IMF maju dengan paket bantuan US$ 20B, tapi Rupiah jatuh terus dengan kekuatiran akan hutang perusahaan, pelepasan Rupiah besar-besaran. Bursa Efek Jakarta juga jatuh. Dalam setengah tahun, Rupiah jatuh dari 2,000 dampai 18,000 per US Dollar.

paulson.jpg

Menteri Keuangan AS, Gubernur Bank Sentral dan pimpinan Kongres

Ceritera yang sama terjadi di Amerika Serikat dengan meningkatnya cita-cita memiliki rumah bagi semua dengan menggunakan hutang. Pemerintah menawarkan kredit murah dan mudah dengan sumber lembaga keuangan perumahan Fannie Mae dan Freddie Mac, yang dananya disalurkan pada pembeli rumah baik secara langsung maupun melalui bank.

Pernah ketemu orang bank atau kartu kredit yang menawarkan pinjaman dengan bersemangat? Begitulah Fannie Mae dan Freddie Mac menawarkan kredit perumahan secara agresif, sering kepada orang yang sebetulnya tidak mampu membayar pelunasannya. Bagi lembaga keuangan, meminjamkan keuangan memang pekerjaannya. Tanpa kendali dari pimpinan perusahaan dan pemerintah, tidak lama kemudian kelihatan uang yang dipinjamkan dalam bentuk KPR itu tidak akan kembali, macet.

Dengan banyaknya uang pembangunan rumah di pasar, harga rumah menggelembung keluar jangkauan peminjam uang. Satu persatu pinjaman menjadi kredit macet, sampai akhirnya Fannie Mae dan Freddy Mac harus diambil alih pemerintah.

Problemnya tidak berhenti disini. Kredit macet selalu menular, seperti juga kemacetan lalulintas. Penyitaan asset rumah mencapai rekor. Pinjaman rumah dipaketkan dalam instrumen keuangan yang diperdagangkan di bursa yang dikenal secara populer sebagai Wall Street, maka nilai sekuritas di Wall Street jatuh dengan hilangnya ‘investor confidence’.

Korban berjatuhan, antara lain Lehman Brothers yand merupakan pedagang sekuritas besar dan AIG, perusahaan asuransi terbesar di Amerika Serikat. Melihat ini, Menteri Keuangan AS Henry M. Paulson dengan terpaksa mengumumkan bahwa pemerintah AS akan membeli perusahaan yang macet dan mengelola kredit macet, mirip dengan yang dilakukan oleh IBRA atau BPPN di Indonesia kapan hari.

Ini adalah krisis keuangan terbesar di Amerika Serikat sejak Perang Dunia Kedua, dan bisa menular menjadi krisis dunia. Mudah-mudahan tidak. Ini tergantung dari efektivitas sistem politik Amerika Serikat dalam mengatur pemerintah dan lembaga keuangan. Kebetulan AS akan memilih Presiden baru 43 hari dari tanggal posting ini. Seru sekali, mendebarkan.

Wall Street and Main Street:  Dampaknya pada Orang Biasa

Biasanya naik turunnya nilai uang hanya berpengaruh pada perdagangan luar negeri. Naik turunnya harga sekuritas dan indeks Pasar Modal seperti IHSG dan Dow-Jones Index hanya berpengaruh pada investor bursa. Tapi kalau terjadi guncangan besar, maka semua orang akan kena. Kalau suatu bank jatuh, nasabahnya akan kena walaupun ada bagian-bagian yang dijamin oleh garansi asuransi. Tapi kalau perusahaan asuransi jatuh, maka pihak yang dijamin jatuh juga. AIG adalah perusahaan asuransi terbesar di Amerika dan salah satu terbesar di dunia. Kalau AIG bangkrut, pemegang asuransi tidak bisa dibayar. Ini terdiri atas perusahaan asuransi lain, bank dan perusahaan di seluruh dunia. Maka setiap orang yang berurusan dengan bank atau perusahaan besar akan terpengaruh krisis.

Karena itu Henry Paulson memberanikan diri untuk menyelamatkan AIG dan perusahaan lain. Tapi ia menggunakan uang negara yang adalah uang rakyat Amerika Serikat. Kalau paket penyelamatannya gagal, maka ekonomi AS akan jatuh benar-benar. Jangan sampai sebegitu….


Friday, October 3, 2008

Dandossi Matram: "Subprime Mortgage" dan "Bailout": Selanjutnya...


http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/03/10422462/quotsubprime.mortgagequot.dan.quotbailoutquot.selanjutnya...
/Home/Bisnis & Keuangan/Fiskal & Moneter
KRISIS EKONOMI GLOBAL
"Subprime Mortgage" dan "Bailout": Selanjutnya...
Gedung Capitol, tempat berkantornya senat Amerika Serikat. Senat menyetujui rencana penyelamatan pasar keuangan senilai 700 miliar dollar AS, Rabu (1/10), di Capitol Hill, Washington.
Jumat, 3 Oktober 2008 | 10:42 WIB

DANDOSSI MATRAM

Sungguh sulit dipercaya bahwa pembiayaan kredit properti yang tidak hati-hati bisa meluluhlantakkan ekonomi negara adidaya semacam Amerika Serikat. Seluruh lapisan masyarakat di Amerika dan dunia saat ini menyesali investasi di surat utang subprime mortgage yang telah menyapu bersih modal mereka.

Subprime mortgage (SM) merupakan kredit perumahan yang skema pinjamannya telah dimodifikasi sehingga mempermudah kepemilikan rumah oleh orang miskin yang sebenarnya tidak layak mendapat kredit. Tingkat bunga The Fed, sepanjang tahun 2002-2004 yang hanya sekitar 1-1,75 persen, membuat bisnis SM dan perumahan booming. Tingginya bunga pinjaman SM (pada saat bunga deposito rendah) menarik investor kelas kakap dunia (bank, reksadana, dana pensiun, asuransi) membeli surat utang yang diterbitkan perusahaan SM.

Ketika The Fed, mulai Juni 2004, bertahap menaikkan bunga hingga mencapai 5,25 persen pada Agustus 2007, kredit perumahan mulai bermasalah akibat banyaknya nasabah yang gagal bayar. Dampaknya, banyak perusahaan penerbit SM rugi besar karena nasabahnya gagal bayar dan perusahaan SM tidak mampu membayar utang karena tidak dibayar nasabahnya. Terjadi banyak penyitaan rumah (1 dari 10 rumah di Cleveland, AS, dalam kondisi tersita). Pasar properti berubah menjadi seller market akibat banyak yang ingin menjual propertinya sehingga harga properti turun 10 persen.

Investor institusi keuangan yang membeli surat utang SM rugi besar karena surat utangnya hanya bernilai sekitar 20 persen. Akibatnya, harga saham atau nilai aktiva bersih dari investor yang memiliki SM jatuh dan membuat investor rugi besar.

Butuh likuiditas

Sialnya, kebutuhan likuiditas juga mendesak. Selain tiadanya capital gain dan penerimaan cash inflow dari kupon bunga SM yang gagal bayar, juga ada kebutuhan dana tunai karena sebagian investor yang mencairkan investasinya. Parahnya, pada saat bersamaan semua pihak butuh likuiditas, yang berakibat terjadinya credit crunch (kelangkaan likuiditas).

Akibatnya, untuk menutupi kebutuhan likuiditas, mayoritas investor terpaksa menjual portofolionya, termasuk sahamnya, secara besar-besaran, di seluruh dunia yang mengakibatkan terempasnya pasar modal dunia.

Akhirnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) turun tangan sepenuhnya mengatasi masalah yang ditimbulkannya sendiri. Dana 700 miliar dollar AS, secara bertahap, akan digelontorkan ke pasar untuk membeli surat utang SM yang bermasalah, yang telah membuat ekonomi AS babak belur.

”Bailout” dijegal

Rencana bailout, walau telah mendapatkan keputusan Senat, ternyata terjegal oleh keputusan House of Representative. Bursa global yang sudah bereaksi positif saat rencana diajukan kembali terkapar. Khusus Wall Street, indeks jatuh dengan angka yang ajaib. Indeks jatuh 777,7 point sebagai respons atas penolakan bailout senilai 700 miliar dollar AS tersebut. Mengindikasikan sedemikian parahnya krisis yang tengah terjadi di AS.

Saat ini, rencana bailout kedua segera diajukan kembali, dengan revisi tambahan usulan kenaikan penjaminan deposan dari 100.000 dollar AS menjadi 250.000 dollar AS untuk menenangkan deposan yang panik. Serta membebaskan Federal Deposit Insurance Corp meminjam tanpa batas kepada Departemen Keuangan saat membutuhkan dana.

Pertanyaannya, bila bailout ini disetujui, apakah kita bisa berharap krisis ekonomi global akan cepat pulih kembali? Ada baiknya kita lihat bagaimana bailout ala Amerika Serikat ini dilakukan.

”Bailout” untuk surat utang

Bailout dilakukan dalam bentuk pemerintah akan membeli surat utang SM yang macet, yang dipegang oleh investor—yang merupakan investor institusi keuangan, seperti bank, reksadana, dana pensiun, dan asuransi. Harga pembelian surat utang adalah harga pasar, yang saat ini jauh di bawah nominal. Dana bailout diperoleh dari penerbitan surat utang pemerintah di pasar uang. Setiap perusahaan yang menjual surat utang ke pemerintah terikat ketentuan tentang pembatasan gaji top eksekutif.

Dengan skema bailout yang seperti ini, manfaat utama yang bisa terlihat hanyalah berkurangnya tekanan penjualan portofolio, khususnya saham, secara global karena nantinya, dengan bailout, kebutuhan likuiditas, selain dari saham, bisa dipenuhi juga dari penjualan surat utang SM kepada pemerintah.

Namun, skema ini tidak akan mencegah kerugian yang diderita investor karena, dengan prinsip akuntansi marked to market, kerugian tetap harus diakui dalam pembukuan investor yang memiliki surat utang SM yang bermasalah. Kerugian yang besar tetap berpotensi menggerus modal yang mengakibatkan insolvensi, yang bermasalah pada ekuitas yang negatif bila tidak dilakukan injeksi modal baru.

Investor sendiri diragukan akan bersedia menjual surat utang mereka ke pemerintah dengan harga pasar. Mereka pasti akan berusaha keras mencari alternatif pendanaan lainnya daripada merealisasikan kerugian yang sangat besar dalam buku mereka.

Pemilik rumah tampaknya juga tidak mendapat manfaat banyak dari bailout ini karena kewajiban cicilan dengan bunga pasar tetap berlaku. Keringanan paling berbentuk kelonggaran dalam kriteria penyitaan oleh kreditor bila peminjam tidak mampu membayar kewajibannya.

Perusahaan penerbit SM juga tidak diberikan perhatian dalam bailout ini. Padahal, masalah utama krisis ini adalah nasabahnya yang gagal bayar, pasar properti yang over supply, serta nilai properti yang anjlok sehingga mereka tidak sanggup membayar kewajibannya kepada investor keuangan.

Skema bailout ini agak diragukan efektivitasnya dan manfaatnya bagi pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Bayangkan ketika investor bertahan tidak menjual surat utangnya, atau pemilik rumah tetap tidak sanggup membayar kewajibannya dan penerbit surat utang tidak sanggup membayar.

Skema bailout ini berbeda sekali dengan saat Pemerintah Indonesia mem-bailout bank yang bermasalah. Saat itu, pemerintah mem-bailout dengan cara mengambil alih kepemilikan saham bank yang bermasalah melalui rekapitalisasi bank kemudian menjual sahamnya secara tender (yang sayangnya penjualannya terlalu dini dengan harga murah dan berorientasi ke investor asing).

Hindari intervensi

Kalau bailout ala AS, hanya untuk surat utang saja. Mungkin, prinsip kapitalisme dan liberalisme membuat bailout kepemilikan (saham) oleh pemerintah, yang bersifat intervensi, menjadi sesuatu yang dihindarkan di Amerika Serikat. Padahal, Inggris dengan cepat menasionalisasikan bank kedua terbesar di Inggris, Bradford & Bingley, juga Northern Rock’s yang bermasalah gara-gara subprime mortgage ini. Begitu pula dengan Fortis yang sebagian sahamnya diambil alih Pemerintah Belgia dan Belanda.

Tidak heran, ketika proposal bailout ini disetujui Kongres pada hari Minggu, pada perdagangan saham hari Seninnya, indeks global mengalami penurunan. Bisa jadi penurunan tersebut merupakan respons negatif terhadap usulan bailout yang memang tidak menyembuhkan penyakitnya secara tuntas.

Oleh karena itu, dengan skema bailout ini, janganlah kita terlalu berharap bahwa bailout ini akan tuntas menyelesaikan krisis ekonomi Amerika Serikat dan global dalam waktu 1-2 tahun ke depan.

Dampak terhadap Indonesia

Krisis SM sangat merugikan investor keuangan dunia yang juga berinvestasi di pasar modal dan uang Indonesia. Pukulan terbesar memang di pasar modal mengingat saham merupakan instrumen likuid, begitu pula deposito. Kebutuhan likuiditas yang tinggi membuat mereka keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Untuk surat utang negara (SUN), tekanan tidak terlalu parah karena merupakan instrumen jangka panjang yang bebas risiko yang dimungkinkan ”disekolahkan” dalam bentuk REPO. Selain itu, pasar sekunder yang ada belum memungkinkan investor asing keluar secara instan dalam jumlah besar.

Penerbitan SUN baru untuk sementara waktu akan terganggu dengan masih akan absennya investor asing.

Tidak terlalu terpengaruh

Ekspor beberapa produk mungkin terganggu karena menurunnya permintaan. Namun, dengan pertumbuhan pasar domestik yang pesat, bisa meminimalisasi dampak penurunan pasar ekspor secara agregat. Dengan pasar domestik yang kuat, pendanaan dalam negeri yang likuid, serta pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh, seharusnya Indonesia tidak terlalu terpengaruh krisis yang terjadi di Amerika Serikat. Bahkan, krisis ini sebenarnya merupakan peluang Indonesia menyelinap lebih gesit.

Sejarah juga mencatat bahwa, pascakrisis moneter di Indonesia, setiap terjadi krisis di Amerika Serikat (9/11, Enron, SM), Indonesia berada pada posisi yang lebih baik atau malah diuntungkan. Buktinya, nilai kurs rupiah dalam jangka panjang malah relatif stabil atau menguat.

DANDOSSI MATRAM, Pengamat Pasar Modal


Wednesday, October 1, 2008

BBC: Why did the bail-out bill fail?


http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/7643199.stm

Why did the bail-out bill fail?

By Kevin Connolly
BBC News, Washington

There were a few moments between the casting of the final vote in Congress and the announcement that the $700bn (£380bn) bail-out had been rejected when the world of American politics appeared to be frozen.

US Capitol
Many members of Congress were worried about losing their seats

Votes in the House of Representatives are not official until the Speaker's gavel is lowered and - for what felt like an eternity - the speaker's gavel remained suspended above the desk.

News services waited for several minutes before calling the result - a rare enough occurrence in a world of instant information.

Rumours began to circulate that attempts were being made to change the minds of some of the members who had voted "no".

Stunned

It would be an extraordinary step in a democracy to ask a member of a legislature to simply reverse a vote on an issue vital to the national interest without any extra revision or debate, and the rumours may not be true.

But it captures something of the mood of stunned apprehension in the House that they were believed even for a moment.

In that moment, the House appeared to be absorbing, very slowly, the sheer magnitude of what it had done.

Members had rejected a bill which the Treasury and the Federal Reserve had insisted was essential to the stability and viability of the American financial system - and by extension the financial system of the entire world.

This has all come at the most awkward possible moment in the American political cycle, when normally powerful institutions do not have the normal range of tools of persuasion at their disposal

The Bush administration had argued that without its bail-out plan and the funds to back it, the American economy would begin to grind to a halt.

Everyone knew there was deep unhappiness among both Republicans and Democrats with the nature of the American government's blueprint for rescuing the country but very few - if any - predicted that the sentiment would be strong enough to provoke a revolt on this scale.

Members of Congress have been dealing with two powerful conflicting forces over the last week.

The first was remorseless pressure from the White House - the argument that the country faced a crisis so profound that unless they approved the government's plans, American capitalism would grind to a halt as funds flowing between the banks began to dry up.

But the second pressure which is much harder to measure came from ordinary voters writing or emailing their own members of Congress angrily demanding that they reject a scheme which is universally perceived here as a bail-out of Wall Street bankers.

They are perceived as greedy, incompetent fat cats who have created this crisis themselves and who are now being allowed to pick the pockets of American voters to fix it.

Awkward moment

A majority of House Democrats did back the bill, in spite of their doubts about plans which appear to be rescuing irresponsible banks, rather than the customers they are throwing out of their re-possessed homes.

The real problems came on the Republican side - where a large majority saw this as an un-American measure which flies in the face of the basic rules of capitalism.

To make things worse, this has all come at the most awkward possible moment in the American political cycle, when normally powerful institutions do not have the normal range of tools of persuasion at their disposal.

President George W Bush
President Bush is nearing the end of his presidency

George W Bush, his authority sapped anyway by his abiding unpopularity, is very much in the Lame Duck phase of the closing days of his presidency.

He simply did not have the clout to get the job done.

Members of Congress face not just the abstract knowledge of the need for re-election which haunts them throughout their working lives, but the immediate knowledge that they will be facing the judgement of voters in November.

Politicians shy away from difficult and unpopular decisions at the best of times. They are inclined to run a mile from this kind of issue, at least for now.

That is a crucial caveat.

The most frequently asked question of all at this kind of moment is "What Happens Now?" and the short answer is that the Bush administration aided by the two sets of party leaders on Capitol Hill will have another go.

They might need to offer concessions to individual members to turn them around and they will certainly need to re-write parts of the bill - but the US government clearly cannot give up on this.

Frightening

Before the search for a bi-partisan deal can resume, you can expect a fair bit of bi-partisan bloodletting.

Some Republicans are saying they were preparing to vote "yes" until they heard the closing remarks of Speaker Nancy Pelosi who criticised the ethos of Republican economics, which prompted them to change their minds at the very last minute.

Senior Democrats are contemptuous of the idea that senior legislators would plunge their country's financial system into chaos in what would amount to a fit of pique.

The search for a fix is already under way, but you can be sure it will now take place against a backdrop of plunging share prices all around the world.

It is possible that the sense of global crisis may - perversely - offer a way out of this.

American voters simply have not seen this as a crisis that affects their real lives on Main Street - it is seen as a welfare scheme for the humbled plutocrats of Wall Street.

If the problems deepen and people suddenly see unemployment rising because businesses cannot get money from the banks to pay their bills and honour their payrolls, then that sentiment might change.

That is the optimistic assessment - that American lawmakers and voters having registered their pain and anger will eventually fall into line and give the US Treasury the money it wants.

The pessimistic assessment is almost too frightening to contemplate.

It is that a majority of members of Congress, backed by their voters, simply do not believe in a plan which basically involves the United States government borrowing hundreds of billions of dollars to prop up a financial system which is clearly deeply flawed.

If the warnings from US Treasury Secretary Hank Paulson are to believed, such a decision would usher in an age of catastrophe.

We will discover in the next few days which of those two interpretations will be borne out - when the issue is put back before the House of Representatives and the House once again says "yes" or "no".


Tuesday, September 23, 2008

Tentang Seorang Baik Yang Telah Tiada..

Kalau Allah sudah menghendaki, maka ia tinggal bersabda Kun Fayakuun.. Maka Jadilah..

Dulu, tahun 2000, kami adalah enam sahabat yang sama-sama tugas di pelosok Indonesia Timur. Setelah kembali ke Jakarta, posisi yang dua menjauh, dan tergantikan oleh tiga orang lain. Sehingga kini menjadi tujuh sahabat. diluar jam kuliah atau jam kerja, kalau ada yang satu, yang lain ada pula.

Saat itu, dari bertujuh ini, yang empat sepakat bikin usaha sedang yang tiga bekerja di sebuah KAP/Konsultan. Yang tiga, meski ngga bisa bergabung dengan kami yang empat, punya komitmen untuk turut membantu usaha kami yang empat. Intinya, bertujuh ini sepakat untuk keluar dari PNS. Kalau istilah sahabat-sahabat dunia kang-ouw, kami bertujuh tidak minta lahir bersama, tetapi bersedia mati pada hari yang sama (taelah.. gaya lu Ri..)

Back to Laptop.

Salah satu kawan kami yang kerja di KAP, mendadak meninggal dunia. Dalam usia yang masih sangat muda 27 tahun. Meninggalkan seorang istri dan seorang bayi berusia 9 bulan.
Kami semua berkabung dan ada juga yang sedikit kecewa karena ia mendahului kami.

Saya ? cuma bisa pasrah bilang "elo emang good guy, Prend.." ini sebab saat dia married tahun lalu, satu angkatan kami hadir, dan subuh itu satu angkatan hadir juga; termasuk hadir diantaranya adalah cukup banyak angkatan kami yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang akuntan. Terharu sekali melihat kawan2 ini mau datang sejak jam 3 pagi, begitu banyaknya kawan2 yang datang sampai2 warga setempat sempat salah sangka.. 
Saya hitung jumlah yang shalat shubuh dan shalat jenazah, lebih dari 8 shaf.. dan saya yakin jumlah orang ke sampingnya lebih dari 15 orang..
(akankah bila tiba giliran saya, kawan2 saya kelak akan berdatangan seperti itu? -aih inginnya jadi good guy-)

Teman A ? saking sedihnya ia hanya bisa bilang "Elu gila lu, lu kan janji mau mampir liat-liat ke kantor baru. Gua tagih janji elu sekarang !!" seolah lupa kawan kami ini sudah meninggal.

Teman B ? ia justru menyesali nasib kawan ini yang menurut dia malang.."Prend, anak elu masih kecil Prend.. Gila lu milih ngga bertahan.."
dll dst..

Semua ini dialog di samping ambulans yang akan membawa jenazah almarhum ke kota kelahirannya. Iya, saya tahu ada beberapa kesalahan logika dalam kalimat2 kami. Tapi itulah yang terjadi saat itu. Kesedihan membuat kami seolah buta mata buta hati.. waktu itu..

Malamnya, kecapekan, bakda isya entah mengapa saya tertidur. Saya bermimpi ada di sebuah taman yang luar biasa indah. Betul2 indah pemandangannya. Bahkan iklan Salem High-Country yang tayang di TV3 Malaysia saat itu kalah jauh dengan ini. Ini aneh, saya ngga pernah bermimpi sefeminin ini. Tapi saya ikuti jalan setapak itu..
Tiba2 saya dengar suara memanggil. Saya ikuti suara itu sampai ketemu sebuah ayunan dimana kawan saya almarhum sedang bermain-main dan tersenyum.
"Elu juga kudu jadi good-guy juga dong Ri, biar elu bisa ada di tempat yang kayak gini. Elo liat deh, semua ada di sini.. "
dst dst.. ngga perlu saya ceritakan apa saja yang ada di sana..
Tapi pertanyaan berikutnya sungguh menusuk. Ia berhenti dan menunjuk, "Masalahnya, elu udah jadi good-guy belum Ri ?"
Seiring habisnya pertanyaan itu, berkelebatan segala kejadian yang saya alami dan atau lakukan muncul seolah ada layar LCD di depan mata. Melihat itu, saya hanya bisa merinding dan menangis. Ternyata saya belum pantas jadi good-guy. Jadi saya mohon ampun pada-Nya saat itu dan minta tolong jadi good-guy. Tapi saya mendadak sudah terbangun seiring adzan shubuh.

Esok paginya, saya ceritakan mimpi itu ke Kawan A yang satu kos dengan saya. Ia hanya tertawa saja. "Elu terlalu sedih Prend, kita semuanya.." begitu katanya
Mendadak, pukul 10 pagi itu kami harus pergi bertemu calon klien potensial. Maka kami, saya, kawan A, dan kawan B pergi meninggalkan pos tanpa penjagaan, hanya seorang penjaga wartel (yang sekaligus resepsionis kami) saja yang ada.
Pulang dua jam kemudian, si penjaga wartel ini menyampaikan bahwa tadi ada teman yang berkunjung. Ingin melihat kantor, katanya. Karena ia sangat meyakinkan sebagai teman kami, maka si penjaga mempersilakan kawan ini melihat-lihat. Ketika ditanya apa mau menunggu kami pulang, si tamu ini menjawab, maaf tidak bisa, saya mau pergi jauh.
Pada titik itu, kami mulai menduga-duga..  apalagi kawan2 sudah mendengar cerita saya sebelumnya.
Kebetulan saya memiliki beberapa foto lama, tapi foto ramai2, tidak ada yang close-up.
Kami minta ia menunjuk yang mana yang datang, kalau ada di foto ini. Dengan yakin, ia menunjuk wajah almarhum.
Tiga foto yang berbeda dan ia tiga kali menunjuk dengan benar. Padahal si penjaga ini belum pernah betemu sebelumnya.

Malam itu juga kami berkumpul di rumah kawan B dan mendoakan almarhum. Kami menduga2 ada apa ya ? Baru setelah beberapa lama, kami mengambil kesimpulan bahwa entah almarhum betulan entah jin baik yang menyamar sebagai almarhum, yang jelas ia menjawab semua komentar kami pagi itu

Belum ada semenit kami menyimpulkan itu, HP Kawan B berbunyi tanpa ada caller ID. Kawan B sudah menduga bahwa ini pasti ada kaitannya maka ia merekam pembicaraan itu (secara waktu itu belon ada HP pake loudspeaker gitu loh)
Dan kami yakin sekali bahwa itu mirip sekali dengan almarhum dan ia menyapa, "Halo Broer. Gimana kabarnya ? Anak elu baik-baik aja kan ? Jangan lupa elu jaga kesehatan, ya.."
Kawan kami B ini sudah tidak bisa ngomong lagi. Hanya bisa bilang iya iya dengan terbata-bata..

Saat kami mendengarkan rekamannya, kawan D --belum saya ceritakan sebelumnya tadi-- yang paling dekat dengan almarhum langsung merebut telepon dan menelepon balik. Dua kali ia telepon caller ID yang tidak nampak itu (tapi ada jejaknya sih) tertuju pada dua nomor yang berbeda, yang pertama sebuah gudang di Jakarta Utara, dan yang kedua sebuah kantor di Jakarta Barat yang sedang lembur. Dan semuanya adalah klien kawan kami ini

Saya tidak tahu apakah ini yang disebut keajaiban Tuhan.
Saya tidak berani memastikan ini betul almarhum atau hanya Jin yang memirip2kan almarhum
Yang jelas, pesan yang ditinggalkan baik. Ia mengucapkan selamat tinggal dengan membalas semua perkataan kami kawan2 dekatnya di ambulans.

Selamat jalan, kawan
Gw kangen sama elo, Prend.. Ngga ada yang ngomelin gw lagi kalo gw males shalat di awal2 waktu..
Gw masih berusaha jadi good-guy Prend. But believe me it's soo hard.. Sebab good guy versi elo itu ngga cukup jadi orang baek, tapi juga jadi orang bener. Nah gw ini baek aja belon beres, apalagi benernyee..?!
Wish you still happy on "the garden" there and may God bless you forever, here on earth and there.. and  later..

BR, ari.ams
In memoriam of our friend AA, Aug 1973 - July 2000

Thursday, September 11, 2008

Olimpiade Beijing dan Introspeksi Dunia Islam

original article: http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=82&Itemid=57

Olimpiade Beijing dan Introspeksi Dunia Islam

Hiruk pikuk olimpiade Beijing di Bejing dapat dijadikan untuk mengajak umat melakkan introspeksi untuk melihat berbagai kegagalan-kegagalan kita

Oleh M. Syamsi Ali*


Dua minggu terakhir China sedang menjadi pusat perhatian mata. Bermilyar manusia dari seluruh penjuru dunia menonton perhelatan dahsyat 4 tahunan, Olympic games, yang tidak saja dituan-rumahi oleh negara berpenduduk terbesar dunia itu, tapi juga didominasi dalam peraihan medali.

China memang fenomenal. Mungkin kata yang paling pantas adalah bahwa China memang dahsyat dan fantastik. China sejak dulu, tidak saja dikenal sebagai sebuah negara, tapi sebuah peradaban yang yang sejak kala dulu banyak mendominasi dunia kita. Siapa yang tidak kenal sejarah nusantara yang juga tidak terlepas dari sejarah peradaban China?

Di saat-saat hampir semua negara di Asia digoncang oleh krisis ekonomi dan finansial di tahun penghujung 1997, China dengan tegar dan kokoh solid melalui krisis itu tanpa pengaruh yang bermakna. Jika saja kita melihat negara-negara ASEAN saat ini, termasuk dua negara Muslim mayoritas, Indonesia dan Malaysia, nampak Chinalah yang mendominasi.

Dalam dunia internasional, China dengan kalem tapi mulus dalam menjual dominasinya hampir dalam seluruh linea kehidupan global. Di PBB sendiri China memiliki posisi yang sangat diperhitungkan, bahkan terkadang lebih dperhitungkan ketimbang Rusia atau Prancis misalnya. Pasalnya, China ternyata menancapkan kuku pengaruhnya di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia dan Afrika. Bahkan di beberapa negara Amerika Tengah dan Latin, China memiliki pengaruh ekonomi yang berat.

Mungkin bagi kita yang tinggal di negara yang terkadang dijuluki 'the only super power' ini, ternyata China pun bisa dikategorikan sudah menembus dengan goncangan yang menakutkan. Berbagai produksi kecil, dari mainan anak-anak (toys), makanan-makanan hewan piaraan, dll., telah merajai pasar negara ini. Cukup mengkhawatirkan, sampai-sampai ada upaya untuk menjatuhkan citra produksi China dengan kasus-kasus keracunan anjing, dan juga tuduhan mainan anak-anak yang membahayakan. Tuduhan demi tuduhan itu begitu keras, sampai-sampai semua siaran TV hanya menyiarkan hal tersebut berhari-hari.

Dunia Islam?

Mungkin perlu dibedakan secara jelas antara cita dan realita. Islam adalah cita semua Muslim. Tapi Muslimlah yang kemudian harus membawa cita itu ke sebuah realita. Kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh dunai Islam saat ini tidak ada hubungannya dengan Islam. Islam dalam kenyataannya adalah kejayaan. Mungkin akan lebih tegas jika dikatakan: 'tiada kejayaan tanpa Islam dan tiada Islam tanpa kejayaan'.

Bagi beberapa kalangan, pernyataan di atas tidak diterima. Potongan pertama akan mentah-mentah ditolak oleh kalangan 'liberal-secular group', yang selalu melihat sebuah kejayaan dengan keterlepasan dari nilai-nilai agama (baca Islam). Sebaliknya, kalangan 'exclusive-minded group' sudah psti menolak yang kedua karena bagi mereka Islam itu identik dengan keterlepasan dari hiruk pikuk kemajuan dan kejayaan dunia. Bagi mereka, semua yang mirip dengan apa yang mungkin dilihat sebagai kejayaan 'ala barat' adalah tidak Islami dan bahkan antitesis dengan Islam.

Padahal, pernyataan di atas adalah ekspresi sederhana dari doa sapu jagad umat: 'Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirah hasanah'. Bahwa umat yang mengimani Islam memiliki cita hidup yang jelas, yaitu 'kejayaan dunia dan kejayaan akhirat'.

Namun realitanya, dunia Islam sangat jauh dari cita yang agung itu. Umat saat ini sedang merana di hampir seluruh linea kehidupannya. Bahkan hingga di titik kehidupan yang paling esensial sekalipun, akidah, umat sedang menghadapi krisis yang luar biasa. Saya katakana demikian, karena akidah bertujuan membangun muru'ah (dalam bahasa lain, izzah) atau mungkin dalam bahasa populernya 'self confidence'. Kenyataannya, umat kehilangan kepercayaan diri, dan itu merupakan identifikasi krisis iman yang paling nyata.

Secara ekonomi, dunia Islam dikaruniai nikmat kekayaan yang luar biasa. Ada yang memperkirakan, lebih 65% kekayaan alam, dari minyak, pertambangan, lautan, hutan, dll., di berbagai negara di Asia dan Afrika, ada di negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tapi menyakitkan, mereka yang dikategorikan manusia-manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan juga mayoritasnya ada di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Secara politik, hanya bilangan jari saja dari sekian negara-negara Muslim yang mempraktekkan hukum 'syura'. Mayoritasnya, jika tidak dictatorship, ya dipaksa untuk nmenerapkan sistim orang lain. Mungkin kelompok kedua ini boleh jadi memakai sistim dengan istilah cantik, demokrasi misalnya. Tapi kenyataannya, semua hanya simbolisme dominasi sistim yang orang lain paksakan. Buktinya, sistim itu dianggap sukses jika 'delivering interests of certain power'. Jika tidak, walau kenyataannya melakukan hal yang sama, justeru dianggap tidak demokrasi.

Secara kultur dan sosial, dunia Islam masih sangat morat-marit. Kedisiplinan dan etos kerja sangat jauh di atas rata-rata kedisiplinan dan etos kerja orang-orang yang kita sebut 'kafir'. Betapa seharusnya kita kagum dengan etos kerja orang-orang China di kota dunia, New York. Terbukti dengan menjamurnya restoran-restoran China hampir di mana-mana. Demikian pula dengan komunitas Korea, dll.

Dalam arena kehidupan global, umat Islam nyata termarjinalkan dalam segala hal. Produk-produk untuk kebutuhan asasi umat, hatta dalam hal-hal yang sifatnya ritual sekalipun, justeru diproduksi oleh orang lain. Lihatnya pasar di mekah, dari tasbih, sajadah, baju jubah, dll., banyak justeru 'made in China'.

Mungkin yang paling nyata adalah kenyataan bahwa di pusat diplomasi dunia, PBB, dunia Islam sama sekali tidak terwakilkan secara baik. Suara negara-negara Muslim hampir tidak terdengarkan di saat seharusnya didengar karena membela hak-hak sesama yang terinjak-injak di berbagai belahan dunia. Bandingkan antara jumlah negara Uni Eropa dengan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Namun signifikasi suara kedua organisasi (OKI dan EU) sangat berbeda, bagaikan langit dan bumi.

Alkhulasoh, umat Islam kini berada di sebuah jurang kegagalan. Dan sangat menyedihkan, terkadang kegagalan-kegagalan itu justeru dirasakan oleh sebagian sebagai 'Islamically justified'.

Apa Gerangan?

Kenyataan ini menjadikan banyak kalangan yang tidak habis pikir. Apa gerangan? Apa yang sedang terjadi? Apa penyebab sehingga terjadi seperti itu? Bukankah umat Islam pernah jaya lebih 7 abad? Sebuah kejayaan terpanjang dalam sejarah hidup manusia?

Pada akhirnya, banyak kalangan pengamat hanya bisa menempatkan pengamatan mereka di satu sisi. Terkadang Islamnya yang disesali. Atau sebaliknya, terkadang apa yang dipersepsikan sebagai lawan Islam yang disesali. Terkadang pula para pengamat itu hanya mengantar umat kepada sikap 'menuduh' dan atau 'menyesali'. Menuduh orang lain atas kegagalan-kegagalan umat. Atau sebaliknya juga menyesali diri sendiri atas kegagalan-kegagalan itu.

Yang disayangkan, bahwa ada kecenderungan sebagian untuk saling melemparkan kesalahan. Dan tentunya yang paling tidak membahayakan, ketika pihak-pihak tertentu merasa 'dirinyalah atau metode pendekatannyalah' yang absolute benar. Semua yang tidak sejalan salah dan bahkan dianggap menjadi penyebab atau kontributor kegagalan-kegagalan itu.

Dalam hal ini, ada dua pandangan ekstrim yang sedang berlaga. Pandangan yang mengatakan bahwa dunia Islam saat ini terbelakang karena masih terkungkung oleh konsepsi syariah Islam, yang menurutnya, hanya menjadi aral dalam upaya mencapai kejayaan itu. Sebaliknya, ada pula yang sangat simplistik dalam melihat bahwa berbagai kegagalan disebabkan oleh tidak ditegakkannya syariah Islam. Yang runyam, ketika syari'ah Islam ditafsirkan secara sempit dengan berbagai simbolisme agama yang sama sekali tidak menyentuh substansi kehidupan manusia.

Dalam sebuah dialog antar agama (Islam dan Yahudi) di New York University (NYU) beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh seorang peserta: 'Bagaimana sikap anda jika ada Muslim yang ingin mempraktekkan syariah di Amerika?'

Sebagian peserta Muslim tentu bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada pula yang cenderung mengatakan bahwa syari'ah itu adalah isu lama, yang tidak ada lagi dalam agama ini. Sebagian yang lain, menginginkan jika saya menegaskan bahwa tujuan mulia Islam memang adalah menegakkan syari'ah dalam sebuah tatanan pemerintahan Islam yang disebut khilafah.

Dengan tenang dan senyum, saya jawab bahwa sesungguhnya dari pertanyaan anda saya memahami jika anda sedang phobic (ketakutan) dengan konsep syari'ah. Itu menandakan bahwa yang perlu saya lakukan bukan menjelaskan sikap saya, tapi menjelaskan konsepsi syari'ah untuk membenarkan persepsi anda tentang syari'ah itu sendiri.

'Syari'ah adalah jalan hidup. Syari'ah adalah aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim secara menyeluruh, yang dirincikan kemudian dalam sistim hukum mufasshol (detail) yang disebut fiqh. Intinya, tiada Islam tanpa Syari'ah, dan bagi seorang Muslim tiada kehidupan bermakna tanpa Syari'ah'.

Jawaban saya di atas tentunya mengejutkan bagi sang penanya. Penjelasan-penjelas an saya tentang Islam yang terbuka, bersahabat, maju, berbudaya, dll., seolah sirna dengan penjelasan saya tentang Syari'ah tersebut. Bagi dia, seharusnya saya mengatakan bahwa Syari'ah itu adalah hukum kuno yang hanya berlaku 25 abad silam. Kini, dengan kehidupan modern di abad 21, umat tidak perlu lagi syari'ah.

Tapi kemudian saya susuli: 'Amerika Serikat, sebagai sebuah negara dan bangsa, telah mempraktekkan banyak hal yang sifatnya syari'ah. Bahkan tidak berlebihan jika saya katakan, dalam beberapa hal, Amerika lebih mempraktekkan syari'ah dari negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. 'Keadilan, kesetaraan, kemerdekaan, dan pertanggung jawaban publik' adalah bagian tak terpisahkan dan bahkan menjadi asas dari seluruh sendi-sendi kehidupan syari'ah kemudian'.

Penjelasan saya tersebut ternyata tercerna secara baik oleh sebagian besar peserta. Sehingga pada akhirnya saya bisa mengatakan, apa yang anda saksikan saat ini di berbagai belahan dunia Islam, dari kediktatoran, kemiskinan, keterbelakangan di dunia sains dan teknologi, hilangnya kedisiplinan sosial dan rendahnya etos kerja, semua itu menunjukkan kegagalan umat Islam dalam menerapkan syari'ah yang sejati.

Pada akhirnya, dengan hiruk pikuk olimpiade Beijing saat ini, umat diajak untuk melakukan introspeksi. Apakah kegagalan-kegagalan itu karena konsepsi Islam? Atau sebaliknya, berbagai kegagalan yang terjadi justeru disebabkan oleh kegagalan umat dalam menerapkan syari'ah yang sejati. Kalaulah Syari'ah itu menjadi 'penghalang' kebangkitan, seharusnya Turki saat ini lebih hebat dari Jerman. Sebaliknya, seandainya 'pengakuan Syari'ah' itu menjadi fondasi kejayaan, tentu Saudi Arabia telah jauh lebih maju ketimbang Singapura.

Saya hanya kembali diingatkan oleh pernyataan Prof. Dr. Habibie, untuk bangkit diperlukan manusia-manusia yang berotak Jerman, tapi berhati Mekah. Mungkinkah? Pasti bisa karena itulah makna 'ulil al baab' yang memiliki dua sayap yang mampu menghantarkannya kepada kehidupan yang lebih tinggi, yaitu 'sayap dzikir dan sayap fikir'.

"alladzina yadzkuruna Allaha qiyaaman wa Qu'uudan wa 'aala junuubihm, wa yatafakkaruna fi khalqis samawati wal al ardh."

New York , 20 Agustus 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com