Showing posts with label friends. Show all posts
Showing posts with label friends. Show all posts

Saturday, May 18, 2013

Si Bleki



PAK HARTAWAN tidak menyukai Si Bleki.
Wolf & Full Moon - Free Pic from internet
Bleki adalah seekor anjing. Anjing Pemburu. Begitu hebat dan gagahnya, serta begitu buasnya ia terhadap haSil buruannya bagaikan seekor serigala, sehingga ia dijuluki Serigala Pemburu. Itulah Si Bleki, anjing pemburu andalan Pak Hartawan bila pergi berburu.
Ah, Bleki..! Badannya yang besar dan warna bulunya yang hitam mulus menambah pesona kegagahan anjing pemburu itu, Bulatan putih di atas kelopak matanya, menambah pesona kecantikan tersendiri, mengiringi kesan buas yang ada.
Telah cukup lama Bleki tinggal di rumah Pak Hartawan. Sebetulnya, Bleki telah tinggal di rumah itu sejak hari pernikahan Pak Hartawan dengan Bu Hartawan. Benar, Bleki memang milik Bu Hartawan.  Bu Hartawan sangat menyayangi Si Bleki.
Sayangnyaa.. Pak Hartawan, sebaliknya, sangat tidak menyukai Si Bleki.
Bleki telah dipelihara Bu Hartawan sejak masa gadisnya. Saat menikah, Bu Hartawan memutuskan untuk tetap memelihara Si Bleki.
“Untuk menjaga keamanan,” begitu kata Bu Hartawan setiap kali ditanyai tentang ini.
Tetap saja, Pak Hartawan tidak menyukai Si Bleki,

Selain saat berburu, Bleki ternyata seekor anjing penjaga yang sangat baik. Setiap orang yang ia curigai mengganggu stabilitas rumah tangga dab segala iSi rumah Bapak dan Ibu Hartawan akan ia jaga.  Bisa-bisa diikutinya terus orang itu, ke mana pun ia pergi. Salah satu orang uang selalu diawaSinya adalah Pak Hartawan sendiri. Itu, salah satu sebab Pak Hartawan tidak menyukai Bleki.
Sebab ketidaksukaan Pak Hartawan lainnya ialah sebab Bu Hartawan seolah sangat terikat dengan Bleki. Apa-apa Bleki.. ! Apa-apa selalu Bleki.. ! Selalu Bleki, Bleki, dan Bleki ! Biaya harian Bleki sampai-sampai nyaris melampaui biaya sehari-hari Bapak dan Ibu Hartawan. Perhatian Bu Hartawan terhadap Bleki juga nyaris melebihi perhatian Bu Hartawan kepada Pak Hartawan.
Pak Hartawan tidak suka Bleki. Itu sudah jelas.
Dan Bleki sendiri pun agaknya juga tidak suka pada Pak Hartawan.
Keduanya menyadari bahwa keduanya tidak saling menyukai.
Sudah jelas Pak Haryawan tidak tahan dengan kehadiran Bleki. Bahkan ia, dijaga oleh Bleki di rumahnya sendiri.
Apa-apaan ini !? Begitu selalu pikirnya. Tetapi tak berani juga diungkapkannya pikirannya itu pada Bu Hartawan.. sebab setiap ada pembicaraan menyangkut Bleki, reaksi Bu Hartawan bisa menjadi sangat menyeramkan seperti induk serigala menjaga anaknya.

SUATU HARI, dirancangnya sebuah rencana untuk menyingkirkan Bleki. Malam-malam, dipancingnya Bleki ke garasi. Sesuai perkiraan Pak Hartawan. Bleki akan mengikuti setiap gerak-geriknya.
Berhasil ! Pak Hartawan berhasil menjebak Bleki masuk ke dalam bagasi Porsche-nya.
Segera dilarikannya sedan mewah itu ke hutan di pinggur kota. Dengan sekali sentakan tuas di dashboard-nya kap bagasi membuka dan Bleki segera melompat keluar..
Hehehe.. Pak Haryawan tersenyum puas melihat Bleki hanya bisa berdiri mematung mengawasi Porsche Pak Hartawan berputar melaju pulang. Sepanjang perjalanan pulang, tertawalah Pak Hartawan melampiaskan segala kegeramannya selama ini. Tertawa ia karena girangnya lepas dari Bleki.
Pak Hartawan masih tersenyum sangat lebar saat mobilnya itu sampai rumah. Diparkirnya Porsche itu di garasi dengan riang bersiul-siul. Bernyanyi kecil, Pak Hartawan melangkah dengan riang mengikuti irama memasuki rumahnya.
Tersenyum lebar, Pak Hartawan menghampiri istrinya yang tengah bersantai membaca surat kabar di ruang keluarga.  
Tetapi..
Sirnalah senyum itu seketika, ketika Pak Hartawan menyadari istrinya membaca surat kabar sambil membelai kepala seekor anjing..
Coba tebak.. Siapa lagi, kalau bukan Bleki !?
..dan mata serta mulut Bleki berayun, menggeh-menggeh seiring dengusan napasnya, bagai tengah mengejek Pak Hartawan yang gagal menyingkirkannya.
Pak Hartawan tak tahan lagi.
Berlari kecil ia ke kamar mandi..  mengunci diri, diam menenangkan diri.

SEMAKIN LAMA, Pak Hartawan semakin ingin melenyapkan Bleki.
Kali ini, Pak Hartawan sungguh-sungguh dan sungguh ingin melenyapkan Bleki.
Sudah beberapa hari ini, Pak Hartawan Sibuk mencari-cari orang upahan. Orang-orang terbaik di bidangnya: Pembunuh profesional !
Dijanjikannya upah yang sangat tinggi bila Sang Profesional dan kawanannya mampu menyingkirkan Bleki lenyap dari muka bumi.
Sang Profesional itu mengangkat alis dan terkekeh pelan saat mengetahui sasaran mereka, Bleki, hanyalah seekor anjing.
Pak Hartawan mengernyitkan kening. Dari pengalamannya kemarin, ia tahu menyingkirkan Bleki bukanlah pekerjaan main-main. Itulah sebabnya Pak Hartawan dengan sangat serius memperingatkan para profesional itu untuk tidak main-main.
Ya ! Sang Profesional itu kini tidak main-main !

Malamnya, sengaja pintu pagar pekarangan tidak dikunci Pak Hartawan. Seperti telah diduga, Bleki mengetahui ada pintu yang berada dalam keadaan tak terkunci. Tentu saja, Bleki segera berjaga-jaga di halaman, menjaga setiap kemungkinan.
Tapi, manalah sanggup kelihaian Sang Profesional ia lawan ?! Sebuah peluru bius yang ditembakkan dari jarak jauh dengan senapan berperedam berhasil melumpuhkan Bleki.
Segera saja, tubuh Bleki telah berada dalam karung.
Sementara karung berisi Bleki dipindahkan oleh kawanan pembunuh itu, Sang Profesional mengetuk pintu rumah Pak Hartawan bak tetamu yang hendak berjumpa.
Pak Hartawan keluar. Dari senyum Sang Profesional, tahulah ia bahwa Bleki sudah berhasil dilumpuhkan. Maka berpamitanlah Pak Hartawan kepada istrinya seolah ada keperluan bersama kawan. Tak mau pula Pak Hartawan kehilangan saat saat menegangkan menyaksikan Bleki lenyap dari pandangan.
Beriringan, mobil Pak Hartawan dan mobil Sang Profesional berikut kawanannya menuju pelabuhan.  Di pelabuhan, telah menunggu rekan Sang Profesional lainnya dengan beban pemberat. Segera saja Sang Profesional membuang karung beriSi Bleki yang telah dibebani pemberat. Pemberat yang pastinya cukup berat untuk memastikan karung berisi Bleki itu tenggelam sampai ke dasar laut. Ya, Sang Profesional melemparkan karung itu ke air yang dalam di tengah keheningan malam dermaga.
Sekian menit berlalu dan tidak ada tanda kehidupan, Pak Hartawan segera menyerahkan uang pada Sang Profesional sesuai perjanjian. Lalu pulanglah Pak Hartawan dengan riang.

Sampai di gerbang depan, terkejutlah Pak Hartawan melihat ada mobil polisi dan ambulans. Segera saja ia berlari mendekat untuk segera mengetahui apa yang terjadi.
Setibanya di dalam, segera saja ia dipeluk oleh Sang Istri. Diceritakan oleh Sang Istri apa yang telah terjadi. Bahwa ada penjahat yang merampok uang di rumah, tetapi untunglah ada perlawanan dari Si Bleki sehingga penjahat itu tersudut dan mati tenggelam di kolam renang.
Bleki !?
Pak Hartawan terkejut.
Alarm di kepalanya berbunyi.
Firasat buruk segera muncul di lubuk hati.
Segeralah Pak Hartawan berlari ke lokasi. Firasatnya mencoba mendua apa yang terjadi.. Kebetulan pula mayat Sang Penjahat tengah dievakuasi.
Dan tak lagi terkejut Pak Hartawan melihat wajah Sang Profesional mati..
Dan tak lagi terkejut Pak Hartawan saat disodoran polisi barang bukti. Dikenalinya amplop berisi uang itu sebagai amplop yang tadi diserahkannya kepada Sang Profesional untuk membunuh Bleki..
Ah betul.. di mana Bleki !?
Astagaa ! Bleki tengah bermalas-malasan di  atas kursi kolam renang, mengawasi Pak Hartawan yang geram setengah mati. Ya ! Pak Hartawan kalah lagi satu kali !

MALAM ITU, Pak Hartawan duduk merokok di kursi.
Kesal di hatinya kian menjadi.
Dipandanginya Si Bleki yang juga tengah mengawasi.
Semakin lama, semakin kuatlah rasa benci..
Semakin lama, semakin besar nafsu amarah di hati..
Semakin lama, semakin hilang kendali penguasaan diri..
Pak Hartawan tegak berdiri.
Dilangkahkannya kaki menuju gudang penyimpanan perkakas besi.
Diambilnya dengan penuh nafsu kapak besi.
Segera saja Pak Hartawan berlari mengejar Bleki yang masih tegak berdiam mengawasi.
Sekian gelap mata hati, sepersekian kejap ayunan kapak besi.. Tak sempat mengelak Si Bleki, segeralah ia tersungkur mati.
Ya ! Bleki kini terkapar mati..!
Puas Pak Hartawan memandangi tubuh Si Mati.. kala didengarnya jerit kemarahan dan tak puas hati.. Ya ! Bu Hartawan yang berteriak, memprotes tindakan Sang Suami.
Bu Hartawan tidak melihat ada alasan Pak Hartawan untuk membunuh Si Bleki. Dengan kasar Bu Hartawan menanyakan tindakan suaminya yang dikatakannya sebagai kejam tak terperi.
Gelap mata Pak Hartawan.
Dengan tangan masih menggenggam kapak besi, sepersekian kejap saja, nasib Bu Hartawan segera menyusul Si Bleki.
....
Tertegun sejenak Pak hartawan melihat hasil perbuatan diri.
....
Tapi lalu tertawalah ia  melepas segala emosi yang berkecamuk di dalam hati.
Tertawa ia seorang diri.
Puas tertawa, diseretnya kedua tubuh itu ke halaman belakang. Digalinya semacam lubang di sana.. lalu dikuburkannya kedia tubuh itu di sana.
Terkekeh puas, ia berkata: “Teruntuk istriku, yang lebih mencintai anjing daripada suaminya.. Yang mati dan dikubur bersama anjing kesayangannya..”
Tertawalah Pak Hartawan.
Tertawa..
Tawa pilu ?! Lara ?! Bahagia ?!
Entahlah.. tumpah ruah segala emosi.

MALAM INI, Pak Hartawan duduk merokok di kursi.
Dalam genggamannya, ada kapak besi.
Menit demi menit terus berganti.
Jam demi jam, duduklah Pak Hartawan dalam sepi.
Hanya duduk dan merokok di kursi.
Sedang dalam genggaman tangannya ada kapak besi.
Hanya duduk menanti.
Menanti pembalasan dari Si Bleki.
....

MALAM ITU JUGA, sudah berdiri di luar jendela, dua sosok tubuh memperhatikan Pak Hartawan duduk di kursi.
Seorang perempuan dan seekor anjing.
Yang perempuan membelai-belai Si Anjing. Si Anjing terus memperhatikan yang duduk di kursi..
Si Perempuan, dengan lembut berkata pada Si Anjing, “Kasihan sekali Suamiku. Dia tidak tahu apa yang telah dia nikahi..”
Si Anjin mendengus, seakan membenarkan perkataan Si Perempuan tadi.
Si Perempuan menghela napas panjang seperti menyesalkan perbuatan suaminya. Penuh kelembutan, dipandanginya wajah Sang Suami yang masih saja duduk membisu dalam sepi.
“Dia tidak tahu bahwa kita, kaum Manusia-Serigala tidak semudah itu mati..”
Si Anjing, salah ! Si Serigala mendengus membenarkan perkataan ini.
“Ia sudah melukai kita. Tetapi.. Apakah kita harus juga membalas perlakuan Suamiku tadi ?” Si Perempuan bertanya pada diri sendiri.. Menengok ia pada Sang Serigala bagai hendak minta sepakatnya hati, “Bagaimanapun juga, dia suamiku yang kucintai..”
Si Serigala kali ini diam tak bereaksi.. seakan menyerahkan keputusan pada Sang Istri sendiri.
Si Perempuan, alias Sang Istri, masih terdiam sambil terus saja membelai kepala Si Serigala Bleki.
....

PAK HARTAWAN masih terus duduk di kursi..
Duduk merokok terus seorang diri.
Sedang di genggaman tangannya ada kapak besi.
Terus menanti..
Menanti pembalasan dari Serigala Bleki..
.... 


Kamis 25 Juli 1996 02:46 WITA
Kompleks  III No. 7
Jalan Balaikota Lama II, Home Base, Wua-wua, Kendari 93117

Dulu, tulisan ini dibuat karena mendadak teringat kawan SMA seangkatan, yang meninggal dunia beberapa waktu sebelumnya:  Aryo “Bancet” Soegiarto (alm). Usia saya 23 tahun saat itu.
Malam sebelumnya, Rabu 24 Juli 1996 23:30 WITA s.d Kamis 25 Juli 1996 01:00 WITA,  tema Happy Landing yang kami bawakan di radio adalah “Bagaimana bila malam ini adalah malam terakhir kita di dunia”

Pada saatnya nanti, kami pun akan menyusulmu pulang, bro..
Sebab mati, adalah masa depan yang paling pasti.

Tuesday, September 30, 2008

Eid Mubarak !!

\

 Assalaamu`alaykum Wr. Wb.

Setahun telah berlalu.......

Untuk itu izinkan kedua tangan ini kembali

bersimpuh.......

Memohon maaf atas lisan yang tak terjaga

janji yang terabaikan.......

Hati yang penuh dengan prasangka

Serta semua sikap yang pernah menyakitkan.

AriLatoeng&Keluarga

                    

Mengucapkan  

TaqobalaLlahu Minna Waminkum,

TaqobalaLlahu Ya Karim

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H 

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Tuesday, September 23, 2008

Tentang Seorang Baik Yang Telah Tiada..

Kalau Allah sudah menghendaki, maka ia tinggal bersabda Kun Fayakuun.. Maka Jadilah..

Dulu, tahun 2000, kami adalah enam sahabat yang sama-sama tugas di pelosok Indonesia Timur. Setelah kembali ke Jakarta, posisi yang dua menjauh, dan tergantikan oleh tiga orang lain. Sehingga kini menjadi tujuh sahabat. diluar jam kuliah atau jam kerja, kalau ada yang satu, yang lain ada pula.

Saat itu, dari bertujuh ini, yang empat sepakat bikin usaha sedang yang tiga bekerja di sebuah KAP/Konsultan. Yang tiga, meski ngga bisa bergabung dengan kami yang empat, punya komitmen untuk turut membantu usaha kami yang empat. Intinya, bertujuh ini sepakat untuk keluar dari PNS. Kalau istilah sahabat-sahabat dunia kang-ouw, kami bertujuh tidak minta lahir bersama, tetapi bersedia mati pada hari yang sama (taelah.. gaya lu Ri..)

Back to Laptop.

Salah satu kawan kami yang kerja di KAP, mendadak meninggal dunia. Dalam usia yang masih sangat muda 27 tahun. Meninggalkan seorang istri dan seorang bayi berusia 9 bulan.
Kami semua berkabung dan ada juga yang sedikit kecewa karena ia mendahului kami.

Saya ? cuma bisa pasrah bilang "elo emang good guy, Prend.." ini sebab saat dia married tahun lalu, satu angkatan kami hadir, dan subuh itu satu angkatan hadir juga; termasuk hadir diantaranya adalah cukup banyak angkatan kami yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang akuntan. Terharu sekali melihat kawan2 ini mau datang sejak jam 3 pagi, begitu banyaknya kawan2 yang datang sampai2 warga setempat sempat salah sangka.. 
Saya hitung jumlah yang shalat shubuh dan shalat jenazah, lebih dari 8 shaf.. dan saya yakin jumlah orang ke sampingnya lebih dari 15 orang..
(akankah bila tiba giliran saya, kawan2 saya kelak akan berdatangan seperti itu? -aih inginnya jadi good guy-)

Teman A ? saking sedihnya ia hanya bisa bilang "Elu gila lu, lu kan janji mau mampir liat-liat ke kantor baru. Gua tagih janji elu sekarang !!" seolah lupa kawan kami ini sudah meninggal.

Teman B ? ia justru menyesali nasib kawan ini yang menurut dia malang.."Prend, anak elu masih kecil Prend.. Gila lu milih ngga bertahan.."
dll dst..

Semua ini dialog di samping ambulans yang akan membawa jenazah almarhum ke kota kelahirannya. Iya, saya tahu ada beberapa kesalahan logika dalam kalimat2 kami. Tapi itulah yang terjadi saat itu. Kesedihan membuat kami seolah buta mata buta hati.. waktu itu..

Malamnya, kecapekan, bakda isya entah mengapa saya tertidur. Saya bermimpi ada di sebuah taman yang luar biasa indah. Betul2 indah pemandangannya. Bahkan iklan Salem High-Country yang tayang di TV3 Malaysia saat itu kalah jauh dengan ini. Ini aneh, saya ngga pernah bermimpi sefeminin ini. Tapi saya ikuti jalan setapak itu..
Tiba2 saya dengar suara memanggil. Saya ikuti suara itu sampai ketemu sebuah ayunan dimana kawan saya almarhum sedang bermain-main dan tersenyum.
"Elu juga kudu jadi good-guy juga dong Ri, biar elu bisa ada di tempat yang kayak gini. Elo liat deh, semua ada di sini.. "
dst dst.. ngga perlu saya ceritakan apa saja yang ada di sana..
Tapi pertanyaan berikutnya sungguh menusuk. Ia berhenti dan menunjuk, "Masalahnya, elu udah jadi good-guy belum Ri ?"
Seiring habisnya pertanyaan itu, berkelebatan segala kejadian yang saya alami dan atau lakukan muncul seolah ada layar LCD di depan mata. Melihat itu, saya hanya bisa merinding dan menangis. Ternyata saya belum pantas jadi good-guy. Jadi saya mohon ampun pada-Nya saat itu dan minta tolong jadi good-guy. Tapi saya mendadak sudah terbangun seiring adzan shubuh.

Esok paginya, saya ceritakan mimpi itu ke Kawan A yang satu kos dengan saya. Ia hanya tertawa saja. "Elu terlalu sedih Prend, kita semuanya.." begitu katanya
Mendadak, pukul 10 pagi itu kami harus pergi bertemu calon klien potensial. Maka kami, saya, kawan A, dan kawan B pergi meninggalkan pos tanpa penjagaan, hanya seorang penjaga wartel (yang sekaligus resepsionis kami) saja yang ada.
Pulang dua jam kemudian, si penjaga wartel ini menyampaikan bahwa tadi ada teman yang berkunjung. Ingin melihat kantor, katanya. Karena ia sangat meyakinkan sebagai teman kami, maka si penjaga mempersilakan kawan ini melihat-lihat. Ketika ditanya apa mau menunggu kami pulang, si tamu ini menjawab, maaf tidak bisa, saya mau pergi jauh.
Pada titik itu, kami mulai menduga-duga..  apalagi kawan2 sudah mendengar cerita saya sebelumnya.
Kebetulan saya memiliki beberapa foto lama, tapi foto ramai2, tidak ada yang close-up.
Kami minta ia menunjuk yang mana yang datang, kalau ada di foto ini. Dengan yakin, ia menunjuk wajah almarhum.
Tiga foto yang berbeda dan ia tiga kali menunjuk dengan benar. Padahal si penjaga ini belum pernah betemu sebelumnya.

Malam itu juga kami berkumpul di rumah kawan B dan mendoakan almarhum. Kami menduga2 ada apa ya ? Baru setelah beberapa lama, kami mengambil kesimpulan bahwa entah almarhum betulan entah jin baik yang menyamar sebagai almarhum, yang jelas ia menjawab semua komentar kami pagi itu

Belum ada semenit kami menyimpulkan itu, HP Kawan B berbunyi tanpa ada caller ID. Kawan B sudah menduga bahwa ini pasti ada kaitannya maka ia merekam pembicaraan itu (secara waktu itu belon ada HP pake loudspeaker gitu loh)
Dan kami yakin sekali bahwa itu mirip sekali dengan almarhum dan ia menyapa, "Halo Broer. Gimana kabarnya ? Anak elu baik-baik aja kan ? Jangan lupa elu jaga kesehatan, ya.."
Kawan kami B ini sudah tidak bisa ngomong lagi. Hanya bisa bilang iya iya dengan terbata-bata..

Saat kami mendengarkan rekamannya, kawan D --belum saya ceritakan sebelumnya tadi-- yang paling dekat dengan almarhum langsung merebut telepon dan menelepon balik. Dua kali ia telepon caller ID yang tidak nampak itu (tapi ada jejaknya sih) tertuju pada dua nomor yang berbeda, yang pertama sebuah gudang di Jakarta Utara, dan yang kedua sebuah kantor di Jakarta Barat yang sedang lembur. Dan semuanya adalah klien kawan kami ini

Saya tidak tahu apakah ini yang disebut keajaiban Tuhan.
Saya tidak berani memastikan ini betul almarhum atau hanya Jin yang memirip2kan almarhum
Yang jelas, pesan yang ditinggalkan baik. Ia mengucapkan selamat tinggal dengan membalas semua perkataan kami kawan2 dekatnya di ambulans.

Selamat jalan, kawan
Gw kangen sama elo, Prend.. Ngga ada yang ngomelin gw lagi kalo gw males shalat di awal2 waktu..
Gw masih berusaha jadi good-guy Prend. But believe me it's soo hard.. Sebab good guy versi elo itu ngga cukup jadi orang baek, tapi juga jadi orang bener. Nah gw ini baek aja belon beres, apalagi benernyee..?!
Wish you still happy on "the garden" there and may God bless you forever, here on earth and there.. and  later..

BR, ari.ams
In memoriam of our friend AA, Aug 1973 - July 2000

Wednesday, July 16, 2008

Tentang Menyukuri Nikmat Tuhan


Ustadz kami sering mengajarkan bahwa Allah memberikan rezeki yang telah ditetapkan sebelumnya kepada kita. Itu kita percayai.
PS: Kalaupun ada yang diberi tambahan kelebihan rezeki, tentunya itu dengan seizin Allah pula.. (note: ini tambahan dari saya, bukan kata ustadz. mohon maaf kalo salah)

Oleh karena itu, bahkan dua orang sahabat yang besaran gajinya sama persis dan dengan jumlah tanggungan yang sama banyaknya, tidak selalu sama "jumlah" asap dapurnya (^^)
Dan itu yang terjadi pada seorang sahabat saya bernama si A. Tanggalan kalender baru menunjukkan angka belasan di bulan Juni,tetapi mereka, sahabat saya dan istrinya, sudah kehabisan uang sama sekali. Hanya tinggal lima ribu di kantung sahabat ini dan sepuluh ribu di kantung istrinya di rumah.

Masalahnya, akhir tanggal belas-belasan ini mereka sudah harus membayar separuh uang pangkal sepasang putri kembar mereka masuk sekolah. Sementara uang yang tadinya disiapkan untuk itu sudah terpakai untuk biaya pengobatan; mendadak seluruh anggota keluarga sakit termasuk mertua yang kebetulan datang dari luar kota, dan itu membuat tabungan mereka habis tidak bersisa.

Sahabat saya ini, tidak seperti sahabat-sahabat saya yang lain tetapi masih lebih baik dari saya, bukanlah orang yang setiap saat ke masjid beribadah (note: saya bilang begini tidak berarti sahabat saya ini ngga shalat lima waktu lhoo..). Pada saat kesulitan itu pun sebenarnya juga tidak banyak berubah juga, hanya saja beberapa kali bertemu di masjid (note: mushalla kantor ding.. saya salah..) wajahnya sedikit lain. lebih pucat dari biasanya. besok-besoknya kok malah lebih parah.. tapi sepintas lalu juga sepertinya jadi lebih pasrah.

Hari itu, ketika uang sahabat saya ini tinggal lima ribu yang saya ceritakan tadi, mereka berdua suami-istri kebingungan. Bingung, boro-boro buat bayar cicilan uang pangkal,  sedang buat belanja saja  uang mereka tinggal segitu-gitunya, yang paling  hanya cukup untuk dua hari bila dihemat. sahabat ini, bukan orang yang mudah meminjam uang (note: sebab kalaupun meminjam, kemampuan untuk mengembalikan juga terbatas tidak bisa sekaligus lunas.. ini alasannya untuk sebisa mungkin ngga pinjam uang).

Sahabat saya ini hanya bisa memohon pada Allah untuk diberikan jalan keluar sekaligus perlindungan daripada-Nya.

Malam itu, ia pulang dengan gontai. Hatinya seperti mencelos bila memikirkan hari ini uang istrinya pasti sudah habis untuk berbelanja.  Tinggal lima ribu di kantungnya. Ia harus memilih apakah untuk jaga-jaga bensin ataukah untuk makan keluarganya esok hari..
Mendadak ia teringat bahwa ia memiliki sejumlah jasa kepada beberapa orang yang belum dibayar. Tetapi ia ingat bahwa tagihannya belum jatuh tempo, jadi pastinya belum akan ia terima hari ini ataupun esok.
Ya sudahlah, waktu itu pikirnya, saya sudah berusaha sekuat tenaga, kalau ngga berhasil juga, pasti ada jalan keluar atau ada maksud-Nya dengan semua ini..

Entah mengapa, ia seperti dituntun oleh sesuatu, mendadak motornya harus menghindari sesuatu dan ia berkelit, berbelok arah ke jalan masuk sebuah bangunan dimana terdapat sebuah ATM. Berhenti pula ia mengambil napas, bersyukur bahwa ia mampu menghindari tabrakan.

Mendadak pintu ATM terbuka, seseorang baru keluar dari sana dan entah mengapa pintunya tidak menutup rapat. 
Tiba-tiba muncul pikiran sahabat saya ini untuk masuk ke ATM itu.
Sahabat ini tertawa kecil pada pikirannya sendiri karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki sejumlah uang yang cukup untuk diambil, tetapi kakinya tidak mau menuruti pikirannya.
Tahu-tahu ia sudah ada di dalam ruangan ATM dan sudah mencoba mengecek saldo.
Alangkah terkejutnya sahabat ini ketika melihat saldo banknya ada lebih dari jumlah yang ia butuhkan: untuk belanja sampai akhir bulan, untuk membayar cicilan uang pangkal putri mereka, dan bahkan masih lebih lagi..
Ia terkejut dan mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak salah lihat.
Dikeluarkan kartunya dan dimasukkannya lagi.Diceknya lagi. Angkanya sama.
Dicobanya cek mutasi beberapa transaksi terakhir, ternyata ada uang masuk seminggu yang lalu.. tentu  belum ketahuan siapa pengirimnya.
Ia coba bertanya pada C/S bank yang bertugas lewat telepon, tapi petugas di telepon tidak bisa menjawab dari siapa. 
Ia coba telepon dan sms "klien"-nya, ternyata sang klien juga belum membayar tagihannya.

Maka sahabat ini hanya bisa bersujud syukur. 
Lalu ia pulang dengan terpesona; naik motor sambil setengah oleng, antara ingin menangis bahagia dan tidak percaya serta penuh rasa syukur..

Dan itulah saat kapan saya (berhasil) menyusul dari belakang dan segera hentikan dia karena berbahaya. Dan sampailah cerita ini pada saya, dan kini pada teman-reman semua; dengan izin tentunya.
---

Kisah di atas adalah kisah nyata meski mungkin jarang dialami orang lain.
Saya aja ngga pernah mengalami meskipun ingin sekali.. :p
Ahem.. kalo ada rekan2 yang mau transfer semilyar ke saya diam-diam, jangan ya.. ntar diinterogasi petugas dikira uang suap lho.. cukuplah sepuluh atau seratus juta aja ^^  --halah!!--

Bukan soal keajaibannya yang ingin saya ceritakan.
Ini adalah kesimpulan sahabat tadi: 
Allah mungkin menggunakan ujian atau cobaan (note: atau musibah. ini tambahan saya, lagi2 karena perbedaannya suka terlalu tipis heheh) supaya kita manusia ingat pada-Nya..
Di sisi lain, setelah mengalami cobaan, maka anugerah sekecil apapun, yang dalam keadaan normal mungkin tidak terasa,  jadi begitu fenomenal.. Hati ini, seolah berebut antara menyebut AlhamduliLlah dan Allahu Akbar..

Iya juga kali ya.. 
 
PS: saat ini sih udah ketahuan itu uang dari siapa, dan uang itu memang halal untuk sahabat ini..  atas suatu jasa yang pernah diberikannya yang ia sendiri malah sudah lupa.. sebab kejadiannya sudah lama sekali.
jadi ingat pepatah ini: "Tuhan menjadikan segala sesuatu itu indah pada waktunya" (..ataukah "pada waktu-Nya" ? saya ngga jelas juga..)
V(^.^)V  

Wednesday, September 27, 2006

Perhatian - Perhatian ... hati hati jika anda menemui tulisan dari blogger ....


qeqeqeqeqe.. gara2 jurnalnya mas ari condro ini nih... gw dikasi PR..
hehe.. tapi kalo gitu jurnal gw ngga diisi-isi juga sih.. thank u.. thank u..
habis ini yang ada di one note tak pindahnya ke sini deh semuanya..


Makanan sebelum meninggal
--judul tugas aslinya nyeremin yah, diperhalus ajah-- kalo sebelum meninggal kita boleh minta makanan apapun yang paling berkesan buat kita, maka dalam urutan 5 besar makanan apa yang akan kita minta ?


1. Pindang Patin a la Ebok, Jl, Masjid Jami', Pangkalpinang
2. Tengiri Lempah Kuning a la Mr Asui, Kampung Bintang, Pangkalpinang
3. Mie Ayam Komplet a la Anggrek (ini aslinya mie ayam bangka neh!), Pasar Pembangunan, Pangkalpinang
4. Otak-otak Belinyu, Mitro, Pangkalpinang (ini aslinya otak-otak nie..)
5. Asem-asem Daging a la Gito-Goti, Jl. Air Selan, Pangkalpinang

lah.. pangkalpinang semua yah.. ini berarti juga makanan yang perlu dicoba kalo suatu saat ada yang datang ke Bangka-Belitung..
wah, itu padahal belum ada pempek-nya.. belum lagi yang di sungailiat..

jawaban ini untuk 5 besar makanan yang mau diminta kalo mau yah? tapi kalo kejadian beneran mau meninggal sih kali gw cuman minta air putih, biar masih ada waktu buat tobat ^-^

heheheh..
penerima tugas berikut --tunjuk langsung tanpa tender nie ;p adalah:
1. Mas Ekkie..
2. Lae Poltak..
3. Mas Tito..
4. Mas Bayu..
5. Bang Rusma..

hmm.. namanya juga tunjuk langsung tanpa tender, terserah yang ditunjuk maunya bagaimana (kan ini bukan pesan berantai hehehe) ^-^

dan selamat menikmati.. ^-^