Showing posts with label tulisankawan. Show all posts
Showing posts with label tulisankawan. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

Bayu Gawtama: (Mungkin Ada) Surga di Secangkir Kopi

Saya ingat kedua kakek saya, dari jalur Bapak maupun Ibu, selalu mewanti2 kami untuk berhati-hati dengan ucapan dan tindakan.
Hal itu dilakukan dengan menanamkan konsep "hukum sebab akibat" 
Tapii... Setelah dipikir-pikir kemari,  sepertinya "judul"-nya mungkin lebih cocok dengan apa yang sekarang sering disebut2 sebagai "vibrasi"

Konsepnya begini, seingat saya lho-ya: 
Setiap perbuatan/ucapan kita selalu diiringi dengan "semangat" atau "hawa" tertentu yang menular..  Ambil contoh tertawa senang atau menangis sedih, kita bisa merasakan itu dari orang lain, bukan?
Ketika orang lain "tertular" oleh vibrasi semangat itu, ia memancarkan kembali semangat atau hawa itu kepada orang lainnya lagi termasuk (kembali kepada) kita.

Mungkin itu sebabnya kebanyakan perbuatan baik kembali sebagai hal baik dalam hidup kita  --dan sebaliknya untuk perbuatan kurang baik :( 
Itu mungkin juga sebabnya masakan seseorang dengan orang lainnya bisa terasa berbeda, padahal takaran dan bumbu yang digunakan sama. Semangat atau rasa cinta-nya yang membuatnya berbeda :D

Di bawah ini kembali hadir tulisan mas Gaw Bayu Gawtama tentang itu. 

Selamat menikmati tulisan renyah di bawah itu. Mohon maaf pengantarnya rada-rada bantet, adonannya kurang "jadi" nih :(

Dan selamat hari kopi sedunia ^ ^
 -AMS-


link terkait: https://www.facebook.com/notes/gaw-bayu-gawtama/mungkin-ada-surga-di-secangkir-kopi/10151713022462956

Bayu Gawtama: (Mungkin Ada) Surga di Secangkir Kopi
29 September 2013 at 12:01

Kopinya biasa, sama dengan merek kopi yang biasa diminum, air panas pun dimana tempat sama, kekentalannya bisa dibuat sama, takaran gula bisa disesuaikan dengan selera, bahkan cara mengaduk serta hitungan adukkan pun bisa dijiplak sama persis. Namun kenapa rasa secangkir kopi bisa berbeda jika berbeda orang yang meraciknya?

Mungkin saja ini terlalu subyektif, tapi saya yakin tidak sedikit yang merasakan hal demikian. Kita senang jika yang membuatkan kopi adalah orang-orang yang memang membubuhkan cinta dalam racikannya. Tak selalu orang yang selama ini dekat dan membersamai kehidupan kita seperti isteri atau suami. Orang-orang ini bisa saja pembantu rumah tangga,office boy di kantor kita bekerja, atau sahabat perjalanan yang benar-benar mengenal kita luar dalam, dia tahu cara memberikan –apapun- yang terbaik untuk sahabatnya, terlebih hanya secangkir kopi.

Ikhlas dalam melayani dan memberi. Saya benar-benar tengah belajar untuk bisa melakukan yang terbaik dalam hal ini. Orang yang sedang saya jadikan guru adalah salah seorang office boy di kantor. Sebab, bukan cuma saya yang senang dengan kopi atau teh sajiannya, bisa dibilang semua orang di kantor, bahkan para tamu memujinya.

Kalau ada yang bilang, ya tentu saja sebagai OB, dia akan melayani semua orang di kantor karena memang itu tugasnya. Tapi, OB di kantor bukan cuma satu kan? Anda yang bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki beberapa OB, kadang memilih untuk dibuatkan kopi atau teh oleh orang yang menurut Anda “pas” racikannya. Lagi-lagi, bukan karena jenis kopinya, tapi “sesuatu” yang tersaji indah di dalam jiwa si peracik kopi.

Tentu saja bukan sedang belajar membuat kopi senikmat racikannya, namun yang dimaksud adalah belajar memiliki jiwa yang indah karena keikhlasan dalam melayani dan memberi. Melayani orang lain itu bukan cuma dilakukan oleh seorang office boy, pembantu rumah tangga atau siapapun orang yang posisinya dianggap dibawah. Sebagai suami, kita melayani seluruh anggota keluarga, sebagai isteripun demikian. Sebagai pimpinan perusahaan, kita pun melayani seluruh staf yang ada di perusahaan, meskipun ia pemimpin tertinggi. Sebagai Kepala Desa, melayani warga di desanya, dan sebagai Kepala Negara, ia melayani rakyat.

Ada hukum timbal balik yang kita yakini masih berlaku. Anda berbuat baik kepada semua orang, orang pun akan berbuat baik kepada Anda, meski tetap ada yang sebaliknya. Kita mencintai orang lain, balasan cinta pun akan kita dapatkan. Sayangi seluruh makhluk di muka bumi, maka bumi dan seisinya akan menyayangi kita. Begitu juga sebaliknya jika kita membenci, merusak dan membuat orang lain tak nyaman.

Seseorang yang ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain, harus pula pandai menghargai. Yang ingin dihormati, harus bisa terlebih dulu menghormati. Mereka yang ingin diberi, harus lebih banyak memberi. Siapapun yang ingin dicintai, harus memantaskan diri untuk dicintai. Berikan yang terbaik untuk orang lain, maka yang terbaik pula yang akan kembali kepada kita.

Bermula dari secangkir kopi yang tersaji nikmat dari racikan jiwa yang indah, boleh jadi keridhaan Allah berasal dari sini. Bukankah surga Allah pun atas dasar keridhaan-Nya? Wallahu ‘a’lam (Gaw)

Sunday, May 12, 2013

Buku Harian Ayah



AKU INGIN

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

cerita di bawah ini saya dapatkan dari milis BeCeKa  4 tahun yang lalu
semoga bermanfaat, khususnya buat saya sendiri.. yang memang lagi perlu :(


---------- Pesan terusan ----------
Tanggal: 18 Februari 2009 13:56
Subjek: [BeCeKa] FW: (repost) Buku Harian Ayah

---

Subject: (repost) Buku Harian Ayah

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. 

Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."
"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. 

Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidakmungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan? Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara - gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan
saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."


repost dari FB notes 18 Februari 2009
https://www.facebook.com/notes/ari-ams/buku-harian-ayah/52342152662

Tuesday, December 2, 2008

BayuGawtama: Sobat, Tolong Bantu Jawab SMS Ini...

Berikut adalah email Mas Gaw di forum_ayah@yahoogroups.com
Barangkali ada diantara rekan2 yang memiliki kelapangan rizki bagi mereka di bawah ini ?

Jujurly ma friends,
saya selalu iri dengan orang2 seperti Mas Gaw, juga Mas Andi PS cs di ACT, juga Mbak Kosi cs di Portalinfaq, juga dengan tim lapangan TIC (a.l -oom Budi Panci, oom Wisnu, nte Peni, nte Desma, nte Lina, oom Gerrit, oom Tj, dll dsb)..  Juga dengan Bu Edo dan teman2  (that means you brother Don, mbak Putri, dll dll saya malah sudah lupa nama-namanya), juga Mbak Rina dan Mas Heli di kelompok lain, bahkan dengan kawan-kawan saya di sini Lia, Ima, dan Mega.. (tidak disangka2 mereka bertiga ini relawan pengajar untuk anak2 "kolong") dan semua teman2 yang saya lupa sebut namanya..

Mereka semua yang saya sebut di atas ini berinteraksi langsung dengan mereka yang membutuhkan. Mereka care dan dengan sigap bertindak setiap saat dibutuhkan. Tanpa memandang agama, tanpa memandang ras, tanpa memandang status

Saya..?
Saya sempat mencoba ikut, tetapi ternyata saya tidak sekuat itu komitmennya.
Ini memang memalukan. Tapi yah.. gimana lagi.. Saya ngga akan menutup-nutupinya. Inilah saya, manusia yang baru bisa berkomitmen tetapi ternyata mempertahankan komitmen tidak semudah kelihatannya.

Tapi saya tahu, setidaknya saya masih bisa melakukan satu hal..Saya masih bisa, setidak-tidaknya,  menyebarluaskan jangkauan tawaran ini..
Btw, jika rekan2 ingin bertindak "sendiri" tidak melalui siapapun, saya rasa Mas Gaw tidak akan keberatan untuk memberikan informasi yang diperlukan.

BR, ari.ams.latoeng


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Bayu Gautama <bayugautama@yahoo.com>
Tanggal: 2 Desember 2008 20:26
Subjek: [Forum_Ayah] Sobat, Tolong Bantu Jawab SMS Ini...
- Sembunyikan kutipan teks -

Dalam sepekan ini, saya intensif berkirim pesan singkat dengan Ibu Uun, relawan kemanusiaan di Parung Panjang. Atas jasa ibu Uun inilah, akhirnya kami, para relawan_pelangi memupuk keberanian mengetuk hati para dermawan untuk berbagi cinta Idul Adha di Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, tanggal 8 Desember 2008 nanti.

Setelah berkali-kali menyambangi langsung desa yang dimaksud, kami melihat langsung kondisi sebuah desa yang sangat memprihatinkan. Desa Jagabita, hanya satu dari beberapa desa di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor yang merupakan desa tertinggal. Tingkat perekonomian yang rendah, pendidikan yang carut marut, keterampilan yang minim, dan akses pengetahuan yang terbatas, membuat desa tersebut dikelilingi berbagai problem.

Salah satu problem terbesar adalah kesehatan. Kasus gizi buruk bisa ditemui di banyak rumah-rumah di desa itu, juga beragam penyakit lainnya seperti TBC, kaki gajah, kanker terus menggerogoti kekuatan masyarakat. Mereka sangat miskin dan semakin tak berdaya karena tak memiliki cukup uang untuk biaya ke puskesmas. Kartu Gakin sangat mahal harganya, kadang mereka harus mengeluarkan uang sampai Rp. 350.000,- untuk mendapatkan kartu tersebut. Padahal, untuk ongkos ojek ke puskesmas yang sepuluh ribu saja mereka tak sanggup.

Pekerjaan rata-rata sebagai petani penggarap sawah dan ladang yang bukan milik sendiri. Dengan kondisi demikian, sekolah tak lagi penting buat keluarga miskin disana, bisa makan saja sudah bagus. Maka tak heran, jika ada sekolah yang terbengkalai, madrasah tak terurus, bangunan majelis yang nyaris roboh. Nasib guru pun menambah pilu keterpurukan sebuah komunitas, komunitas tertinggal. Ya, guru mengaji seperti Maryudi yang hanya dibayar Rp. 100,-/minggu per anak. Angka yang bahkan tak pernah dilirik oleh anak-anak kita.

Ibu Uun, adalah sosok perempuan berani yang tak pernah setengah-setengah berbuat untuk kampung yang bukan kampung aslinya. Ia hanya peduli pada urusan kemanusiaan, semangatnya tak pernah kendor meski beberapa kali diteror, didatangi aparat, bahkan diusir dari tempat tinggalnya sendiri. Saya hanya bersimpati melihat perjuangannya, agar ia tak sendiri berjuang untuk desa itu.

"Kalau saya diam saja, tahun ini dan tahun-tahun berikutnya akan banyak anak-anak yang mati pak… mati karena kekurangan gizi," Wanita ini bisa menunjukkan kepada Anda, tentang Ayu yang berusia 12 tahun hanya punya berat badan 10 kg, atau Chairul bocah 8 tahun dengan berat badan 9 kg. Ada juga Resa putri Guru Maryudi, usianya 4 tahun dengan berat badan di bawah 7 kg. Tanya sama bu Uun, berapa banyak lagi anak-anak seperti Chairul, Resa di desa itu, saya yakin Anda tidak akan sanggup mengikuti jejak langkah Ibu itu untuk menyambangi rumah-rumah yang di dalamnya terdapat anak-anak gizi buruk atau warga lain dengan jenis penyakit lainnya.

Memang kegiatan sehari tak menyelesaikan persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Tetapi bergerak dan bergabung dalam aksi nyata, jauh lebih bermanfaat ketimbang sumbang komentar, setidaknya bantulah menyebarkan informasi ini.

Oya, kembali soal pesan singkat (SMS) yang dikirim Ibu Uun dalam sepekan ini, berikut saya kutipkan bunyi SMS-nya:

SMS 1: "Aswr. Pak mau menolong ibu aan gak, tumor tulang parah, sekarang ada di rumah saya. karena diusir sama suaminya, plus dengan anak-anaknya 8 orang"

SMS 2: "Aswr. Mas Gaw, di rumah ada anak yang dibuang sama bapaknya. Umur 7 tahun, cewek, namanya Ipah. Ipah minta disekolahkan. Mas Gaw mau cariin orang tua asuh dong untuk Ipah, tks…"

Hmm… dua SMS dulu ya, bantu saya menjawab SMS-SMS ini. Dalam sembilan bulan terakhir, saya sudah sering menerima SMS semacam ini dari Ibu Uun. Saya minta tolong bukan karena saya lelah, tapi saya ingin berbagi kesempatan, berbagi ladang amal buat saudara-saudara. Terima kasih

Wassalaam
Gaw

a. BCA KCP Cinere No. Rekening :267-106-5401 atas Mohd. Heriyadi Arifin
b. Bank Muamalat Cab. Arthaloka No. 9000-251-877 an Kosirotun
c. BNI Cab. Bekasi No. 001-558-7547 an Kosirotun
d. Mandiri KCP Jkt. Wisma Indosemen : No. 122-000-441-8870 an Kosirotun
(mohon konfirmasi setelah transfer ke nomor 08128510372 dengan Kosirotun, ketik; nama spasi jagabita spasi jumlah)

silahkan lihat semua informasinya di
http://warnaislam.com
http://gawtama.multiply.com


Bayu Gawtama
Life-Sharer
http://bayugawtama.net
087 87 877 1961

Thursday, November 6, 2008

Kemenangan Obama dan Kepentingan Indonesia

Ini tulisan kawan Bina Yumanto tentang Obama

Selain yang sudah disebutkan di bawah, Bagi saya, kemenangan Obama menyiratkan harapan perubahan paradigma (mudah2an demikian :) dari USA yang main bombardir dulu dan minta maaf belakangan bahwa tuduhannya salah (dasar anak kecil sok jagoan ;p) menjadi rekan yang mencoba lebih paham dan lebih mencoba untuk belajar hidup sama-sama.
Juga bagi saya, Obama seperti "jalan keluar" (mudah2an begitu) buat ekonomi amerika.. kalo ekonomi amerika pulih, minimal eksportir dan pedagang/petani/perajin kita kembali mendapatkan pasarnya :) sukur2 kalo nular perbaikannya ke Indo.. yah agak lebih dari minimal tuh ya minyak stabil di USD 60 / barrel dan USD stabil di IDR 2,500 lah  *halah*sambil menghindari timpukan rekan2 yang incomenya USD*

udah ah.. mengko ndak tambah kethok nek aku bodho bianget ;p

BR, ari.ams
PS: emang ada yah KPP Kidzania ? ;p

http://www.facebook.com/note.php?note_id=47131290357&ref=nf&

Bina Yumanto's Notes


Kemenangan Obama dan Kepentingan Indonesia


Mungkin banyak dari kita Warga Indonesia ikut gembira dan merasakan kemenangan yang sama saat Senator Barrack Obama memenangi Pemilu Amerika Serikat. Sebagian besar merasa bahagia dan bangga karena Obama pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia. Sebagian lagi (termasuk saya) merasakan semangat egaliter dan persamaan hak, tanpa memandang perbedaan ras, warna kulit, suku dan agama, sehingga semboyan E Pluribus Unum yang artinya kurang lebih sama dengan Bhineka Tunggal Ika benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, menarik menyimak analisis dari Dewi Fortuna Anwar di Harian Kompas, 3 November 2008 (kalau tidak salah). Memang benar bahwa Partai Demokrat didukung oleh kalangan aktivis lingkungan, aktivis hak asasi manusia dan aktivis-aktivis NGO lainnya. Hal ini banyak berdampak pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang cenderung mengedapankan (kalau tidak boleh disebut mencampuri urusan dalam negeri negara lain) isu-isu lingkungan hidup, kelestarian alam, hak asasi manusia dan demokrasi. Kebijakan tersebut tentu saja dapat mempengaruhi ekspor hasil alam Indonesia, kebijakan dan kerjasama Militer, Hankam dan Demokrasi di Indonesia.

Sedangkan banyak perusahaan besar AS, terutama di bidang pertambangan dan energi adalah pendukung Partai Republik. Sehingga kebijakan luar negeri AS ketika dipimpin oleh Partai Republik adalah bagaimana memperoleh akses kepada sumber-sumber ekonomi di seluruh dunia, baik dengan cara damai maupun perang. Partai Republik juga tidak terlalu pusing dengan penerapan Demokrasi dan HAM di negara-negara lain, sepanjang masih mendapat akses ekonomi yang menguntungkan.

Dari analisa DFA tersebut juga didapat fakta bahwa pemerintah Orba eksis sebagian besar (kebetulan?) pada saat AS dipimpin Partai Republik, dan Pak Harto tumbang pada saat Presiden Bill Clinton (Partai Demokrat) memimpin AS. Demikian pula sejak itu Indonesia dirundung embargo ekonomi dan militer yang bahkan baru mulai lepas pada saat kepemimpinan Presiden George W Bush dari Partai Republik.

Kita sebagai bangsa yang mandiri harus mampu mengambil hikmah dan manfaat dari perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat, tentunya dalm hal-hal yang dapat semakin menguntungkan rakyat dan bangsa Indonesia seperti perbaikan dan konservasi lingkungan hidup, pengelolaan sumber daya alam secara bijak, penghematan energi, peningkatan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Pemimpin Indonesia harus mengelola hubungan luar negeri RI - AS untuk sebesar-besar kepentingan bangsa dengan melihat politik LN yang akan dikembangkan oleh Presiden Barrack Obama dari Partai Demokrat yang mengedepankan sifat-sifat di atas.

Satu pertanyaan yang tersisa di hati kecil saya : apakah jika negosiasi blok Cepu dilakukan di era Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat seperti Barrack Obama, apakah pengelolaannya akan jatuh ke tangan bangsa Indonesia sendiri?
Satu hal yang pasti, mulai sekarang semestinya siapapun Presiden Amerika Serikat, Apapun Partainya, kita sendiri, bangsa Indonesia yang menentukan nasib bangsa Indonesia. Bukan Obama, Bukan George W Bush, Bukan Republik bukan Pula Demokrat.

Kita Untung Bangsa (Indonesia) untung...

Bina Yumanto
Sent from my Strawberry powerred by Nasi Pecel

Friday, October 3, 2008

Dandossi Matram: "Subprime Mortgage" dan "Bailout": Selanjutnya...


http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/03/10422462/quotsubprime.mortgagequot.dan.quotbailoutquot.selanjutnya...
/Home/Bisnis & Keuangan/Fiskal & Moneter
KRISIS EKONOMI GLOBAL
"Subprime Mortgage" dan "Bailout": Selanjutnya...
Gedung Capitol, tempat berkantornya senat Amerika Serikat. Senat menyetujui rencana penyelamatan pasar keuangan senilai 700 miliar dollar AS, Rabu (1/10), di Capitol Hill, Washington.
Jumat, 3 Oktober 2008 | 10:42 WIB

DANDOSSI MATRAM

Sungguh sulit dipercaya bahwa pembiayaan kredit properti yang tidak hati-hati bisa meluluhlantakkan ekonomi negara adidaya semacam Amerika Serikat. Seluruh lapisan masyarakat di Amerika dan dunia saat ini menyesali investasi di surat utang subprime mortgage yang telah menyapu bersih modal mereka.

Subprime mortgage (SM) merupakan kredit perumahan yang skema pinjamannya telah dimodifikasi sehingga mempermudah kepemilikan rumah oleh orang miskin yang sebenarnya tidak layak mendapat kredit. Tingkat bunga The Fed, sepanjang tahun 2002-2004 yang hanya sekitar 1-1,75 persen, membuat bisnis SM dan perumahan booming. Tingginya bunga pinjaman SM (pada saat bunga deposito rendah) menarik investor kelas kakap dunia (bank, reksadana, dana pensiun, asuransi) membeli surat utang yang diterbitkan perusahaan SM.

Ketika The Fed, mulai Juni 2004, bertahap menaikkan bunga hingga mencapai 5,25 persen pada Agustus 2007, kredit perumahan mulai bermasalah akibat banyaknya nasabah yang gagal bayar. Dampaknya, banyak perusahaan penerbit SM rugi besar karena nasabahnya gagal bayar dan perusahaan SM tidak mampu membayar utang karena tidak dibayar nasabahnya. Terjadi banyak penyitaan rumah (1 dari 10 rumah di Cleveland, AS, dalam kondisi tersita). Pasar properti berubah menjadi seller market akibat banyak yang ingin menjual propertinya sehingga harga properti turun 10 persen.

Investor institusi keuangan yang membeli surat utang SM rugi besar karena surat utangnya hanya bernilai sekitar 20 persen. Akibatnya, harga saham atau nilai aktiva bersih dari investor yang memiliki SM jatuh dan membuat investor rugi besar.

Butuh likuiditas

Sialnya, kebutuhan likuiditas juga mendesak. Selain tiadanya capital gain dan penerimaan cash inflow dari kupon bunga SM yang gagal bayar, juga ada kebutuhan dana tunai karena sebagian investor yang mencairkan investasinya. Parahnya, pada saat bersamaan semua pihak butuh likuiditas, yang berakibat terjadinya credit crunch (kelangkaan likuiditas).

Akibatnya, untuk menutupi kebutuhan likuiditas, mayoritas investor terpaksa menjual portofolionya, termasuk sahamnya, secara besar-besaran, di seluruh dunia yang mengakibatkan terempasnya pasar modal dunia.

Akhirnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) turun tangan sepenuhnya mengatasi masalah yang ditimbulkannya sendiri. Dana 700 miliar dollar AS, secara bertahap, akan digelontorkan ke pasar untuk membeli surat utang SM yang bermasalah, yang telah membuat ekonomi AS babak belur.

”Bailout” dijegal

Rencana bailout, walau telah mendapatkan keputusan Senat, ternyata terjegal oleh keputusan House of Representative. Bursa global yang sudah bereaksi positif saat rencana diajukan kembali terkapar. Khusus Wall Street, indeks jatuh dengan angka yang ajaib. Indeks jatuh 777,7 point sebagai respons atas penolakan bailout senilai 700 miliar dollar AS tersebut. Mengindikasikan sedemikian parahnya krisis yang tengah terjadi di AS.

Saat ini, rencana bailout kedua segera diajukan kembali, dengan revisi tambahan usulan kenaikan penjaminan deposan dari 100.000 dollar AS menjadi 250.000 dollar AS untuk menenangkan deposan yang panik. Serta membebaskan Federal Deposit Insurance Corp meminjam tanpa batas kepada Departemen Keuangan saat membutuhkan dana.

Pertanyaannya, bila bailout ini disetujui, apakah kita bisa berharap krisis ekonomi global akan cepat pulih kembali? Ada baiknya kita lihat bagaimana bailout ala Amerika Serikat ini dilakukan.

”Bailout” untuk surat utang

Bailout dilakukan dalam bentuk pemerintah akan membeli surat utang SM yang macet, yang dipegang oleh investor—yang merupakan investor institusi keuangan, seperti bank, reksadana, dana pensiun, dan asuransi. Harga pembelian surat utang adalah harga pasar, yang saat ini jauh di bawah nominal. Dana bailout diperoleh dari penerbitan surat utang pemerintah di pasar uang. Setiap perusahaan yang menjual surat utang ke pemerintah terikat ketentuan tentang pembatasan gaji top eksekutif.

Dengan skema bailout yang seperti ini, manfaat utama yang bisa terlihat hanyalah berkurangnya tekanan penjualan portofolio, khususnya saham, secara global karena nantinya, dengan bailout, kebutuhan likuiditas, selain dari saham, bisa dipenuhi juga dari penjualan surat utang SM kepada pemerintah.

Namun, skema ini tidak akan mencegah kerugian yang diderita investor karena, dengan prinsip akuntansi marked to market, kerugian tetap harus diakui dalam pembukuan investor yang memiliki surat utang SM yang bermasalah. Kerugian yang besar tetap berpotensi menggerus modal yang mengakibatkan insolvensi, yang bermasalah pada ekuitas yang negatif bila tidak dilakukan injeksi modal baru.

Investor sendiri diragukan akan bersedia menjual surat utang mereka ke pemerintah dengan harga pasar. Mereka pasti akan berusaha keras mencari alternatif pendanaan lainnya daripada merealisasikan kerugian yang sangat besar dalam buku mereka.

Pemilik rumah tampaknya juga tidak mendapat manfaat banyak dari bailout ini karena kewajiban cicilan dengan bunga pasar tetap berlaku. Keringanan paling berbentuk kelonggaran dalam kriteria penyitaan oleh kreditor bila peminjam tidak mampu membayar kewajibannya.

Perusahaan penerbit SM juga tidak diberikan perhatian dalam bailout ini. Padahal, masalah utama krisis ini adalah nasabahnya yang gagal bayar, pasar properti yang over supply, serta nilai properti yang anjlok sehingga mereka tidak sanggup membayar kewajibannya kepada investor keuangan.

Skema bailout ini agak diragukan efektivitasnya dan manfaatnya bagi pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Bayangkan ketika investor bertahan tidak menjual surat utangnya, atau pemilik rumah tetap tidak sanggup membayar kewajibannya dan penerbit surat utang tidak sanggup membayar.

Skema bailout ini berbeda sekali dengan saat Pemerintah Indonesia mem-bailout bank yang bermasalah. Saat itu, pemerintah mem-bailout dengan cara mengambil alih kepemilikan saham bank yang bermasalah melalui rekapitalisasi bank kemudian menjual sahamnya secara tender (yang sayangnya penjualannya terlalu dini dengan harga murah dan berorientasi ke investor asing).

Hindari intervensi

Kalau bailout ala AS, hanya untuk surat utang saja. Mungkin, prinsip kapitalisme dan liberalisme membuat bailout kepemilikan (saham) oleh pemerintah, yang bersifat intervensi, menjadi sesuatu yang dihindarkan di Amerika Serikat. Padahal, Inggris dengan cepat menasionalisasikan bank kedua terbesar di Inggris, Bradford & Bingley, juga Northern Rock’s yang bermasalah gara-gara subprime mortgage ini. Begitu pula dengan Fortis yang sebagian sahamnya diambil alih Pemerintah Belgia dan Belanda.

Tidak heran, ketika proposal bailout ini disetujui Kongres pada hari Minggu, pada perdagangan saham hari Seninnya, indeks global mengalami penurunan. Bisa jadi penurunan tersebut merupakan respons negatif terhadap usulan bailout yang memang tidak menyembuhkan penyakitnya secara tuntas.

Oleh karena itu, dengan skema bailout ini, janganlah kita terlalu berharap bahwa bailout ini akan tuntas menyelesaikan krisis ekonomi Amerika Serikat dan global dalam waktu 1-2 tahun ke depan.

Dampak terhadap Indonesia

Krisis SM sangat merugikan investor keuangan dunia yang juga berinvestasi di pasar modal dan uang Indonesia. Pukulan terbesar memang di pasar modal mengingat saham merupakan instrumen likuid, begitu pula deposito. Kebutuhan likuiditas yang tinggi membuat mereka keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Untuk surat utang negara (SUN), tekanan tidak terlalu parah karena merupakan instrumen jangka panjang yang bebas risiko yang dimungkinkan ”disekolahkan” dalam bentuk REPO. Selain itu, pasar sekunder yang ada belum memungkinkan investor asing keluar secara instan dalam jumlah besar.

Penerbitan SUN baru untuk sementara waktu akan terganggu dengan masih akan absennya investor asing.

Tidak terlalu terpengaruh

Ekspor beberapa produk mungkin terganggu karena menurunnya permintaan. Namun, dengan pertumbuhan pasar domestik yang pesat, bisa meminimalisasi dampak penurunan pasar ekspor secara agregat. Dengan pasar domestik yang kuat, pendanaan dalam negeri yang likuid, serta pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh, seharusnya Indonesia tidak terlalu terpengaruh krisis yang terjadi di Amerika Serikat. Bahkan, krisis ini sebenarnya merupakan peluang Indonesia menyelinap lebih gesit.

Sejarah juga mencatat bahwa, pascakrisis moneter di Indonesia, setiap terjadi krisis di Amerika Serikat (9/11, Enron, SM), Indonesia berada pada posisi yang lebih baik atau malah diuntungkan. Buktinya, nilai kurs rupiah dalam jangka panjang malah relatif stabil atau menguat.

DANDOSSI MATRAM, Pengamat Pasar Modal


Tuesday, July 15, 2008

Jenny Jusuf: Mencari Bahagia

tulisan aslinya ada di milis sekolah-kehidupan
namun demikian, penulis aslinya juga mempost tulisan ini di blog-nya sendiri, di sini 

tulisan ini, bagi saya, seperti sebuah bubur-ayam-buat-jiwa yang sangat... hmm.. baca sendiri deh..

salam, ari ams


Monday, July 14, 2008


Mencari Bahagia

oleh: Jenny Jusuf

Di kaki gunung, tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, hidup seorang pemuda yang kerjanya menebang pohon untuk dijadikan kayu api dan dijual di pasar. Pekerjaan itu sudah ia lakukan selama belasan tahun, nyaris seumur hidupnya.

Ketika ia kecil, belum bisa melangkah apalagi bicara, setiap hari orangtuanya menjunjungnya dalam jarit dan membawanya ke pasar. Di sanalah, untuk pertama kalinya, bocah itu mengenal dunia. Dunia yang lebih luas dari sepetak pekarangan sempit yang ditumbuhi ketela dan rumah kayu yang sederhana.

Pasar adalah tempatnya bertumbuh. Setiap hari, setiap jam, bocah itu memperhatikan tingkah laku orang-orang yang lalu-lalang; bertransaksi, sekadar melihat-lihat, sampai berkelahi.

Pasar becek yang kadang menguarkan bau amis itu telah menjadi dunianya selama bertahun-tahun. Ketika orangtuanya meninggal, ia melanjutkan berjualan kayu di tempat yang sama, di pojok yang sama, selama bertahun-tahun.

Ia jauh lebih suka berada di pasar, karena pasar selalu dipenuhi orang-orang yang beraneka ragam, dengan berbagai perangai unik yang memancing rasa ingin tahunya.

Sering, sambil menunggui dagangannya, sang pemuda mengamati keadaan sekitar, berharap menemukan sesuatu yang lain dari biasanya -- sesuatu yang menantang indera dan intuisinya.

Ia suka mengamati ibu-ibu bersanggul yang menenteng tas yang tampak mahal, diikuti babunya yang tergopoh-gopoh berusaha mengimbangi kecepatan jalan sang majikan. Mereka tampak kontras di antara pengunjung pasar yang rata-rata berpakaian seadanya dan bersandal lusuh. Sesekali, wanita itu berbicara kepada si babu dengan nada cepat sambil menunjuk sesuatu, dan babu itu akan segera memilih satu dari tumpukan barang yang ditunjuk –yang kualitasnya paling baik, paling besar, paling bagus- dan memasukkannya ke keranjang belanja. Sang Nyonya akan membayar tanpa menawar lebih dahulu.

Si pemuda mengamati semua itu tanpa bersuara. Mungkin memang tak ada gunanya nyonya besar itu menawar. Tas yang dijinjingnya tampak lebih mahal dari semua dagangan di pasar ini dijadikan satu.

Ketika si Nyonya dan babunya berlalu, pemuda itu berpikir,”Bagaimana rasanya memiliki banyak uang? Apa rasanya bisa membeli sesuatu tanpa menawar? Bagaimana rasanya punya babu yang bisa diperintah sesuka hati?”

Menjelang gelap, saat pedagang-pedagang lain membereskan jualan, pemuda itu bersembunyi di pojokan pasar -- di tempat yang agak sepi dan jarang dilalui orang. Kayu-kayu dagangannya telah terikat rapi dan disembunyikan di tempat yang aman, siap diangkut kapanpun.

Ia tak perlu menunggu lama. Seorang pedagang kain yang berjalan kaki sambil bersiul-siul menghitung uang melintas di depannya. Dengan cepat ia menarik penutup wajah yang tersampir di kepala, menutupi seluruh mukanya kecuali hidung, dan merampas dompet kulit di genggaman si pedagang.

Pedagang yang kaget itu berteriak, namun si pemuda lebih cepat dari siapapun. Ia berlari berbelok-belok, memasuki gang-gang sempit secepat kilat, mengecoh para pengejar. Ia masuk ke dalam tempat sampah besar dari semen, mengayunkan penutupnya yang terbuat dari besi berkarat, dan bersembunyi di sana, mendengarkan suara para pengejarnya memudar di kejauhan, semakin mengecil ketika mereka memutuskan untuk berpencar ke arah yang berbeda-beda, dan akhirnya lenyap sama sekali.

Ketika hari telah benar-benar gelap, ia keluar, kembali ke pasar untuk mengambil kayu-kayunya, dan berjalan pulang. Sesampainya di pondok, ia melempar gelondongan kayu ke sudut. Ia tak akan membutuhkannya dalam waktu dekat. Uang yang diperolehnya cukup untuk bertahan hidup selama sebulan, jika ia berhemat. Seminggu, jika ia berleha-leha dan membelanjakannya sesuka hati.

Pemuda itu memilih yang kedua. Dengan saku penuh uang, ia berjalan ke rumah makan terdekat, memesan makanan termahal yang bisa diperolehnya dan melahap semuanya hingga kekenyangan. Lalu ia pergi ke rumah pedagang kain, membeli beberapa meter satin dan mengunjungi penjahit terkemuka di seberang jalan, memesan 3 potong pakaian dengan kualitas yang jauh lebih baik dari yang pernah dikenakannya seumur hidup. Belum cukup puas dengan semuanya, ia pergi ke sudut jalan yang lain, daerah kumuh tempat anak-anak gelandangan, dan memanggil seorang anak yang kelihatan agak bodoh.

“Jadilah pelayanku selama seminggu,” katanya. “Pijat kakiku, ambilkan air dari sungai untuk mandiku, cuci pakaian-pakaianku, siangi pekaranganku, masakkan nasi dan lauk untukku, dan tebanglah kayu bagiku,” ia memperlihatkan gulungan uang kepada si anak, yang segera menyambarnya tanpa bertanya sedikitpun.

Malam itu, untuk pertama kalinya, si pemuda menikmati kehidupan bak seorang raja. Ia menghambur-hamburka n air mandi (merasa tak perlu berhemat karena bukan ia yang susah-payah mengangkutnya dari sungai), makan sayuran segar yang dipetik dan dimasakkan si anak untuknya, serta tertidur sambil merasakan pijatan nyaman di kakinya.

Hari demi hari berlalu. Uang di sakunya mulai menipis. Si pemuda menyadari kehidupan mewahnya akan segera berakhir. Ia ingin merampas lagi, namun diurungkannya. Meskipun bisa mendatangkan uang dengan cepat dan mudah, setiap malam tidurnya diganggui ketakutan dan mimpi buruk. Ia selalu bangun dengan rasa bersalah, kepada dirinya sendiri dan kepada orangtuanya yang selalu mengajarnya untuk berlaku jujur.

“Aku tak akan melakukan hal itu lagi,” gumamnya pada hari ketujuh, ketika uang di sakunya tinggal selembar. Ia menyodorkan uang itu kepada si anak yang baru selesai mengikat kayu. “Ambillah, dan pergilah. Aku tak memerlukanmu lagi.” Setelah itu, ia memanggul gelondongan- gelondongan kayu dan berjalan ke pasar, mendirikan tenda jualannya, dan kembali pada aktivitas rutinnya: berdagang sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari, datanglah seorang tukang cukur ke pasar itu. Ia menyewa sebuah los kecil tidak jauh dari tempat berjualan si pemuda dan memasang papan bertuliskan: CUKUR RAPI, TUA-MUDA SEPULUH SEN.

Tertarik melihat harga yang diajukan, beberapa orang menghampiri los itu. Terdorong penasaran, si pemuda ikut mendekat. Ia tak mau memotong rambut, hanya ingin melihat seperti apa di dalam.

Si tukang cukur ternyata sangat piawai bicara. Sambil menggunting rambut, ia terus mengajak pelanggannya mengobrol, menceritakan kisah-kisah lucu dan bersenda gurau. Hasil pekerjaannya juga bagus. Setiap orang yang keluar dari los itu merasa puas dan berjanji pada diri sendiri akan kembali ke situ. Apabila tidak memotong rambut, mereka bercerita tentang si tukang cukur kepada orang-orang lain. Dalam sekejap, si tukang cukur kebanjiran pelanggan. Losnya tak pernah sepi pengunjung.

Si pemuda memperhatikan bagaimana laki-laki berperawakan kecil yang agak bungkuk itu selalu tertawa. Wajahnya tak pernah sepi dari senyum. Ia ramah, tak segan mengobrol dengan siapa saja (bahkan anak kecil sekalipun), dan tampak sangat menikmati pekerjaannya. Itulah yang memunculkan senyum di wajahnya, setiap hari, setiap menit.

Pemuda itu mulai berpikir, alangkah enaknya jadi tukang cukur. Uangnya mungkin tak seberapa karena ia tak memasang tarif mahal, namun ia tampak bahagia. Tukang cukur sederhana itu menularkan kegembiraan pada orang-orang dan ia disayangi pelanggan-pelanggan nya. Mencukur juga pekerjaan yang mengasyikkan. Bunyi kres-kres yang terdengar setiap kali gunting digerakkan menggelitik telinga, dan para pelanggan selalu tersenyum puas setiap habis dicukur.

Maka si pemuda meninggalkan pondoknya di kaki gunung, pindah ke kota, menguras pundi-pundinya dan menukarkan isinya yang tak seberapa dengan sewa los selama setahun, persis di seberang los si tukang cukur. Ia memasang papan: PANGKAS RAPI, TUA-MUDA DELAPAN SEN. Ia akan sangat merugi dengan ongkos semurah itu, namun ia tak keberatan apabila hasilnya sebanding dengan pengorbanannya, karena yang dicarinya kini bukan keuntungan, melainkan kebahagiaan. Ia menginginkan senyuman yang dimiliki si tukang cukur.

Tertarik dengan harga yang diajukan, pengunjung pasar berduyun-duyun menghampiri losnya. Mereka duduk dan menunggu gunting cukurnya bekerja, dan mereka menantikan cerita-cerita yang akan dibawakannya. Namun si pemuda tak pandai bercerita. Sehari-hari, ia hanya pedagang yang lebih banyak diam kecuali untuk bertransaksi, dan ia tak punya lelucon-lelucon memikat untuk dikisahkan. Ia juga bukan sosok berkepribadian menarik yang pintar bicara. Maka, ia mengerjakan tugasnya dalam diam. Selesai dipangkas, seorang laki-laki memandang cermin, berpaling ke arahnya dan berkata, “Kau tak bisa mencukur dengan baik, dan selera humormu payah.”

Si pemuda terdiam, hatinya mencelos. Seharian itu ia tak sanggup tersenyum. Pikirannya sering mengembara ke uang tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dan terbuang sia-sia di los sempit itu. Di penghujung hari, tamu terakhirnya, seorang anak kecil dengan rambut ikal yang manis, menangis meraung-raung ketika melihat wajahnya.

Hari-hari berikutnya ternyata lebih buruk dari yang diduganya. Orang-orang kecewa dan menyebarkan berita buruk mengenai salon baru yang murah namun tidak memuaskan. Mereka kembali ke los tukang cukur lama, sekadar untuk bercakap-cakap dan mendengarkan cerita-ceritanya. Mereka tertawa, si tukang cukur tertawa, namun sebaris senyum pun tak tampak di wajah si pemuda.

Kebahagiaan yang dinantikannya tak kunjung tiba. Senyum yang ditunggu-tunggunya tak sudi mampir di wajahnya, walau hanya sesaat. Makin lama, losnya semakin sepi. Dari dalam ia bisa mendengar obrolan-obrolan riang di los seberang, dan hatinya kian merana. Ia patah arang.

Suatu siang, ketika ia sedang duduk menyesali nasib, seorang gadis mengetuk pintu los. Spontan, ia berdiri dan menepis debu di pakaiannya, memasang senyum terbaik yang bisa diusahakannya, dan bersiap-siap memotong rambut si gadis yang panjang sebahu.

Gadis itu duduk dan membuka pembicaraan. Sementara gunting bekerja, mereka terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Si gadis sangat suka berceloteh dan perkataannya segar menggembirakan. Ia juga memiliki selera humor yang baik. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, si pemuda tertawa lepas dan merasa bahagia.

Sepeninggal gadis itu, ia merasa jauh lebih baik. Senyum terus tersungging di bibirnya hingga malam tiba dan ia terlelap. Gadis itu telah membawakan senyuman yang dinanti-nantinya.

Dua hari kemudian, si gadis datang lagi, kali ini membawa seorang bocah laki-laki. Keponakannya. Sementara gunting bekerja, mereka kembali terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Tahulah si pemuda bahwa gadis itu baru pindah ke sana, dan ia memiliki dua keponakan yang lucu-lucu. Ia juga tahu bahwa si gadis sangat menyukai langit senja, pelangi dan aroma tanah menjelang hujan. Yang terpenting, kini ia tahu, gadis itu bisa memberikan apa yang dicarinya selama ini: kebahagiaan.

Mereka semakin sering bertemu. Terkadang si gadis mampir ke losnya hanya untuk bercakap-cakap. Bila los sedang sepi pengunjung, si pemuda akan menutupnya dan pergi ke rumah si gadis, untuk sekadar melewatkan senja dan mendengarkan jangkrik bernyanyi. Semakin lama, hati pemuda itu semakin dipenuhi perasaan aneh yang tak bisa dijelaskannya. Perasaan itu demikian kuat dan tak bisa digambarkan dengan kata apapun, kecuali cinta.

Ia jatuh cinta.

Malam-malamnya mulai diisi mimpi indah tentang seorang gadis yang membawakan senyuman baginya. Hari-hari sepinya mulai diisi dengan khayalan tentang gadis yang suara renyahnya menularkan gelak tawa. Lamunan-lamunannya mulai diisi dengan wajah manis yang senantiasa berbinar, yang mengajarinya bergurau dan bercerita.

Suatu hari, pada senja yang indah setelah hujan, ketika matahari mulai menghilang di ufuk, si pemuda mengutarakan isi hatinya kepada sang gadis. Ia jatuh cinta, dan berharap sang gadis bersedia menyambut cintanya.

Gadis itu menatapnya dengan mata bulat berbinar. “Kenapa?”

“Karena engkau bisa memberikan kebahagiaan untukku.” Si pemuda menjawab sambil mengulurkan setangkai mawar. “Dan aku ingin kebahagiaan itu kekal adanya, maka aku memintamu menjadi milikku selamanya.”

Tanpa disangka, binar gembira di wajah si gadis meredup. Sedikit.

Hanya itu? Karena aku bisa membuatmu bahagia?”

Pemuda itu mengangguk. Ia meraih tangan si gadis, mengecupnya lembut. “Karena engkau bisa membuatku bahagia. Engkau telah membawakan senyuman yang telah lama kucari.”

Si gadis menarik tangannya. Belum habis rasa terkejutnya, si pemuda menatap pujaannya dan menemukan kaca di mata gadis itu.

Ia terperanjat. Kenapa ia menangis? Apa salahnya?

“Kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri.”

Sebelum si pemuda sempat memahami maksud perkataan itu, sang gadis telah beranjak pergi.

Pemuda itu pulang dengan bingung dan sengsara. Ia merasa jauh lebih merana dari yang sudah-sudah. Untuk sebuah alasan yang tidak dipahaminya, gadis pujaannya telah menolak cintanya. Kini ia hancur berkeping-keping. Rusak dan takkan dapat diperbaiki. Hidupnya sudah berakhir.

Ia duduk di depan losnya, termangu. Mawarnya sudah lama dibuang, dan ia sedang memikirkan cara terbaik untuk mengakhiri hidupnya. Ia sedang menimbang-nimbang, hendak menggantung diri atau menusukkan belati ke lehernya, tatkala si tukang cukur beranjak mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

Si pemuda tak menyadari kehadiran tukang cukur itu, sampai ia merasakan tepukan ringan di pundaknya. Si tukang cukur menatapnya sambil tersenyum, dengan binar yang tak pernah lepas dari wajahnya.

“Aku tak mengerti.” cetus si pemuda. Dan kata-kata berhamburan dari mulutnya. Kegalauan dan kepahitan hatinya tumpah ruah. Si tukang cukur hanya diam dan mendengarkan.

“Aku hanya mencari bahagia,” bisik pemuda itu. “Mengapa begitu sulit?”

Si tukang cukur merenung sejenak, lalu tersenyum arif. “Mungkin kau tak perlu mencarinya, Nak. Mungkin kau hanya perlu berdamai dengan dirimu sendiri.”

Pemuda itu menatap si tukang cukur, keningnya berkerut bingung. “Apa maksudmu? Aku tidak bermusuhan dengan siapapun.”

“Kau tidak bermusuhan dengan siapapun,” si tukang cukur mengulangi. “Kau hanya perlu menerima dirimu sendiri, apa adanya, tanpa syarat.”

“Aku tidak mengerti,” gumam si pemuda, kini tampak lelah. Selain patah hati dan sengsara, apakah ia juga telah menjadi dungu? “Aku hanya ingin bahagia. Di mana salahnya?”

Lagi-lagi si tukang cukur tersenyum bijak. “Tak ada yang salah, Nak. Engkau hanya menganggapnya sebagai kesalahan, karena yang terjadi tidak sejalan dengan keinginanmu. Bila bahagia yang kau inginkan, engkau hanya perlu berhenti bertanya apa yang salah.”

Pemuda itu terdiam. “Namun hidupku tidak sempurna,” ucapnya perlahan, teringat pada kegagalan dan perbuatan buruknya di waktu lampau. “Aku bukan orang yang cukup baik.”

“Engkau tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia, Nak, karena hidup ini indah apa adanya.”

Si pemuda mengangkat muka dan menemukan lengkungan lembut di wajah si tukang cukur, yang tiba-tiba kelihatan begitu bijaksana dan berhikmat.

Tukang cukur itu pamit pulang, dan si pemuda tetap duduk di depan losnya hingga lewat tengah malam. Ia memikirkan segala sesuatu, apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang baru saja dialaminya, dan nasehat-nasehat si tukang cukur. Mendadak, ia tidak ingin mengakhiri hidupnya lagi.

----

Tiga purnama berselang, saat sang gadis menyirami tanaman di kebun mungilnya, pemuda itu menghampirinya. Kali ini tanpa membawa apa-apa. Hanya sebuah garis lengkung di wajahnya yang berbinar.

Si gadis menatapnya, bergeming.

“Aku tak lagi mencari bahagia,” ucap si pemuda. “Aku telah bersua dengan damai, dan aku tak membutuhkan apapun lagi untuk bisa tersenyum.”

“Hidupku tak sempurna,” ia berkata lebih lanjut, “namun aku mencintainya apa adanya. Dan aku tahu, bersamamu, hidupku akan menjadi utuh; begitu pula dirimu. Maukah engkau menjadi sempurna bersamaku?”

Gadis itu tersenyum. Senyuman termanis yang pernah tampak di wajahnya. Dan kali ini, si pemuda tahu, ia benar-benar tak butuh apapun lagi untuk menjadi bahagia.

Friday, May 30, 2008

Dunia Lain di Luar Dunia Kecilmu

You know something ?

For me, this is the real Somewhere Out There..

The differences between American Tail version and this version, maybe..
just maybe..
maybe there is NO ONE THINKING of YOU.

But please don't be sad about it

Why don't you try to see it with another perspective ?
It doesn't always have to be someone thinking about you,
You can do that too
It is YOU who should think about them who needed..
so then he/she can sing Somewhere Out There or some songs just like that,
and can sleep with a new hope of tomorrow and got a brand new feeling: BEING LOVED

This is minimal thing we  can do, right?
Don't forget there are another men's right on our own fortune
 
[ari.ams]

Link

Friday, April 25, 2008

Priyadi: Al Gore dan 'An Inconvenient Truth'

diambil dengan sepengetahuan (tepatnya sudah ngasihtau, tapi belum jelas bener diizinkan enggaknya sebenere  ) dari blognya mas priyadi
---

pengantar

Semalam (23/04/08) saya nonton di tv , saya lupa, seingat saya malah di HBO instead of Discovery <-- red. bahasa campur2 tanda gegarbudaya a.k.a ndesit-baru-kenal-dunia dot com

Tapi yang manapun jadilah ..
Ternyata global warming jauh lebih berbahaya daripada materi yang pernah saya baca mengenai ini
red. ya mungkin karena bacanya juga cuman sekilas ;p

Topik membosankan ini ternyata dibawakan dengan cara yang tidak membosankan oleh Al Gore, tidak terasa 2 jam saya duduk di depan tv, melongo aja melihat data2 yang disajikan dengan manis..
red. bukannya itu kampanye politik gaya baru..?!
ari. okay..okay..di dalamnya juga ada sentian politik juga buat kubu george w bush, tapi ngga banyak kok..al gore kan manusia juga, bok..

Semoga ada petinggi televisi di indonesia yang sempat nonton atau juga memiliki minat pada hal ini serta mau mencoba menyiarkannya di jam prime-time (red. ngimpiiiii..)
Taroh kata 2% aja penduduk indonesia yang nonton (ari. itu artinya 5 jutaan orang, bok..) maka artinya akan ada 5 juta orang yang pola hidupnya beralih lebih aware terhadap lingkungan..

Terakhir, thank God Al Gore ngga ngomongin MLM, kalo caranya bicara kayak begitu, mungkin saya udah join MLM apapun yang dia tawarin sekarang..  Eh, saya ngga bilang MLM itu jelek lho bok, tapi untuk saat ini nambah MLM lagi, (repeat: lagih ?! --udah dramatis belon ? ;p)..  ampyuuun..

tambahan

Informasi aja, ternyata film ini di indonesia sudah beredar dalam bentuk vcd/dvd (resmi neh) sejak th 2007 lalu, dari PT. Kings Medialine (member of Tarra Groups) <-- ari. thanks to Tjipto buat informasinya

Btw, buat saya, ngga cuma informasi mengenai global warming aja yang menarik, keberanian dia mengkritik pemerintah US sendiri juga patut diacungi jempol (meskipun saya juga tau itu bagian dari kampanye politiknya..heheh)

Mudahan uraian panjang Mas Priyadi dibawah cukup menjelaskan semuanya..

original article http://priyadi.net/archives/2006/10/07/al-gore-dan-an-inconvenient-truth/#comment-575124
original picture
http://priyadi.net/wp-content/inconvenienttruth.jpg


7 October 2006

Al Gore dan ‘An Inconvenient Truth’

Posted under:Nature at 13:36

‘An Inconvenient Truth’ adalah sebuah film dokumenter tentang pemanasan global yang dibintangi oleh Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat pada era Bill Clinton. Film ini mencetak rekor pendapatan pada hari pertama untuk sebuah film dokumenter dan merupakan film dokumenter terlaris ketiga di Amerika Serikat setelah Fahrenheit 9/11 dan March of the Penguins.

Membosankan? Topik ilmiah seperti pemanasan global adalah topik yang membosankan bagi kebanyakan orang, tetapi berbeda jika dibawakan oleh seorang Al Gore. Al Gore mampu menyajikan topik ini dengan sangat baik sehingga mudah dicerna oleh orang awam.

Dalam urusan pemanasan global, Amerika Serikat adalah negara yang ‘kontribusi’-nya paling banyak, tak kurang dari 25% produksi karbondioksida dunia berasal dari Amerika Serikat. Salah satu penyebabnya adalah di sana isu pemanasan global masih saja menjadi polemik, antara lain akibat pemberitaan yang tidak berimbang di media massa serta lobi politis dari pihak-pihak yang tidak pro lingkungan. Al Gore yang juga merangkap sebagai salah satu direktur Apple Corporation dan penasihat Google ini dapat menjelaskan dengan baik bahwa pemanasan global sedang terjadi dan hal tersebut berbahaya bagi masa depan umat manusia.

Gore memberi contoh misalnya volume gletser yang menurun di berbagai tempat di dunia, badai Katrina, rata-rata suhu yang panas di berbagai kota di dunia, bencana kekeringan, penipisan es di Artik, serta luas daratan yang berkurang jika es di Antartika atau Greenland mencair.

Dalam beberapa kesempatan, Gore juga menceritakan kehidupan pribadinya, bagaimana hal-hal yang terjadi pada kehidupannya membuat beliau menjadi seorang pejuang lingkungan. Pertama kali Gore mengetahui pemanasan global adalah dari Roger Revelle, pengajarnya sewaktu kuliah dan salah satu orang yang pertama kali mempelajari pemanasan global. Gore juga menceritakan rasa frustasinya ketika menghadapi senat Amerika Serikat, sebelumnya dia yakin jika kongres akan sama-sama terkejut jika mengetahui fakta pemanasan global, tetapi kenyataannya tidak sama sekali. Dan setelah kekalahan tipisnya dari George W. Bush pada pemilu Amerika Serikat, Gore memilih untuk pergi dari kota ke kota untuk membicarakan isu lingkungan.

Ketidakberdayaan Amerika Serikat dalam menghadapi isu lingkungan juga menjadi salah satu topik yang dibahas. Film dokumenter ini mengutip ucapan Ronald Reagan, mantan presiden Amerika Serikat:

A number of very reputable scientists have said that one factor of pollution is oxygen nitrogen from decaying vegetation. This is what causes the haze that gave the big smoking ???

Atau George Bush, juga mantan presiden Amerika Serikat dan ayah dari presiden Amerika Serikat yang sekarang:

This guy (Al Gore) is so far off the environmentalist extreme we’ll be up to our neck in owls and out of work for every American.

Atau Jim Inhofe, salah satu senator Amerika Serikat:

Global warming is the greatest hoax ever perpetrated on the American people.

Setelah serangan 9/11, Amerika Serikat bersumpah bahwa tidak akan ada serangan seperti itu lagi. Al Gore dengan baik memperagakan apa yang akan terjadi seandainya es yang ada di Greenland atau Antartika mencair: bangunan World Trade Center Memorial akan dikelilingi air.

Gore juga membantah miskonsepsi bahwa belum ada kesepakatan tentang pemanasan global di antara para ilmuwan dengan mengutip penelitian kontroversial Naomi Oreskes pada tahun 2004. Oreskes mencari jurnal ilmiah dengan kata kunci ‘global climate change’ dan menemukan 928 jurnal. Dari sejumlah jurnal tersebut sama sekali tidak ada yang berbeda pendapat dengan pendapat mainstream tentang pemanasan global. Sebaliknya, pada penelitian yang lain, dari 636 artikel tentang pemanasan global di media massa populer, 53% di antaranya berpendapat bahwa belum ada kesepakatan tentang pemanasan global di kalangan ilmuwan.

Kemudian Gore juga memberitakan kasus Philip Cooney tahun 2003. Waktu itu Cooney yang menjabat sebagai staff Gedung Putih tentang lingkungan menerima memo dari EPA tentang pemanasan global. Bukannya memberitakan memo tersebut apa adanya, dia memodifikasinya sehingga artinya berbeda. Insiden ini kemudian diketahui oleh New York Times. Cooney kemudian mengundurkan diri dan beberapa hari kemudian langsung bekerja untuk Exxon-Mobil.

Alasan klasik pemerintah Amerika Serikat dalam isu lingkungan adalah bahwa memperhatikan lingkungan akan mempengaruhi perekonomian. Al Gore menanggapi isu ini dengan menggunakan analogi bumi dan emas. Mana yang harus kita pilih jika disuruh untuk memilih: emas atau bumi? Emas tidak berarti jika kita tidak memiliki bumi.

***

Tidak salah jika disebut bahwa film ini berhadapan langsung dengan kaum industrialis yang sekarang menguasai Gedung Putih. Akibatnya, mesin-mesin propaganda mereka bergerak dengan cepat untuk melawan efek dari film ini.

Pada Mei 2006, lembaga ‘non profit’ CEI membuat dua buah iklan televisi yang menyebutkan bahwa pemanasan global bukanlah masalah. Iklan yang pertama mengutip sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa “gletser sedang bertambah, dan bukan sedang mencair”. Beberapa hari kemudian, Curt Davis –peneliti dari Universitas Missouri-Columbia yang mempublikasikan penelitian tersebut– merilis pernyataan yang membantah iklan tersebut:

“These television ads are a deliberate effort to confuse and mislead the public about the global warming debate,” Davis said. “They are selectively using only parts of my previous research to support their claims. They are not telling the entire story to the public.”

Iklan yang kedua mengatakan bahwa “Karbondioksida bukanlah polutan, kita menghembuskannya dan tanaman menghirupnya. Mereka mengatai ini polusi, kami mengatai ini kehidupan”, tentunya tanpa memperhatikan bahwa ilmuwan sepakat bahwa pertambahan konsentrasi karbondioksida di atmosfer akan menambah temperatur bumi.

CEI adalah lembaga ‘non profit’ yang didanai salah satunya oleh ExxonMobil.

Pada Agustus 2006, seseorang mengunggah (upload) sebuah video ke YouTube. Video yang berjudul Al Gore’s Penguin Army tidak memiliki tujuan apapun selain untuk mendiskreditkan Al Gore. Video ini diklaim dibuat oleh seorang amatir berusia 29 tahun, tetapi Wall Street Journal kemudian menemukan bahwa ‘amatir’ ini berasal dari grup DCI, sebuah firma public relations yang berhubungan erat dengan Partai Republican dan perusahaan-perusahaan seperti General Motors dan ExxonMobil.

***

Secara keseluruhan, ‘An Inconvenient Truth’ adalah dokumenter yang sangat baik sekali. Tidak seperti kebanyakan dokumenter lainnya, film ini melibatkan emosi dari penonton. Penonton Amerika Serikat yang sudah dicuci otaknya oleh pernyataan-pernyataan media massa mungkin akan sangat terkejut melihat kenyataan yang dipresentasikan oleh Al Gore.

Dokumenter ini akan terlihat seperti kampanye kepresidenan bagi lawan politik Al Gore (atau iklan Apple Mac bagi kompetitor Apple :D ), tetapi isu yang disajikannya adalah isu nyata yang telah berulang kali diabaikan oleh lawan-lawan politiknya. Amerika Serikat tidak akan rugi seandainya Al Gore menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya. Untuk ukuran politisi Amerika Serikat, Al Gore termasuk konservatif dalam politik luar negeri, dan lebih mementingkan masalah-masalah yang jauh lebih penting seperti pemanasan global. Sayangnya, Al Gore sudah menyatakan tidak akan ikut pemilihan umum tahun depan.

Kelemahan film ini juga cukup nyata: film ini sangat terlihat hanya ditujukan bagi masyarakat Amerika Serikat. Terlalu banyak bahasan yang hanya cocok jika dipresentasikan ke warga Amerika Serikat. Walaupun demikian, masih banyak hal lain yang berlaku global yang bisa kita cerna dari film ini. Bagi yang memiliki kesempatan untuk menonton film dokumenter ini, saya sangat anjurkan untuk menontonnya.

Thursday, March 27, 2008

Doa Seekor Anjing

Doa Seekor Anjing


Dalam Islam banyak cerita tentang anjing. Nabi bahkan pernah memberikan minum seekor anjing dengan alas kakinya (sepatu). Di Jepang seekor anjing ikut berdoa di sebuah kuil.

Oleh Rusdi Mathari



ANJING itu terlihat merapatkan telapak kedua kaki depannya dan mengangkatnya hingga mendekati hidung, mirip dengan orang yang memberikan salam sungkem ala Jawa. Namun Conan, nama anjing itu, bukan berasal dari Jawa. Ia adalah anjing milik Joei Yoshikuni, seorang rahib di Jepang dan ia tidak sedang melaksanakan salam sungkem melainkan ikut “berdoa” di kuil Jigenim.

Menurut Yoshikuni awalnya dia ingin Conan melakukan meditasi dan dalam beberapa hari Conan sudah bisa meniru gerakan orang berdoa di kuil, meskipun tidak bisa duduk bersila. “Dia mungkin memperlihatkan rasa terima kasih karena diberi makanan dan diajak jalan,” kata Yoshikuni (lihat “Anjing Ikut ‘Berdoa’ di Kuil Jepang,” BBC.com, 25 Maret 2008).

Seperti halnya lumba-lumba dan kera, anjing memang termasuk binatang pintar. Tingkat kecerdasan anjing bergantung pada ras dan masing-masing anjing secara individu. Anjing ras border collie terkenal dapat mematuhi dan menjalankan berbagai macam perintah. Anjing ras lain mungkin tidak tertarik untuk menuruti perintah manusia, tapi lebih suka menunjukkan kepintaran dalam soal mencuri makanan atau kabur dari halaman berpagar.

Asal-usul anjing sebagai keturunan serigala yang hidup berkelompok membuat anjing jadi lebih mudah dilatih dibandingkan hewan lain. Sebagai anggota kelompok, anjing mempunyai naluri untuk patuh. Sebagian besar anjing memang sering tidak perlu berurusan dengan tugas yang rumit-rumit, sehingga tidak ada kesempatan belajar hal-hal yang sulit seperti membuka pintu tanpa bantuan manusia. Anjing yang sudah dilatih sebagai anjing penuntun bagi tuna netra dapat mengenali berbagai macam keadaan bahaya dan cara menghindar dari keadaan tersebut.

Suatu hari sampailah Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib di sebuah kebun kurma dan berhenti untuk beristirahat. Di tempat itu Abdullah bertemu dengan lelaki berkulit hitam, penjaga kebun kurma yang mengeluarkan bekal makanan berupa tiga potong roti. Tiba-tiba seekor anjing datang menghampiri penjaga kebun itu dengan lidah terjulur sembari sesekali menyalak.

Melihat itu, penjaga kebun lalu melempar sepotong roti ke arah si anjing dan anjing itu langsung melahapnya. Ketika roti itu habis, anjing tadi masih menjulurkan lidah dan si penjaga kebun kembali melempar sepotong rotinya kemudian kembali dimakan oleh si anjing. Kejadian itu berlangsung terus, hingga roti ketiga milik si penjaga habis.

Abdullah yang sejak tadi berdiri memperhatikan kejadian itu terpana. Dia mendekati penjaga kebun lalu bertanya,” “Wahai anakku, berapa banyakkah makananmu sehari di tempat ini?”

“Tiga potong saja yang kesemuanya telah dimakan anjing tadi,” jawab si hamba.

“Mengapa engkau berikan semua kepada anjing itu? Dan engkau sendiri akan makan apa?” tanya Abdullah.

“Wahai tuan. Tempat ini bukanlah kawasan anjing. Jadi aku yakin dia datang dari tempat yang jauh, sedang bermusafir dan tentu dia sangat lapar. Sedang aku sendiri, biarlah tidak makan hari ini sehingga esok.”

Mendengar itu, Abdullah berseru, “Subhanallah. Engkau begitu mulia.”

Abdullah adalah putra Jaafar bin Abi Talib. Nabi membaiat Abdullah ketika dia baru berumur 7 tahun. Pada masanya dia dikenal sebagai orang dermawan dan seluruh hartanya hanya dihabiskan untuk disedekahkan kepada kaum tak mampu. Namun seorang penjaga kebun dan seekor anjing telah memberikan pelajaran baru bagi Abdullah. Dia lantas membeli seluruh kebun anggur itu dan memberikan seluruhnya ke si penjaga kebun.

Dalam Islam banyak cerita tentang anjing. Diceritakan di dalam Al Kahfi seekor anjing telah dijamin oleh Allah untuk masuk surga karena setia menjaga tuan mereka. Nabi Muhammad saw. menceritakan kepada para sahabat kisah seorang pelacur yang akan menjadi penghuni surga hanya karena pernah memberikan minum seekor anjing yang menjelang mati. Namun kebanyakan orang Islam selalu menghindari anjing karena dianggap sebagai binatang najis meskipun yang dimaksud najis hanyalah air liurnya. Nabi sendiri bahkan pernah memberikan minum seekor anjing dengan alas kakinya (sepatu).



original article on
http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/25/doa-seekor-anjing/
original picture on  http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/44510000/jpg/_44510966_conan_afp203b.jpg

Wednesday, February 27, 2008

Bayu Gawtama: Bukan Doa Saya yang Terkabul

Seperti juga Hufha dan Iqna-nya Mas Gaw,  putri-putri kami: Chacha dan Nissa juga sedang senang2nya menulis, menggambar, dan tentu saja untuk itu memerlukan buku tulis, buku gambar, dan kelengkapan lainnya.

Tapi, tidak mudah juga untuk membelikan mereka permintaan yang tidak seberapa ini. Tidak cuma soal waktunya yang sedikit susah bagi saya sekarang ini, juga karena memang dalam keadaan seperti saya tidak mudah juga untuk menyisihkan sesuatu diluar anggaran. Kadang kami sudah anggarkan 3 buah buku gambar per anak, eh ternyata seminggu juga udah habis digunakan. Ya kalo dihitung ulisebulan ya jadi berat juga  :-))  Dalam situasi itu ya hanya kertas HVS saja yang bisa jadi penyelamat sementara. Susahnya, bagi anak2 saya, kertas HVS itu kertas kerja Bapaknya.. kalo untuk menggambar ya pake Buku Gambar  :-((  

Itu satu hal. Hal lainnya adalah mereka juga ngga berani nodong ibunya soal ini. Mesti ke saya dulu. Dan biasanya, kalo udah begini, pertanyaannya  dimulai dengan "Papa udah gajian belum ?" atau "Papa ada rejeki lebih ngga hari ini ?" --ini mesti hasil indoktrinasi ibunya nih hehe--
Yang selalu membuat saya bersyukur, anak2 kami  (masih) mau mengerti kalo kita jawab dengan jujur belum dan bahasa apapun yang ujung2nya ke arah belum itu.Mereka bahkan bisa balas menghibur, "Ngga apa-apa Pa, lain kali aja. Chacha masih bisa gambar pake kertas printer Papa kok.."
atau kadang-kadang, "Ngga apa-apa, Nica ngga buru-buru kok" (hehe tau apa anak ini soal buru-buru ?)
Tapi hiburan semacam ini, terus terang membuat kami jadi merasa bersalah. Iya senang dan bangga dengan anak-anak kami, tapi sekaligus bersalah ngga mampu memenuhi permintaan yang mungkin bagi Anda "sederhana".

Dana pada saatnya, saat saya atau Ibunya mendapatkan lebihan rejeki yang bisa disisihkan untuk keperluan anak-anak itu, alangkah senangnya kami bila kami bisa menunaikan janji kami pada mereka. Oh ya, apa ngga bangga bisa menunaikan kewajiban sebagai orangtua ?
Saya bangga lho.
Anda bangga juga kan ?!


Tulisan Mas Gaw di bawah ini, membuat saya jadi berpikir ulang. Kadang2 di tengah kebanggaan itu, terselip juga rasa puas diri bahwa kami mampu menghasilkan uang atau kami mampu melakukan ini itu sehingga dapat ini itu.. Sebab bisa jadi bukan usaha saya, bisa jadi bukan doa saya yang dikabulkan Allah. Sangat mungkin doa putri-putri kami yang belum kenal dosa ini yang didengar dan dikabulkan-Nya.

Sangat mungkin hari ini kita selamat sentosa di jalan karena doa anak-anak kita. Bisa jadi kita hari ini dapat melalui hari ini dengan baik, meraih prestasi yang baik, karena doa orang-orang yang menyayangi kita.

Pertanyaannya kemudian, apakah saya sering mendoakan mereka ? anak-anak, pasangan, orangtua, sahabat, guru, dll ??
Jujur kalo saya, saya jawab jarang. Saya lebih sering memohon agar dimudahkan rejeki saya, dilancarkan pekerjaan saya, dll.
Oh iya saya memang sering berdoa supaya orang yang sedang menderita dihibur, orang yang kesusahan diberi jalan keluar.. tetapi saya malah sering tidak memperhatikan mereka-mereka di sekeliling saya, yang selama ini mendukung saya, dan bahkan mungkin karena doa merekalah saya bisa melalui hari ini dengan baik. Alangkah egoisnya saya..

Semoga Anda tidak, wahai teman2ku. Jangan tiru kesalahan saya.
Hari ini saya kan tunaikan janji saya dengan buku magnet doraemon itu ( ternyata saya ngga sendirian ya soal buku magnet ini hehehe )

ari ams
dan oh ya btw inilah link menuju tulisan Mas Gaw yang dari tadi dibicarakan
Link

Wednesday, January 2, 2008

MasGaw: Banjir Belum Surut, Ratusan Ribu Pengungsi Bertahan di Tenda Darurat


menyebarluaskan informasi
meski mungkin sebagian kita tengah merayakan tahun baru dengan meriah, jangan lupa bahwa sebagian (juga) dari kita tengah bersedih dan kuatir akibat bencana alam yang melanda sebagian negeri ini

Link