Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Wednesday, October 30, 2013

Melupakan..

忘記 她 等於忘掉了一切
等於將方和向拋掉
遺失了自己

http://www.youtube.com/watch?v=OcqNr_a8IPE

Iya ini lagu lawas. In Cantonese, pulak nya..
Judul lagunya dalam cantonese; Mong Gei Ta, atau Wàngjì Tā dalam mandarin, atau Forget Him dalam bahasa inggris.
Tapi liriknya itulah yang mau ane komentarin.. Etepatnya sik bukan dikomentarin, tapi mau disangkutpautkan dengan sebuah situasi seorang kawan, tentang melupakan ^ ^

Dan secara ane cowok, "him" (他) ane ganti "her" (她). Bunyinya sih masih sama-sama aja: Tā ^ ^
Namun, secara penyanyi (jadul) nya cewek semua, aslinya mah "him"

Nach,
mari kita sangkutpautkan isi lirik itu dengan "melupakan"

Biasanya nih ya, pengalaman pribadi dan pengalaman orang:  Bila kita sengaja menghindar memaksa diri melupakan seseorang ituh, biasanya sik yang ada malah enggak bisa lupa.
OK, mungkin memang tidak pernah disinggung-singgung lagi, tidak pernah dibicarakan lagi.. Tetapi sebenere kan masih di situ, masih ada di dasar hati dan memori..
Persis kayak orang benci, yang ada malah dipikiriin terus setiap saat, setiap hari..

Keknyah cara terbaik memang ngga usah dilupakan, biarkan saja itu memperkaya pengalaman kita. Syukur-syukur jadi pengalaman indah yang layak dikenangkan..
Kadang-kadang, kalo ane sik, pengalaman pahit pun, nun suatu ketika beberapa waktu kemudian, menjadi kenangan yang penuh hikmah dan ternyata ada hikmahnya.. Bahkan suatu saat, bisa jadi, orang atau sesuatu yang kita lupakan itu bisa ketemu lagi dan/atau dibicarakan kemudian sambil ketawa ketiwi dan <del datetime="2013-10-30T08:11:37+00:00">makin disesali</del> disyukuri...

Jadi, IMSO ( in my sotoy opinion), kalo mau move on itu ngga usah dipaksa sampe segitunya, kalee
Niatnya oke kudu kuat, tapi caranya tidak perlu dengan pemaksaan.

Bukan begitu, Teman ?

Tabik,
Ari AMS

PS:
1) lirik lagunya udah ada di link youtube di atas, kalo penasaran isinya apa silakan diklik dan atau didengarkan. lagunya sendiri sih enak enak aja kok..
2) berasa ngga sik sebenere lirik teks itu ngga terlalu nyambung dengan apa yang ane tulis ? berasa yah ? heheh.. samma doong #ups

Tuesday, October 29, 2013

Terima kasih


Terima kasih TUHAN
Hari ini saya belajar bagaimana rasanya dipermalukan..
Hari ini saya merasakan bagaimana rasanya dihinakan dan diabaikan/dihindari

Karena itu saya berjanji tidak akan mempermalukan, menghina, dan atau mengabaikan seseorang
Karena apa yang kecil bagi saya, bisa jadi besar buat orang lain

Sunday, September 29, 2013

Bayu Gawtama: (Mungkin Ada) Surga di Secangkir Kopi

Saya ingat kedua kakek saya, dari jalur Bapak maupun Ibu, selalu mewanti2 kami untuk berhati-hati dengan ucapan dan tindakan.
Hal itu dilakukan dengan menanamkan konsep "hukum sebab akibat" 
Tapii... Setelah dipikir-pikir kemari,  sepertinya "judul"-nya mungkin lebih cocok dengan apa yang sekarang sering disebut2 sebagai "vibrasi"

Konsepnya begini, seingat saya lho-ya
Setiap perbuatan/ucapan kita selalu diiringi dengan "semangat" atau "hawa" tertentu yang menular..  Ambil contoh tertawa senang atau menangis sedih, kita bisa merasakan itu dari orang lain, bukan?
Ketika orang lain "tertular" oleh vibrasi semangat itu, ia memancarkan kembali semangat atau hawa itu kepada orang lainnya lagi termasuk (kembali kepada) kita.

Mungkin itu sebabnya kebanyakan perbuatan baik kembali sebagai hal baik dalam hidup kita  --dan sebaliknya untuk perbuatan kurang baik :( 
Itu mungkin juga sebabnya masakan seseorang dengan orang lainnya bisa terasa berbeda, padahal takaran dan bumbu yang digunakan sama. Semangat atau rasa cinta-nya yang membuatnya berbeda :D

Di bawah ini kembali hadir tulisan mas Gaw Bayu Gawtama tentang itu. 

Selamat menikmati tulisan renyah di bawah itu. Mohon maaf pengantarnya rada-rada bantet, adonannya kurang "jadi" nih :(

Dan selamat hari kopi sedunia ^ ^
 -AMS-


link terkait: https://www.facebook.com/notes/gaw-bayu-gawtama/mungkin-ada-surga-di-secangkir-kopi/10151713022462956

Bayu Gawtama: (Mungkin Ada) Surga di Secangkir Kopi
29 September 2013 at 12:01

Kopinya biasa, sama dengan merek kopi yang biasa diminum, air panas pun dimana tempat sama, kekentalannya bisa dibuat sama, takaran gula bisa disesuaikan dengan selera, bahkan cara mengaduk serta hitungan adukkan pun bisa dijiplak sama persis. Namun kenapa rasa secangkir kopi bisa berbeda jika berbeda orang yang meraciknya?

Mungkin saja ini terlalu subyektif, tapi saya yakin tidak sedikit yang merasakan hal demikian. Kita senang jika yang membuatkan kopi adalah orang-orang yang memang membubuhkan cinta dalam racikannya. Tak selalu orang yang selama ini dekat dan membersamai kehidupan kita seperti isteri atau suami. Orang-orang ini bisa saja pembantu rumah tangga,office boy di kantor kita bekerja, atau sahabat perjalanan yang benar-benar mengenal kita luar dalam, dia tahu cara memberikan –apapun- yang terbaik untuk sahabatnya, terlebih hanya secangkir kopi.

Ikhlas dalam melayani dan memberi. Saya benar-benar tengah belajar untuk bisa melakukan yang terbaik dalam hal ini. Orang yang sedang saya jadikan guru adalah salah seorang office boy di kantor. Sebab, bukan cuma saya yang senang dengan kopi atau teh sajiannya, bisa dibilang semua orang di kantor, bahkan para tamu memujinya.

Kalau ada yang bilang, ya tentu saja sebagai OB, dia akan melayani semua orang di kantor karena memang itu tugasnya. Tapi, OB di kantor bukan cuma satu kan? Anda yang bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki beberapa OB, kadang memilih untuk dibuatkan kopi atau teh oleh orang yang menurut Anda “pas” racikannya. Lagi-lagi, bukan karena jenis kopinya, tapi “sesuatu” yang tersaji indah di dalam jiwa si peracik kopi.

Tentu saja bukan sedang belajar membuat kopi senikmat racikannya, namun yang dimaksud adalah belajar memiliki jiwa yang indah karena keikhlasan dalam melayani dan memberi. Melayani orang lain itu bukan cuma dilakukan oleh seorang office boy, pembantu rumah tangga atau siapapun orang yang posisinya dianggap dibawah. Sebagai suami, kita melayani seluruh anggota keluarga, sebagai isteripun demikian. Sebagai pimpinan perusahaan, kita pun melayani seluruh staf yang ada di perusahaan, meskipun ia pemimpin tertinggi. Sebagai Kepala Desa, melayani warga di desanya, dan sebagai Kepala Negara, ia melayani rakyat.

Ada hukum timbal balik yang kita yakini masih berlaku. Anda berbuat baik kepada semua orang, orang pun akan berbuat baik kepada Anda, meski tetap ada yang sebaliknya. Kita mencintai orang lain, balasan cinta pun akan kita dapatkan. Sayangi seluruh makhluk di muka bumi, maka bumi dan seisinya akan menyayangi kita. Begitu juga sebaliknya jika kita membenci, merusak dan membuat orang lain tak nyaman.

Seseorang yang ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain, harus pula pandai menghargai. Yang ingin dihormati, harus bisa terlebih dulu menghormati. Mereka yang ingin diberi, harus lebih banyak memberi. Siapapun yang ingin dicintai, harus memantaskan diri untuk dicintai. Berikan yang terbaik untuk orang lain, maka yang terbaik pula yang akan kembali kepada kita.

Bermula dari secangkir kopi yang tersaji nikmat dari racikan jiwa yang indah, boleh jadi keridhaan Allah berasal dari sini. Bukankah surga Allah pun atas dasar keridhaan-Nya? Wallahu ‘a’lam (Gaw)

Wednesday, July 3, 2013

Pelajaran Hidup Hari Kemarin

Dalam hidup, kita ngga pernah sendirian. Kita dikelilingi orang orang lain dengan segala variasinya.

Kadang-kadang, orang lain itu berusaha care dan menemani kita dengan gayanya masing-masing.

Sayangnyaa... kadang gaya itu ngga sesuai dengan kita atau sikon-nya ngga tepat. Yang ada, niat baik itu bukannya berhasil dengan baik tetapi malah membuat kita sedikit terganggu..

Terganggu? Marah dong..?!
Tunggu dulu..

Mari cobalah lihat sisi baiknya: mereka itu niatnya menemani, niatnya menghibur kita loh..
Hargailah niat baiknya dan jangan terpaku hanya pada hasil yang kita rasakan atau ditimbulkannya saja

#NoteToMyself

Jujurly, sik.. Saya kemarin sempat emosi duluan sama anak. Niat dia menghibur saya yang sakit, tapi buat saya jadi berisik <-- Ayah yang Buruk :(
#MaafYaNak

Catatan

TUHAN itu adil. Saya terlalu cepat emosi sama anak, eh ternyata ada orang lain yang merasa saya juga memusingkan begitu.

#Kuwalat

Terima kasih TUHAN, Engkau sudah membuatku belajar dengan cepat

#BelajarMakeSepatuOrangLaen

Monday, July 1, 2013

Indah Pada Waktunya


Rencana TUHAN selalu indah pada waktunya. 
Demikianlah yang selalu kita dengar tulisan atau khutbah berkenaan dengan "prasangka baik pada TUHAN". 

Pertanyaannya: seberapa percaya kita pada kalimat itu? Seberapa yakin kita bahwa TUHAN menyiapkan akhir yang indah buat kita? 

Saya sendiri sempat putus asa kok dengan itu. 
Rasanya rencana saya itu udah pasti baiknya, udah pasti baiknya.. tapi ya kok TUHAN belum kasih terwujud juga yaaa.. 

Belum lama ini saya membutuhkan sejumlah dana besar untuk kawin lagi modal usaha dan beberapa rencana lainnya.   Dalam pikiran saya dan istri saat itu, kami akan menjual rumah saya di Bintaro Coret yang belum lunas cicilannya itu, dan lebihan setelah melunasi sisa KPR masih cukup untuk modal usaha, dan DP rumah lagi di daerah yang lebih prospektif lagi kenaikan investasinya.  Lain itu, kami juga masih akan pegang sejumlah lebihan dana di bank.

Nah, luar biasa apa kali bagusnya tampaknya kan rencana ini? 

Dua bulan berlalu sejak kami menawarkan rumah itu dijual, ada lebih dari 8 calon pembeli yang berminat, tetapi kok ya di saat saat terakhir kok ya ngga deal juga :( 
Apaa ya yang salah..? Saya sampai-sampai sempat sambat sama Gusti ALLAH loh: lha yok opo tah Gus kok ra payu payu ki njuk rencanaku sing apik tenan kuwi njuk piye? Kok ya ngga laku laku ini, trus rencana hebatku itu apa kabarnya, TUHAN? 
Rasanya seperti TUHAN menelantarkan kami <--oke itu tuduhan serius buat TUHAN.. Tapi saat itu, itulah yang kami saya rasakan..

Dan rasa ditinggalkan itu kian hebat setelah beberapa rumah tetangga saya di situ terjual dengan mudah --eh, ada yang masih kebanjiran penawaran sih.. Tapi sempat apa kali lah dengar berita apanya itu kan? 

Hari ini, pas mampir ke sana --oiya kami sendiri tidak tinggal di situ sejak 2009-- dapat tambahan keterangan bahwa harga jual rumah tetangga itu, dan penawaran yang masuk buat rumah tetangga yang lain, nyaris dua kali lipat harga yang kami pasang. 
Dua kali! 
Masyaa ALLAH.. 
Alamak..! Rugi kalilah kami bila rumah kami terjual pada harga yang kami minta.. 
Pada detik itu mendadak saya merasa bersyukur bahwa TUHAN, ALLAH SWT, lebih tahu apa yang baik bagi kami. 

Oke.. sementara ini kami masih harus kerja keras untuk menutup cicilan KPR yang seperti ngga habis habis itu, dan masih kerja keras mengumpulkan modal tambahan yang kami perlukan itu 

Moral cerita yang ingin saya sampaikan:  
Ketika tampaknya rencana kita berantakan,  yang perlu kita lakukan ada dua:
- evaluasi rencana, jangan2 rencana kita memang ngaco..
- dan tetaplah percaya bahwa rencana TUHAN jauh lebih indah dari rencana manusia.. dan Dia akan membuatnya indah pada waktunya. 

 -----
Saat ini ada beberapa rencana lagi yang seperti meleset.  Tapi kali ini saya (lebih) yakin bahwa TUHAN menyiapkan akhir yang indah di balik itu semua  --sepanjang kita tidak kehilangan keyakinan dan tetap berprasangka baik pada-Nya :-) 

Saya yakin teman teman semua lebih baik dari saya dalam soal ini.
Akhir kata, mohon maaf jika ada tulisan di atas yang kurang berkenan..

Friday, June 7, 2013

Menilai Manusia


Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Sarira Saka Busana

Manusia Dihargai Karena Lidahnya, Manusia Dihargai Karena "Busana"-nya

Jujurly, tulisan ini sebenere idenya gegara tadi shubuh itu ada yang share link kaskus, ulasan twitwar-nya seorang tante doktor dengan seorang sutradara. Sebelumnya tante itu dengan seorang musisi. Baca-baca ke belakang, saya kok jadi merasa manusia gampang sekali menilai manusia lain jelek, ya ? 


Tulisan ini jelas tidak dimaksudkan untuk mengekor berantem yang diatas.

Mari kita kembali ke pepatah jawa jaman WaliSanga tadi:

Ajining diri saka lathi, ajining sarira saka busana.
Manusia dihargai karena lidahnya, manusia dihargai karena "busana"-nya.


Bener banget, kan?

Gegara lidah ( dan sekarang juga jempol tentunyah ) seseorang bisa dinilai..
Dan gegara cara penampilan, orang juga bisa dinilai..

Nah, yang sering jadi masalah itu.. bila lantas orang dinilai HANYA berdasar penampakan penampilan, dan/atau dari sisi perlente, dan/atau  dari sisi gelar, dan/atau  dari sisi kepemilikan. Padahal saya yakin pengertiannya tidak mementingkan citra penampilan seperti itu.

Kebetulan, kedua kakek saya ( yang satu muslim yang satu katolik ) pernah menasihati hal serupa. Yang saya ingat, kurang lebih begini: titik masalahnya bukan soal apa/bagaimana busananya, tapi cara berbusana-nya. Pun busana dalam pepatah ini tidak terbatas pada pakaian dari kain, tetapi juga mencakup "pakaian", yakni berupa agama. 

Agama dalam pengertian ini bukan apa yang tercantum di KTP, melainkan nilai2 yang mengatur sendi2 kehidupan manusia. Dan oleh karena itu, agama sering disebut sebagai ageming ati

Pengertian ageming ati-nya yang dimaksud tidak berarti menyamakan semua agama --> Soal ini kembali ke masing-masing. Saya muslim, pastinya akan bilang islam yang paling cocok buat saya.. Tetapi adik saya katolik, pasti akan bilang katolik yang paling cocok buat dia. --> melainkan, kalo sudah memiliki agama tertentu, pakailah sebaik2nya sebagai pakaian hati dan jiwa
<-- Ini, katanya, adalah bagaimana orang jawa memandang agama.
Etapi gak tau juga kalo jawa hari gini, loh.. Saya ngga punya kompetensi menebak apalagi menjawabnya: lha wong saya ini jawa ngga jelas, jeh :p  

Berkenaan dengan contoh ageming ati, contoh yang diucapkan kedua kakek saya kebetulan juga sama: Apa gunanya kamu beragama kalo masih menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu ? 
--> dan karena itulah kita #eh saya ding, membedakan antara ajaran agama dengan kelakuan umatnya. 

Beberapa tulisan di bawah ini, meski agak beda penyampaiannya, kesimpulan akhirnya sepertinya mirip2 dengan apa yang saya yakini


1) Membumikan Langit: Ajining Diri Soko Lathi
2) Dongeng Ala "Simbah": 
Ajining Diri Jalaran Soko Lathi 
3) kalo yang ini sih tambahan saja: Suara Merdeka: Makna Tembang Ilir-ilir

Kutipan favorit saya, sekaligus penutup tulisan ini adalah:
Jadi ketika pakaian kita sudah baik..maka harus kita dukung dengan tingkah laku dan tindakan yang baik pula agar wibawa dan kehormatan diri kita terjaga dan orang pasti akan mesem kesengsem untuk menghormati kepribadian kita...
Itu. dari sisi kitanya sebagai "pelaku"
Tentunya  kita sebagai "penilai" juga diharap bijak menilai orang lain, tidak terjebak hanya gegara soal penampilan dan/atau atribut yang melekat pada diri seseorang..


Bukan begitu ?

Sunday, May 12, 2013

Buku Harian Ayah



AKU INGIN

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

cerita di bawah ini saya dapatkan dari milis BeCeKa  4 tahun yang lalu
semoga bermanfaat, khususnya buat saya sendiri.. yang memang lagi perlu :(


---------- Pesan terusan ----------
Tanggal: 18 Februari 2009 13:56
Subjek: [BeCeKa] FW: (repost) Buku Harian Ayah

---

Subject: (repost) Buku Harian Ayah

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. 

Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."
"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. 

Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidakmungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan? Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara - gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan
saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."


repost dari FB notes 18 Februari 2009
https://www.facebook.com/notes/ari-ams/buku-harian-ayah/52342152662

Monday, April 29, 2013

Once Again: Bahagia itu Sederhana



SAYA INGAT waktu saya masih bocah cilik* [ umur 2-3 tahun, masih tinggal di Kotabaru, Yogyakarta ],  kalo saya menangis ngga berhenti, orangtua saya akan segera memberdirikan saya di antara jok dan setang Scooter Lambretta dan segera menuju lintasan rel kereta. Biasanya yang dipilih perlintasan kereta Stasiun Lempuyangan instead of Stasiun Tugu..
---- Setelah saya pikir2 alasannya simpel: soale kalo ke Stasiun Tugu, saya pasti minta mampir Malioboro atau Beringharjo, dan ujungnya jajan :p  Orangtua saya memang  pelit #eh cerdas
---- Nggak ding, itu soale waktu itu kereta yang lewat siang-siang ya di Lempuyangan..
Waktu itu, seketika kereta lewat, seketika itu juga tangis saya berhenti dan jadi tertawa-tawa kegirangan.

Nawaktu giliran anak-anak saya, saya juga pakai cara ini..
Tetapi secara rumah kami di Pangkalpinang lebih dekat ke Pelabuhan Pangkalbalam  [ dan relatif mudah masuk ke dalam sampai dermaga ], dan sedang kalau di Batam rumah kami sangat dekat dengan Bandara Hang Nadim,  maka ke situlah kami menuju kalo anak-anak kami sedang rewel.

Saya kurang tahu, tapi mungkin nggak banyak diantara rekan2 FB yang kepikiran ke bandara [ kalo di jakarta ke Soetta, misalnya ], ke anjungan pengantar, hanya untuk menyaksikan pesawat tinggal landas dan atau mendarat.  Tetapi di bulan-bulan awal  sekembali kami ke Pulau Jawa [ dan tinggal di Bintaro ujung arah Ciledug ], ke sanalah kami menuju; Sambil bawa bekal makan minum dan kantong plastik buat tempat sampah.

Perjalanan dari Bintaro - BSD/Kunciran [ tergantung lewat Tol atau Ciledug ] -Neglasari - Bandara, anginnya, frekuensi take-off dan landing-nya, serta jumlah pesawat yang take-off / landing bersamaan [ di landasan yang berbeda tentunyah ] jadi hiburan tersendiri buat anak-anak kami.

Terakhir terakhir ini, karena anak-anak kami toh tidak jauh selisih usianya, kami bisa bikin X-Factor / Indonesia Idol mini di rumah. Kadang-kadang, bisa ajak-ajak anak-anak tetangga [ dan kalo sama mereka, pesertanya bisa sampe 20 loh ].. Dan nyatanya anak2 tetap bisa terhibur.. Orangtuanya juga, sik :D

Ternyata hiburan nggak harus mewah.  
Ternyata bahagia juga nggak harus megah.. 
Tentunya, itu jika ukuran bahagia tidak diukur dengan satuan mata uang dan atau prestise. 
#Bahagia itu #Sederhana

Catatan: 
*   kalo sekarang Bocah-Tua-Nakal :p
tulisan ini terinspirasi dari blog Mas Ananto di sini:  Hiburan Murah Meriah Menonton Kereta Api

Monday, April 1, 2013

Belajar Ikhlas dari Warung Sebelah



Hari itu, di bulan Juni 2012, kami ada perjalanan cek fisik dari Dili ke Maliana. Perjalanannya makan waktu 4 jam sekali jalan. Setelah perjalanan panjang pulang dari Maliana di Bobonaro, kami tiba kembali di Dili pukul 21:20 waktu setempat.

Dili itu, jangan dibandingkan dengan Batam apalagi Jakarta. Sama Pangkalpinang atau Kendari aja mungkin masih kalah, kok. Jam 9 itu, jalan utama Dili udah sepiiiiiiii banget, mobil lewat bisa dihitung dengan jari. toko2 nyaris semuanya sudah pada tutup.
Situasi ini memang bikin bingung karena kami belum ada yang makan malam :(
Pilihan akhirnya (lagi lagi) jatuh ke Eastern, yang paling dekat hotel, oleh karena itu sering betul kami makan di situ.  Eastern itu, judulnya sih resto burger, tapi isinya selain burger juga jualan chinese food. Dan yang paling penting itu.. harganya murah (untuk ukuran Dili) dan rata-rata sama untuk setiap paketnya..
Naah kali ini saya memilih menu..
#halah !!
::kok ngomongin makanan, sih !? bukan ituu.....!

Menjelang jam 10,  kami melihat anak yang punya toko merangkap kasir, keluar membawa 4 kotak burger. Saya perhatikan ia membagikannya kepada 4 anak kecil penjaja pulsa Timor Telecom yang masih menunggu pelanggan ( khususnya setap-setapnya PBB dan tentara/polisi Australia yang rata2 pada tinggal di hotel2 sekitar sini).
::setap ! Jadi inget para "junior asisten setap"-nya tax-inaer nih :p

Kami goda dia aslinya sih sok-sokan pake english ) : "Kenapa ngga dituker pulsa aja, Ce?" 

Dia cuma ketawa aja dan menjawab naah.. "cara" menjawab nya ini bikin ketohok yang pertama. Dia jawab dengan bahasa indonesia meskipun patah2  berlogat campuran chinese dan bagian tertentu di Indonesia ) : "Itu kan burger dan kentang yang tidak  laku.. Kalau disimpan, besok juga basi.. Bagus dikasih orang biar ada manfaat. Lagipula semua kebaikan pasti kembali ke kita lagi kok, kadang2 berlipat ganda.." 
( ini lagi.. denger "isi" jawaban itu jadi ketohok yang kedua kali :p )

Saya jadi mikir: kalo saya jadi dia, belum tentu saya bersedekah dengan ikhlas seperti itu lho.. 

Tapi oke deh.  Dari sisi matematika sedekah yang selama ini saya diajari, sedekah kita akan kembali berlipat-lipat ganda.. Bisa jadi karena itulah rejeki si Eastern lancar. Sepertinya, nyaris tiap kali ke sana, meja kosong cuma ada satu dua saja..

Yang paling bikin saya merasa tertohok itu sebetulnya ini: dia ini sedekah ikhlas tanpa beban loh.. Bukan karena tahu, bukan pula karena mengharap balasan yang berlipat ganda..

Nah.. Kalo saya dan Anda, gimana ?  
#ehsalah
::saya aja, ding..
...


repost dengan sedikit editan info tambahan dari FB Notes tanggal 15 Juni 2012
https://www.facebook.com/notes/ari-ams/belajar-ikhlas-dari-warung-sebelah/10150904991552663

Blessing in Disguise


SUDAH BEBERAPA HARI ini saya kepingin banget makan kue barongko, penganan asal kota makassar dibuat dari sari pisang dan santan dibungkus daun dan dikukus.

Mengetahui ia dijual di salah satu rumah makan Lautan apaa gitu (asuhan) Daeng Naba di Blok S, saya dan istri pergi ke sana. Tetapi ternyata habis.   
Lalu kami pergi lagi ke lokasi Daeng Naba lainnya di Ampera (Raja Lautan?), ternyata di situ malah tidak jualan barongko.   
Yasutralah, karena memang niat nyarinya barongko, maka pergilah kami mau cari ke tempat lain
::padahal udah sempat di situ ga sengaja papasan dengan teman SD, bu dokter Vivien, segala di sana --ini apa hubungannyaaa, coba ?!

Karena memang diniatkan pergi cari barongko sembari kepingin numpang shalat di Masjid At Tiin TMII, maka bergeraklah kami ke arah sana dengan berbekal informasi kawan, yang mana katanya tidak jauh dari perempatan Tamini Square ada rumah makan makassar yang cukup lengkap. Tapi ternyataaa... tidak ketemu juga. 
Akhirnya, kami keterusan.. dan sampailah kami akhirnya di Pusat Grosir Cililitan (PGC).

Kesal ? So pasti
Capek ? Iyalah, macet jeh :p
Ini sepertinya mengesalkan ya ? Barongko sepertinya ngga kesampaian, Ashar di At Tiin pun sepertinya ngga dapat juga.

Karena toh alarm adzan ashar sudah berbunyi, kami niat masuk saja ke PGC, sembari gegetun komat kamit ngomel ngomel dalam hati.   Eh.. ndilalah kok pintu masuknya terlewat sehingga kami harus masuk ke gedung parkir, langsung ke lantai 5.. Dan eh lha kok lantai 5 penuh disuruh naik lagi ke 6.  Di lantai 6 yang kosong, gokil, ternyata saya salah belok malah naik lagi ke rooftop (lantai A katanya)..
Kali ini ngga cuma saya yang ngomel, istri saya juga ngomel..
Tapiii.. mendadak, kok saya merasa tenang ya ?! 
Mendadak saya kepikiran "Segala Sesuatu Terjadi karena Sebuah Alasan". Jadi, dengan santainya saya malah bilang, "Yah, kalo terlewat kan tinggal turun.." 

Masih di atap PGC itu, mendadak mata kami terpaku pada sebuah bangunan yang ada..  
Itu masjid. 
Ngga megah, ngga mewah, tapi itu masjid cukup besar dan (herannya) kami merasa masjidnya teduh..
Yang ada kami berhenti di situ dan langsung menunaikan shalat ashar. 
Beruntung karena pengunjung sangat banyak, meski ketinggalan jamaah utama pas awal waktu, tetapi ada aja jamaah shaf sehingga kami terhitung berjamaah.. AlhamduliLlaah. Selesai shalat, suasana batin saya dan istri kok ya mendadak jadi ringan dan tenang :D

Luar biasa. 
Kenapa luar biasa ? Karena bayangan saya mushalla di pertokoan itu ruangan yang gimanaa gitu, Tergantung landlord-nya juga sih: Ada yang baguuus banget. Ada juga yang asli ngga kerawat sampe karpetnya pun bau saking ngga pernah dirawatnya :(
Tapi yang ini.. masyaa Allah.. ini masjid, loh bro..  Asli masjid di atas bangunan "mall"..

Oke, tuntas sudah satu niatan.

Mumpung sudah di PGC, saya ajak istri ke bagian foodstreet nya, disebutnya Halte Walk kalo ngga salah.

E ternyata, yaolooo..  saya malah menemukan kedai masakan makassar di sana, lengkap dengan kue-kue barongko, jalangkote, dadar gulung, sampe otak-otak.. es pisang ijo, pallu butung, sampe es kacang merah.. makanan mulai dari coto, konro, aneka ikan bakar, pallu mara, sampe sop sodara yang asli susah sekali menemukannya di Jakarta ini..



Jujur ya, saya jadi semakin percaya bahwa 
1) Segala sesuatu terjadi karena (atau untuk) sebuah alasan
2) TUHAN menyiapkan akhir yang indah untuk kita --bila kita percaya ^ ^

Kalo barongko di tempat yang kami tahu biasa jual tidak habis, mungkin saya ngga tau di atas tempat ini (meski saya biasa ke sini --transit antar jalur busway-- ngga pernah ke atas-atas) ada masjid yang cukup bagus, dan image saya tentang tempat ibadah di mall/pertokoan masih buruk.

Kalo ngga kayak gini, mungkin saya malah ngga kebagian barongko sama sekali. Malah jadi ngga pernah nikmatin sop sodara di luar sulawesi.

Dan kalo ngga kayak gini, mungkin titipan tas anak saya yang rusak parah harus saya beli dengan harga yang mahal (dimana akhirnya saya dapat di PGC setengah harga dari pertokoan dekat rumah)..

Mungkin inilah yang disebut Blessing in Disguise.
Enggak tau juga, deh.  Makanya saya bilang mungkin.

Jadi kepikiran dengan masalah saya yang lain.
Mudah2an demikian juga.

Saya yakin TUHAN menetapkan segala sesuatu karena atau untuk sebuah alasan yang ujungnya indah bagi saya. 
TUHAN, saya percaya..
Aamiyn.

Monday, February 18, 2013

Cinta nan Sederhana


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu
yang menjadikannya abu…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada…


                         [ aku ingin mencintaimu dengan sederhana. sapardi djoko damono ]



Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan rasa kepada kata
yang menjadikannya hening, senyap sempurna...


Aku hanya punya cinta yang sederhana,
hanya ingin terus melihatmu tetap tersenyum dan bahagia 
meskipun itu berarti "aku" harus menghilang selamanya..

sebab aku mencintaimu
lebih daripada mencintai diriku

Saturday, February 9, 2013

Harapan, Rencana, dan Realisasi


Setiap orang punya harapan untuk hidupnya sendiri di masa yang akan datang ( apakah di dunia maupun di akhirat, semua pasti punya ). Kalau harapan itu tidak dijabarkan ke dalam sebuah rencana aktivitas, tentu sulit harapan itu dapat direalisasikan (meski bukannya tidak mungkin ).

Yang jadi masalah buat saya adalah seberapa kuat harapan itu berpengaruh pada hidup kita. Harapan haruslah cukup kuat untuk memberi semangat kita merealisasikannya; tapi pengalaman saya beberapa minggu ini juga menunjukkan bahwa harapan itu tidak boleh terlalu kuat sehingga menguasai hidup kita.

Kok gitu ? ya soalnya antara terlalu semangat dan obesitas obsesi itu bedanya tipis banget :p

Salah satu masalah ketika obsesi itu hadir adalah ketiadaan akal sehat, dan kadang2 over positive thinking (!!) sehingga setiap perubahan rencana adalah kejahatan --> ujung2nya malah negative thinking.
Dan orang seperti saya, juga tidak luput dari kesalahan semacam ini. Emosi pun muncul, seolah2 rencana keberhasilan itu pasti.. padahal berdasarkan pengalaman, tidak mungkin semua terlalu smooth :D

Ambil contoh: ketika profit margin dalam realisasi cuma segini padahal direncanakan segitu, saya merasa sangat kecewa.. atau ketika rekan usaha ada halangan yang cukup membuatnya kesulitan untuk bergerak seirama seiringan, saya merasa dikhianati <-- eini contoh lho Ya, ngga bermaksud beneran gini.. sorii :p

Padahal kalau kita memilih diam sejenak, maka semua negative thoughts itu bisa diredam dan mulai melakukan Plan B ( dan kalo masih gagal juga masih ada 24 huruf lagi :)

So waspadalah..
1. Jagalah agar kita yang menjadi Tuan atas harapan atau tindakan kita sendiri
2. Masalah apapun yang datang seharusnya belum jadi masalah. Reaksi kita atas masalah itu yang akan menentukan apakah terselesaikan atau justru kian membesar.

Wednesday, January 30, 2013

Sambat


ya Allah ya TUHAN ku,
terima kasih. 
hidupku ini mungkin tidak selalu sesuai yang aku inginkan,
tapi sekarang aku tahu bahwa Engkau menyiapkan hidupku seperti yang aku perlukan.

tapi TUHAN.. 
jujur-jujuran ya,. 
saya ini orangnya ndableg je.. 
meski saya tahu Engkau menciptakan manusia itu dengan kebebasan memilih.
tapi kalo Engkau pasrahkan pilihan saya pada diri saya, mesthi lho nanti saya malah kesasar ke arah yang buruk.. 

lha mbok nyuwun tulung tangan saya diiket dengan tali-Mu
lalu Engkau tariklah biar saya tetap di jalan-Mu..
kalo saya masih rada error, nyuwun tulung di-slenthik sedikiiiit aja –jangan keras-keras tapinya ya–
insyaa Allah saya akan jadi lebih baik lagi, minimal buat diri saya dan keluarga..  
aamiyn

matur sembah nuwun

post ulang dari https://www.facebook.com/notes/antonius-mikael-suryawardhana/sambat/10150431493917663

Tuesday, January 8, 2013

NostalGila Sejarah Kita..


KEMARIN, 6 Januari 2013,   saya blusukan terencana  di rute jaman kuliah ( bulus - bintaro/bsd ).  Biasa jadi umumers dadakan jadi bikers, masalah2 klasik kayak ban kempes langsung dialami hahaha.. Untungnya karena sengaja lewat jalur Gintung, pompa ban berceceran #eh bertebaran #eh, ada di banyak tempat sepanjang jalan

Saat mampir di pompa ban, nggak sengaja lihat metromini ke Blok M (kan ya..?).  Duduk di paling depan ada sepasang remaja teenager akhir tapi belum sampe dua puluhan sedang asyik bicara sambil beradu pandang. Meski metro itu sempat nyeruduk motor di depannya sampe beradu mulut, sepasang muda-mudi itu tampak tidak peduli dan tetap saling pandang penuh arti..
Iyalah, dunia saat itu kan sedang milik mereka berdua.. yang laen kan cuma numpang :p (red.)

Mendadak ingatan mundur ke 20-sekian  tahun yang lalu.
- seriusan loh, 20 ? lama banget yak ? wkwkwk.  (red.)
+ ente mau ngejek ane tuwir, gitu ?
- kagaak.. itu ente yang bilang. ane diem deh. (red.)

Saat itu ada seorang remaja kelas 1 di SMA khusus cowok semua (baru naik kelas 2) memberanikan diri mengajak seorang siswi kelas 3  SMP (baru keterima di SMA yang berbeda dengan si cowok)  janjian "beli buku" ke sebuah toko buku besar di kawasan Blok M. 
Setelah melalui proses perizinan dan tanya jawab dengan orangtua si siswi (dan diizinkan), maka mereka berdua berjalan kaki sedikit lalu naik metro mini ke tempat tujuan.

Seperti yang sudah bisa ditebak dalam jalan cerita yang seperti ini,  "beli buku"-nya sendiri cuma makan waktu 15 menit.  Setelah itu mereka makan ke sebuah warung ngamrik yang cukup legendaris murah dan (mayan) enaknya, beberapa ruko di sebelah toko buku itu. Keduanya saling berebut membayar makanan pasangannya, tapi akhirnya yang terjadi mereka bayar sendiri-sendiri makanan yang mereka beli. Untuk ukuran jaman segitu, sebenernya sih aneh. Tapi mereka berdua merasa itu jalan tengah terbaik.. 
- udah.. udah.. ngga pentinglah dibahas ah (red.)

Yang dibeli cuma makanan sederhana (untuk ukuran warung itu). Itu pun ngga abis karena yang ada cuma liat2an.  
Ngobrol, enggak..  makan, juga enggak.. liat2an doang. Dodol kan ? 

Ngomong sih, dikit. 
Tapi sepertinya cuma statement, lalu minta konfirmasi.  Misalnya: yang cewek nanya: "enak ya? punya kamu gimana ?",  atau yang cowok nanya: "jadi gimana sekolah di situ? seneng gak ?"  
Apaa, coba ? Itu cewek kan baru juga keterima SMA. Sekolahnya masuk aja belon, udah ditanya perasaannya sekolah di situ gimana..
- hadeuh..! (red.)

Lalu pulang. Jalan kaki ke terminal, mereka berdua mencoba bergandengan tangan tapi setiap mendekat lalu ngga jadi.  
- cieee.. (red.)

Di metro mini pulang, pembicaraan justru mulai lancar. 
Agak aneh sebenere kalo dipikir-pikir, soalnya mereka sebetulnya udah kenal lama.. 
Tapi intinya dunia udah seperti milik mereka sampe-sampe tempat berhentinya terlewat 100-200 meter baru sadar.

Yah demikianlah sodara sodari.. kalo orang jatuh cinta.
Terlepas dari soal apakah Anda setuju pacaran atau tidak, begitulah adanya.. jangan lihat jalannya, lihat "salting" dan "error"-nya hehe.. Lihat juga soal "dunia milik berdua"-nya.. urusan lain ngga penting, orang laen cuma numpang hehehe..
Padahal --yang mereka tidak tahu-- seluruh mata penumpang bus kan menghadap ke depan, alias bisa melihat apa apa yang mereka lakukan :p

Kembali ke masa kini.

Saya belum lama ini bertemu dengan teman lama yang dengannya saya punya memori yang kurang lebih sama.
- loh, contoh tadi itu bukan elo ya bro ? (red.)
+ *melotot tajam!*
- * krik.. krik..   #- -) *

Mau tidak mau, yang namanya habis bertemu, pasti sempat bicara masa lalu.
Normal ?
Saya bilang sih normal.
- yaiyalah elo ngomong gini, elo yang ngelakonin.. pembelaan diri :p  (red.)

Bukan ini bukan pembelaan diri.
- oke, ngga membela diri. kalau begitu macam mana yang ngga normal ? (red.)

Yang tidak normal itu kalau memori itu lalu diingat-ingat,  apalagi dijadikan benchmark dengan hidup kita hari ini.
Juga tidak normal apabila berharap masa lalu itu akan tetap terjadi pada hari ini.

Saya pikir masa lalu adalah pelajaran berharga bagi kehidupan hari ini.

Saya juga berpikir semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memulai lagi. Yang saya maksud di sini tentu bukan memulai hubungan lama, tapi memulai lagi hubungan yang baru berdasarkan konteks kekinian.

Saya ngga bilang lupakan semua masa lalu
Tapi hiduplah dalam kekinian.
Biarlah nostalgia tetap berada dalam albumnya..
Kita, yang diperkaya dengan pengalaman pahit dan atau manis nostalgia itu, baiknya belajar dari sana untuk hidup di masa sekarang.. tidak tetap ada di masa lalu.

Bukan begitu ?

-  *melongo*
+ 'napa lu ?
-  benchmark apaan sik ?
+  *keluh* 

Ya sudahlah.. kembali ke topik yang ringan2: kenangan..

- oom ?
+ pa'an, sik ?
- kalo cinta trus lupa sama sekeliling gitu ya oom ?
+ iya
- katanya semua makhluk cinta sama Tuhan ya oom
+ harusnya gitu.. kenapa nanya begitu ?
- kok oom kalo sembahyang kayak keburu2 terus sik, kayak inget kerjaan belon kelar.. katanya cinta sama Tuhan, tapi kok.. ?
+ #jleb

Ya ya baiklah kalo begitu..
Topik ini kita sudahi saja

Terima kasih atas perhatian sodara sodari semua..

*pergi ambil wudlu*


jakarta, 7 januari 2013

PS:
- omong2, kalo kalian yang sempat pacaran, jaman dulu gimana?
+ udah deh, jangan mancing2 dibahas lagi deh..
- ...