Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Wednesday, July 3, 2013

Pelajaran Hidup Hari Kemarin

Dalam hidup, kita ngga pernah sendirian. Kita dikelilingi orang orang lain dengan segala variasinya.

Kadang-kadang, orang lain itu berusaha care dan menemani kita dengan gayanya masing-masing.

Sayangnyaa... kadang gaya itu ngga sesuai dengan kita atau sikon-nya ngga tepat. Yang ada, niat baik itu bukannya berhasil dengan baik tetapi malah membuat kita sedikit terganggu..

Terganggu? Marah dong..?!
Tunggu dulu..

Mari cobalah lihat sisi baiknya: mereka itu niatnya menemani, niatnya menghibur kita loh..
Hargailah niat baiknya dan jangan terpaku hanya pada hasil yang kita rasakan atau ditimbulkannya saja

#NoteToMyself

Jujurly, sik.. Saya kemarin sempat emosi duluan sama anak. Niat dia menghibur saya yang sakit, tapi buat saya jadi berisik <-- Ayah yang Buruk :(
#MaafYaNak

Catatan

TUHAN itu adil. Saya terlalu cepat emosi sama anak, eh ternyata ada orang lain yang merasa saya juga memusingkan begitu.

#Kuwalat

Terima kasih TUHAN, Engkau sudah membuatku belajar dengan cepat

#BelajarMakeSepatuOrangLaen

Monday, July 1, 2013

Indah Pada Waktunya


Rencana TUHAN selalu indah pada waktunya. 
Demikianlah yang selalu kita dengar tulisan atau khutbah berkenaan dengan "prasangka baik pada TUHAN". 

Pertanyaannya: seberapa percaya kita pada kalimat itu? Seberapa yakin kita bahwa TUHAN menyiapkan akhir yang indah buat kita? 

Saya sendiri sempat putus asa kok dengan itu. 
Rasanya rencana saya itu udah pasti baiknya, udah pasti baiknya.. tapi ya kok TUHAN belum kasih terwujud juga yaaa.. 

Belum lama ini saya membutuhkan sejumlah dana besar untuk kawin lagi modal usaha dan beberapa rencana lainnya.   Dalam pikiran saya dan istri saat itu, kami akan menjual rumah saya di Bintaro Coret yang belum lunas cicilannya itu, dan lebihan setelah melunasi sisa KPR masih cukup untuk modal usaha, dan DP rumah lagi di daerah yang lebih prospektif lagi kenaikan investasinya.  Lain itu, kami juga masih akan pegang sejumlah lebihan dana di bank.

Nah, luar biasa apa kali bagusnya tampaknya kan rencana ini? 

Dua bulan berlalu sejak kami menawarkan rumah itu dijual, ada lebih dari 8 calon pembeli yang berminat, tetapi kok ya di saat saat terakhir kok ya ngga deal juga :( 
Apaa ya yang salah..? Saya sampai-sampai sempat sambat sama Gusti ALLAH loh: lha yok opo tah Gus kok ra payu payu ki njuk rencanaku sing apik tenan kuwi njuk piye? Kok ya ngga laku laku ini, trus rencana hebatku itu apa kabarnya, TUHAN? 
Rasanya seperti TUHAN menelantarkan kami <--oke itu tuduhan serius buat TUHAN.. Tapi saat itu, itulah yang kami saya rasakan..

Dan rasa ditinggalkan itu kian hebat setelah beberapa rumah tetangga saya di situ terjual dengan mudah --eh, ada yang masih kebanjiran penawaran sih.. Tapi sempat apa kali lah dengar berita apanya itu kan? 

Hari ini, pas mampir ke sana --oiya kami sendiri tidak tinggal di situ sejak 2009-- dapat tambahan keterangan bahwa harga jual rumah tetangga itu, dan penawaran yang masuk buat rumah tetangga yang lain, nyaris dua kali lipat harga yang kami pasang. 
Dua kali! 
Masyaa ALLAH.. 
Alamak..! Rugi kalilah kami bila rumah kami terjual pada harga yang kami minta.. 
Pada detik itu mendadak saya merasa bersyukur bahwa TUHAN, ALLAH SWT, lebih tahu apa yang baik bagi kami. 

Oke.. sementara ini kami masih harus kerja keras untuk menutup cicilan KPR yang seperti ngga habis habis itu, dan masih kerja keras mengumpulkan modal tambahan yang kami perlukan itu 

Moral cerita yang ingin saya sampaikan:  
Ketika tampaknya rencana kita berantakan,  yang perlu kita lakukan ada dua:
- evaluasi rencana, jangan2 rencana kita memang ngaco..
- dan tetaplah percaya bahwa rencana TUHAN jauh lebih indah dari rencana manusia.. dan Dia akan membuatnya indah pada waktunya. 

 -----
Saat ini ada beberapa rencana lagi yang seperti meleset.  Tapi kali ini saya (lebih) yakin bahwa TUHAN menyiapkan akhir yang indah di balik itu semua  --sepanjang kita tidak kehilangan keyakinan dan tetap berprasangka baik pada-Nya :-) 

Saya yakin teman teman semua lebih baik dari saya dalam soal ini.
Akhir kata, mohon maaf jika ada tulisan di atas yang kurang berkenan..

Sunday, May 12, 2013

Buku Harian Ayah



AKU INGIN

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

cerita di bawah ini saya dapatkan dari milis BeCeKa  4 tahun yang lalu
semoga bermanfaat, khususnya buat saya sendiri.. yang memang lagi perlu :(


---------- Pesan terusan ----------
Tanggal: 18 Februari 2009 13:56
Subjek: [BeCeKa] FW: (repost) Buku Harian Ayah

---

Subject: (repost) Buku Harian Ayah

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. 

Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."
"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. 

Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidakmungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan? Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara - gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan
saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."


repost dari FB notes 18 Februari 2009
https://www.facebook.com/notes/ari-ams/buku-harian-ayah/52342152662

Monday, April 29, 2013

Once Again: Bahagia itu Sederhana



SAYA INGAT waktu saya masih bocah cilik* [ umur 2-3 tahun, masih tinggal di Kotabaru, Yogyakarta ],  kalo saya menangis ngga berhenti, orangtua saya akan segera memberdirikan saya di antara jok dan setang Scooter Lambretta dan segera menuju lintasan rel kereta. Biasanya yang dipilih perlintasan kereta Stasiun Lempuyangan instead of Stasiun Tugu..
---- Setelah saya pikir2 alasannya simpel: soale kalo ke Stasiun Tugu, saya pasti minta mampir Malioboro atau Beringharjo, dan ujungnya jajan :p  Orangtua saya memang  pelit #eh cerdas
---- Nggak ding, itu soale waktu itu kereta yang lewat siang-siang ya di Lempuyangan..
Waktu itu, seketika kereta lewat, seketika itu juga tangis saya berhenti dan jadi tertawa-tawa kegirangan.

Nawaktu giliran anak-anak saya, saya juga pakai cara ini..
Tetapi secara rumah kami di Pangkalpinang lebih dekat ke Pelabuhan Pangkalbalam  [ dan relatif mudah masuk ke dalam sampai dermaga ], dan sedang kalau di Batam rumah kami sangat dekat dengan Bandara Hang Nadim,  maka ke situlah kami menuju kalo anak-anak kami sedang rewel.

Saya kurang tahu, tapi mungkin nggak banyak diantara rekan2 FB yang kepikiran ke bandara [ kalo di jakarta ke Soetta, misalnya ], ke anjungan pengantar, hanya untuk menyaksikan pesawat tinggal landas dan atau mendarat.  Tetapi di bulan-bulan awal  sekembali kami ke Pulau Jawa [ dan tinggal di Bintaro ujung arah Ciledug ], ke sanalah kami menuju; Sambil bawa bekal makan minum dan kantong plastik buat tempat sampah.

Perjalanan dari Bintaro - BSD/Kunciran [ tergantung lewat Tol atau Ciledug ] -Neglasari - Bandara, anginnya, frekuensi take-off dan landing-nya, serta jumlah pesawat yang take-off / landing bersamaan [ di landasan yang berbeda tentunyah ] jadi hiburan tersendiri buat anak-anak kami.

Terakhir terakhir ini, karena anak-anak kami toh tidak jauh selisih usianya, kami bisa bikin X-Factor / Indonesia Idol mini di rumah. Kadang-kadang, bisa ajak-ajak anak-anak tetangga [ dan kalo sama mereka, pesertanya bisa sampe 20 loh ].. Dan nyatanya anak2 tetap bisa terhibur.. Orangtuanya juga, sik :D

Ternyata hiburan nggak harus mewah.  
Ternyata bahagia juga nggak harus megah.. 
Tentunya, itu jika ukuran bahagia tidak diukur dengan satuan mata uang dan atau prestise. 
#Bahagia itu #Sederhana

Catatan: 
*   kalo sekarang Bocah-Tua-Nakal :p
tulisan ini terinspirasi dari blog Mas Ananto di sini:  Hiburan Murah Meriah Menonton Kereta Api

Tuesday, March 19, 2013

Sepuluh Tahun Usiamu




SALSABILA YASMIN QANITA

Sepuluh tahun kini usiamu, Nak..

Maafkan kami orangtuamu yang hanya mampu mendidikmu seperti ini.
Mungkin terlalu keras buat kamu, di sisi lain mungkin agak mienuntut kamu memikirkan sendiri apa yang baik buat kamu.
Tapi percayalah Nak, kami mengawasi dan menjagamumu meskipun tak selalu terlihat atau terasakan olehmu. Semua yang kami lakukan ini, insyaa Allah, demi kebaikanmu juga, kelak { dan semoga bukan demi ego kami orangtuamu }

Semoga seperti namamu, kamu tumbuh menjadi insan yang shaleha. Seperti bunga yasmin yang tangguh dan menjejak mantap disegarkan oleh mata air surga..

Jaga ibadahmu seperti menjaga hartamu.. Tetapi lebih penting jadilah orang yang baik bagi sesamamu, bagaimanapun sikap sesamamu kepadamu..

Dan jangan pernah merasa jadi orang suci, lebih baik dan atau istimewa, ya Nak.. Sebab bunga yang tampak lebih indah atau istimewa hanya akan (segera) dipetik untuk dijadikan hiasan, lalu layu, dan dibuang..
Jadilah seperti bunga kenanga. Dia bukan bunga yang indah-indah sangat bentuk dan warnanya, tetapi sepanjang hidupnya bahkan setelah layu terbuang pun, ia tetap memancarkan keharumannya..

Dan kamu memang sudah istimewa.. dan akan sangat istimewa, pada saat kamu tidak merasa jadi orang istimewa.  Percayalah..

Tadi sudah kami sampaikan di rumah. Sekarang, kami tuliskan di sini, supaya setiap waktu, jika kamu mau, kamu bisa mampir ke sini dan kembali mengingat-ingat pesan ini. Semoga ini juga mengingatkan kamu betapa kami orangtuamu menyayangimu.

Wednesday, February 6, 2013

Sekali Lagi: Cinta Putih


Memperhatikan dirimu yang tertidur tenang di sisi putri kita yang paling kecil..
Mengingat kesabaranmu, keikhlasanmu,  dengan segala izin dan kepercayaan yang aku sendiri tak pernah menyangkanya akan keluar darimu..
Maka apakah ada yang dapat kutawarkan lagi bagimu selain menjaga kebahagiaanmu ?
Tapi sepertinya itu pun aku kurang berhasil, ya ? Mohon maafkan aku :(
seberang terminal bulus  06.02.13

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku
Masihlah panjang jalan hidup mesti ditempuh
S’moga tak lekang oleh waktu
Cukup bagiku hadirmu
Membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasihku
Kau ungkap tlah terjawab
Jika kau bertanya sejauh mana cinta membuat bahagia
Sepenuhnya t’rimalah apa adanya dua beda menyatu
Saling mengisi tanpa pernah mengekang diri
Jadikan percaya yang utama

Tuesday, January 8, 2013

NostalGila Sejarah Kita..


KEMARIN, 6 Januari 2013,   saya blusukan terencana  di rute jaman kuliah ( bulus - bintaro/bsd ).  Biasa jadi umumers dadakan jadi bikers, masalah2 klasik kayak ban kempes langsung dialami hahaha.. Untungnya karena sengaja lewat jalur Gintung, pompa ban berceceran #eh bertebaran #eh, ada di banyak tempat sepanjang jalan

Saat mampir di pompa ban, nggak sengaja lihat metromini ke Blok M (kan ya..?).  Duduk di paling depan ada sepasang remaja teenager akhir tapi belum sampe dua puluhan sedang asyik bicara sambil beradu pandang. Meski metro itu sempat nyeruduk motor di depannya sampe beradu mulut, sepasang muda-mudi itu tampak tidak peduli dan tetap saling pandang penuh arti..
Iyalah, dunia saat itu kan sedang milik mereka berdua.. yang laen kan cuma numpang :p (red.)

Mendadak ingatan mundur ke 20-sekian  tahun yang lalu.
- seriusan loh, 20 ? lama banget yak ? wkwkwk.  (red.)
+ ente mau ngejek ane tuwir, gitu ?
- kagaak.. itu ente yang bilang. ane diem deh. (red.)

Saat itu ada seorang remaja kelas 1 di SMA khusus cowok semua (baru naik kelas 2) memberanikan diri mengajak seorang siswi kelas 3  SMP (baru keterima di SMA yang berbeda dengan si cowok)  janjian "beli buku" ke sebuah toko buku besar di kawasan Blok M. 
Setelah melalui proses perizinan dan tanya jawab dengan orangtua si siswi (dan diizinkan), maka mereka berdua berjalan kaki sedikit lalu naik metro mini ke tempat tujuan.

Seperti yang sudah bisa ditebak dalam jalan cerita yang seperti ini,  "beli buku"-nya sendiri cuma makan waktu 15 menit.  Setelah itu mereka makan ke sebuah warung ngamrik yang cukup legendaris murah dan (mayan) enaknya, beberapa ruko di sebelah toko buku itu. Keduanya saling berebut membayar makanan pasangannya, tapi akhirnya yang terjadi mereka bayar sendiri-sendiri makanan yang mereka beli. Untuk ukuran jaman segitu, sebenernya sih aneh. Tapi mereka berdua merasa itu jalan tengah terbaik.. 
- udah.. udah.. ngga pentinglah dibahas ah (red.)

Yang dibeli cuma makanan sederhana (untuk ukuran warung itu). Itu pun ngga abis karena yang ada cuma liat2an.  
Ngobrol, enggak..  makan, juga enggak.. liat2an doang. Dodol kan ? 

Ngomong sih, dikit. 
Tapi sepertinya cuma statement, lalu minta konfirmasi.  Misalnya: yang cewek nanya: "enak ya? punya kamu gimana ?",  atau yang cowok nanya: "jadi gimana sekolah di situ? seneng gak ?"  
Apaa, coba ? Itu cewek kan baru juga keterima SMA. Sekolahnya masuk aja belon, udah ditanya perasaannya sekolah di situ gimana..
- hadeuh..! (red.)

Lalu pulang. Jalan kaki ke terminal, mereka berdua mencoba bergandengan tangan tapi setiap mendekat lalu ngga jadi.  
- cieee.. (red.)

Di metro mini pulang, pembicaraan justru mulai lancar. 
Agak aneh sebenere kalo dipikir-pikir, soalnya mereka sebetulnya udah kenal lama.. 
Tapi intinya dunia udah seperti milik mereka sampe-sampe tempat berhentinya terlewat 100-200 meter baru sadar.

Yah demikianlah sodara sodari.. kalo orang jatuh cinta.
Terlepas dari soal apakah Anda setuju pacaran atau tidak, begitulah adanya.. jangan lihat jalannya, lihat "salting" dan "error"-nya hehe.. Lihat juga soal "dunia milik berdua"-nya.. urusan lain ngga penting, orang laen cuma numpang hehehe..
Padahal --yang mereka tidak tahu-- seluruh mata penumpang bus kan menghadap ke depan, alias bisa melihat apa apa yang mereka lakukan :p

Kembali ke masa kini.

Saya belum lama ini bertemu dengan teman lama yang dengannya saya punya memori yang kurang lebih sama.
- loh, contoh tadi itu bukan elo ya bro ? (red.)
+ *melotot tajam!*
- * krik.. krik..   #- -) *

Mau tidak mau, yang namanya habis bertemu, pasti sempat bicara masa lalu.
Normal ?
Saya bilang sih normal.
- yaiyalah elo ngomong gini, elo yang ngelakonin.. pembelaan diri :p  (red.)

Bukan ini bukan pembelaan diri.
- oke, ngga membela diri. kalau begitu macam mana yang ngga normal ? (red.)

Yang tidak normal itu kalau memori itu lalu diingat-ingat,  apalagi dijadikan benchmark dengan hidup kita hari ini.
Juga tidak normal apabila berharap masa lalu itu akan tetap terjadi pada hari ini.

Saya pikir masa lalu adalah pelajaran berharga bagi kehidupan hari ini.

Saya juga berpikir semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memulai lagi. Yang saya maksud di sini tentu bukan memulai hubungan lama, tapi memulai lagi hubungan yang baru berdasarkan konteks kekinian.

Saya ngga bilang lupakan semua masa lalu
Tapi hiduplah dalam kekinian.
Biarlah nostalgia tetap berada dalam albumnya..
Kita, yang diperkaya dengan pengalaman pahit dan atau manis nostalgia itu, baiknya belajar dari sana untuk hidup di masa sekarang.. tidak tetap ada di masa lalu.

Bukan begitu ?

-  *melongo*
+ 'napa lu ?
-  benchmark apaan sik ?
+  *keluh* 

Ya sudahlah.. kembali ke topik yang ringan2: kenangan..

- oom ?
+ pa'an, sik ?
- kalo cinta trus lupa sama sekeliling gitu ya oom ?
+ iya
- katanya semua makhluk cinta sama Tuhan ya oom
+ harusnya gitu.. kenapa nanya begitu ?
- kok oom kalo sembahyang kayak keburu2 terus sik, kayak inget kerjaan belon kelar.. katanya cinta sama Tuhan, tapi kok.. ?
+ #jleb

Ya ya baiklah kalo begitu..
Topik ini kita sudahi saja

Terima kasih atas perhatian sodara sodari semua..

*pergi ambil wudlu*


jakarta, 7 januari 2013

PS:
- omong2, kalo kalian yang sempat pacaran, jaman dulu gimana?
+ udah deh, jangan mancing2 dibahas lagi deh..
- ...

Tuesday, April 1, 2008

Ikhlas.....

sebuah tulisan yang menarik, sangat menarik
dari MP Mas Noviyanto, sumber asli www.ukhuwah.or.id

Link

Wednesday, February 27, 2008

Bayu Gawtama: Bukan Doa Saya yang Terkabul

Seperti juga Hufha dan Iqna-nya Mas Gaw,  putri-putri kami: Chacha dan Nissa juga sedang senang2nya menulis, menggambar, dan tentu saja untuk itu memerlukan buku tulis, buku gambar, dan kelengkapan lainnya.

Tapi, tidak mudah juga untuk membelikan mereka permintaan yang tidak seberapa ini. Tidak cuma soal waktunya yang sedikit susah bagi saya sekarang ini, juga karena memang dalam keadaan seperti saya tidak mudah juga untuk menyisihkan sesuatu diluar anggaran. Kadang kami sudah anggarkan 3 buah buku gambar per anak, eh ternyata seminggu juga udah habis digunakan. Ya kalo dihitung ulisebulan ya jadi berat juga  :-))  Dalam situasi itu ya hanya kertas HVS saja yang bisa jadi penyelamat sementara. Susahnya, bagi anak2 saya, kertas HVS itu kertas kerja Bapaknya.. kalo untuk menggambar ya pake Buku Gambar  :-((  

Itu satu hal. Hal lainnya adalah mereka juga ngga berani nodong ibunya soal ini. Mesti ke saya dulu. Dan biasanya, kalo udah begini, pertanyaannya  dimulai dengan "Papa udah gajian belum ?" atau "Papa ada rejeki lebih ngga hari ini ?" --ini mesti hasil indoktrinasi ibunya nih hehe--
Yang selalu membuat saya bersyukur, anak2 kami  (masih) mau mengerti kalo kita jawab dengan jujur belum dan bahasa apapun yang ujung2nya ke arah belum itu.Mereka bahkan bisa balas menghibur, "Ngga apa-apa Pa, lain kali aja. Chacha masih bisa gambar pake kertas printer Papa kok.."
atau kadang-kadang, "Ngga apa-apa, Nica ngga buru-buru kok" (hehe tau apa anak ini soal buru-buru ?)
Tapi hiburan semacam ini, terus terang membuat kami jadi merasa bersalah. Iya senang dan bangga dengan anak-anak kami, tapi sekaligus bersalah ngga mampu memenuhi permintaan yang mungkin bagi Anda "sederhana".

Dana pada saatnya, saat saya atau Ibunya mendapatkan lebihan rejeki yang bisa disisihkan untuk keperluan anak-anak itu, alangkah senangnya kami bila kami bisa menunaikan janji kami pada mereka. Oh ya, apa ngga bangga bisa menunaikan kewajiban sebagai orangtua ?
Saya bangga lho.
Anda bangga juga kan ?!


Tulisan Mas Gaw di bawah ini, membuat saya jadi berpikir ulang. Kadang2 di tengah kebanggaan itu, terselip juga rasa puas diri bahwa kami mampu menghasilkan uang atau kami mampu melakukan ini itu sehingga dapat ini itu.. Sebab bisa jadi bukan usaha saya, bisa jadi bukan doa saya yang dikabulkan Allah. Sangat mungkin doa putri-putri kami yang belum kenal dosa ini yang didengar dan dikabulkan-Nya.

Sangat mungkin hari ini kita selamat sentosa di jalan karena doa anak-anak kita. Bisa jadi kita hari ini dapat melalui hari ini dengan baik, meraih prestasi yang baik, karena doa orang-orang yang menyayangi kita.

Pertanyaannya kemudian, apakah saya sering mendoakan mereka ? anak-anak, pasangan, orangtua, sahabat, guru, dll ??
Jujur kalo saya, saya jawab jarang. Saya lebih sering memohon agar dimudahkan rejeki saya, dilancarkan pekerjaan saya, dll.
Oh iya saya memang sering berdoa supaya orang yang sedang menderita dihibur, orang yang kesusahan diberi jalan keluar.. tetapi saya malah sering tidak memperhatikan mereka-mereka di sekeliling saya, yang selama ini mendukung saya, dan bahkan mungkin karena doa merekalah saya bisa melalui hari ini dengan baik. Alangkah egoisnya saya..

Semoga Anda tidak, wahai teman2ku. Jangan tiru kesalahan saya.
Hari ini saya kan tunaikan janji saya dengan buku magnet doraemon itu ( ternyata saya ngga sendirian ya soal buku magnet ini hehehe )

ari ams
dan oh ya btw inilah link menuju tulisan Mas Gaw yang dari tadi dibicarakan
Link

Monday, June 4, 2007

Cinta Putih dan Pertanyaan Seorang Jomblowan

Mari kita jaga sebentuk cinta putih
Yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian
Antara engkau dan aku oh..
Masihlah panjang
Jalan hidup mesti ditempuh
S'moga tak lekang oleh waktu

Reff#
Cukup bagiku hadirmu
Membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasihku
Kau ungkap.. tlah terjawab

Jika kau bertanya
Sejauh mana cinta membuat bahagia
Sepenuhnya t'rimalah apa adanya
Dua beda menyatu saling mengisi
Tanpa pernah mengekang diri
Jadikan percaya yang utama

Back to Reff#

 

cinta putih ● katon bagaskara ● gemini

teks dari  http://www.iloveblue.com/lirik/lyric_artist_indonesia_barat_bali_song/210.htm

 

Belum lama ini ada seorang jomblo-er yang nampak gelisah, mencoba numpang bertanya mencari pencerahan pada seorang Bapak salah satu narasumber kegiatan kami:  “Pak, dulu waktu Bapak memutuskan untuk menikah, apa alasan Bapak ?”
 

Saat itu sebenarnya kami tengah berada di salah satu warung kopi di banda aceh serta membicarakan soalan lain.  Si Bapak yang ditanya, meski sedikit terkejut mendengar pertanyaan out of topic itu, segera menjawab, “Terus terang saya ngga tahu, Mas.  Waktu itu saya hanya merasa ngga bisa menjalani hidup ini dengan baik kecuali bila bersamanya.  Kalo seperti itu dibilang cinta, ya mungkin itulah. Kalo yang begitu dibilang karena Allah, ya mudah-mudahan benar begitulah. Setidaknya saya berharap begitulah...”
 

Agaknya belum puas, kawan kami ini bertanya lebih lanjut, “Tapi bagaimana Bapak bisa yakin dialah orangnya ? Bapak kan belum tahu siapa dia betul-betul ?”
 

“Yah, kalo dipikir-pikir Mas ini benar juga,” jawab si Bapak, “Tapi waktu itu saya lihat dia orangnya telaten, sopan sama yang tua, membimbing sama yang muda, serta cukup taat sama perintah agama. Orangnya juga cukup menarik.. Cukuplah itu buat saya. Dan karena saya waktu itu sudah bekerja dan –eh- ada lah dorongan-dorongan yang  mulai agak-agak mengganggu, jadi saya waktu itu berpikir mau tunggu apa lagi?! Jadi saya datang dan minta nasihat Pak Ustadz, lalu Pak Ustadz dan orangtua saya meminta izin pada orangtuanya. Lalu kami menikah. Begitu..”
 

Sang Jomblo-er tertegun, “Begitu saja ? Tapi apa nggak jadi sering bertengkar nantinya Pak ? Kan baik Bapak maupun Istri Bapak belum terlalu kenal ?!”
 

“Wah ngga tahu juga ya Mas, “ jawab si Bapak bingung, “Tapi saya mau protes apa sama Istri saya, lha wong saya sendiri juga ngga kalah banyak kok jelek-jeleknya ?”
 

“Jadi yah kami mencoba saling menerima apa adanya sambil memperbaiki diri sendiri.. Lha wong menikah itu ternyata satu paket Mas, mau bagusnya juga harus mau terima jeleknya. Lagipula saya sendiri juga bukan yang terbaik, kok Mas..” lanjut si Bapak, “Kami cuma bisa berdoa sama Allah, minta supaya pernikahan kami ini penuh barokah, ya buat kami sendiri, buat anak-anak kami, buat semuanya..”
 

Pada saat itu, tiba2 HP seorang kawan berdering, dengan ringtone mp3 lagu ini. Dan entah karena penjelasan Si Bapak, atau entah karena isi teks lagu ini, yang jelas rekan kami jomblo-er itu manggut-manggut. Entah-entah juga apakah itu artinya ia paham atau justru karena semakin bingung dus ragu.
 

Saya sendiri tidak tahu jawaban Si Bapak ini benar atau tidak. Tetapi setidaknya jawaban Beliau membuat saya mencoba menata ulang tujuan pernikahan saya agar lebih barokah. 

Kalau Anda bagaimana ?
 

Salam, Ari Latoeng

 

PS: Btw rekan jombloer kami ini bukan jomblo betulan, melainkan berada dalam hubungan yang kurang jelas :p  Mudah2an dirimu dan siapapun pasangan pilihanmu selalu dirahmati Allah. Amiyn.

Saturday, May 19, 2007

Ketika Cinta Bersembunyi..

Have I told you lately that I love you
Have I told you there’s no one else above you
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my troubles that’s what you do

For the morning sun in all its glory
Greets the day with hope and comfort too
You fill my life with laughter
And somehow you make it better
Ease my troubles that’s what you do

 

There’s a love that’s divine
And its yours and its mine like the sun
And at the end of the day
We should give thanks and pray
To the one, to the one

Have I told you lately that I love you
Have I told you there’s no one else above you
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my troubles that’s what you do
….

 

Pernah nggak  Anda merasa bersalah karena ternyata orang yang sangat Anda sayangi merasa tidak yakin Anda mencintai dia atau tidak ? Saya pernah. 

 

Sudah beberapa waktu ini, saya pulang kantor cukup malam, di saat anak-anak kami sudah tidur. Setelah beristiorahat sebentar, maka saya akan mulai bekerja lagi.   Hari itu pun tidak terkecuali. Hari itu, waktu itu, saya tengah bekerja di meja kerja saya di rumah, di dekat TV.   Seperti biasa, waktu itu sudah menjelang tengah malam, persis seperti saat ini, saat saya menuliskan ini. 

 

Tiba-tiba ada derit pintu yang terbuka dan muncullah salah satu putri kami. Setelah menyapa sebentar, ia langsung tiduran di depan TV yang menyala (ini sebetulnya pemborosan sebab sebetulnya saya tidak menontonnya juga).  Dan begitulah ia, si kecil ini, tiduran di depan TV, antara mengantuk dan menonton. Biasanya, saya ngga terlalu protes sebab dalam waktu 10-15 menit juga ia akan segera tertidur pulas dan segera saya mengangkatnya kembali ke kamarnya.

 

Hari itu, setelah lewat 15 menit. Ternyata ia masih memperhatikan acara TV. Wah, untungnya acara di TV sedang bukan yang tidak-tidak. Saat itu tengah acara berita dari sebuah stasiun TV.

Ingin tahu, saya ambil posisi tiduran di sampingnya. Ternyata ia memang tidak langsung sadar bahwa saya ada di sampingnya. Namun, ketika ia sadar, ia hanya melengos pelan, maksud saya menoleh ke saya sebentar lalu kembali memperhatikan TV –yang entah ia paham atau tidak isinya— sambil berkata, “Papa kerjalah..”

Terdiam sebentar, lalu ia menengok lagi, “Papa main komputer lah.. Ngga usah temenin aku lah..”

 

Seketika itu saya tahu saya sudah membuat kesalahan dengan mengabaikan waktu untuk keluarga. Oh memang pekerjaan saya sedang banyak-banyaknya, tapi tetap saja saya merasa salah: sampai-sampai anak ini sudah merasa terbiasa dengan ketidakhadiran saya di sisinya.

 

Saat itu, rasanya seluruh dunia jadi ngga penting lagi.

Saat itu saya Ingin punya waktu yang berkualitas dengan keluarga saya, khususnya si kecil ini.

 

Sebab saya bekerja adalah agar ia bisa menjalani kehidupannya, sekarang dan esok. Bahkan bila saya ada masalah dan down, melihat mereka, saya akan bersemangat kembali. 

Bila  kerja keras saya justru menghancurkan impian itu, lantas apa artinya semua kerja keras itu selain hanya untuk memuaskan ego saya saja ?

 

Duh. Saya salah lagi deh..

 

And have I told you lately that I love you
Have I told you there’s no one else above you
You fill my heart with gladness
Take away my sadness
Ease my troubles that’s what you do

 

Take away all my sadness
Fill my life with gladness
Ease my troubles that’s what you do

Take away all my sadness
Fill my life with gladness
Ease my troubles that’s what you do

 

 

----- ams

 

Lirik lagu Have I Told You Lately diambil dari http://www.lyricsfreak.com/r/rod+stewart/have+i+told+you+lately_20117585.html

Tapi sebenere dibanding Rod Stewart, saya lebih suka versi “Mbah Brewok” Kenny Rogers,  heheh.. lebih suasana ngopi, gitu loh..

Monday, March 12, 2007

Papa Marah (bagian ke-2)



 





Malam itu minggu
lalu, ada sesuatu yang “lain” pada putri kami yang nomor dua, Annisa (2,5 tahun).
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, dan biasanya putri-putri kami sudah tidur.
Namun ternyata, Annisa kecil masih duduk di pojok kasurnya sambil tampak
berpikir keras. Melihat situasinya, istri saya, yang kebetulan sedang masuk ke
kamar mengambil sesuatu, jadi tidak jadi menegur, melainkan duduk diam-diam di
sisi kasur yang lain sambil memperhatikannya diam-diam. 



Lama-lama, ia
sadar juga diperhatikan. Tetapi reaksinya, ia malah langsung melempar
pertanyaan pada Ibunya, “Mama jangan malah-malah sama Nica, ya?”



“Kalau Adek Nica
ngga nakal, Mama kan ngga marah sama Adek Nica, ” jawab istri saya sambil
senyam-senyum



Annisa menggaruk-garuk
kepala, “Papa tuh malah-malah..”



“Ya itu soalnya
tadi Adek Nica ngga mau bobo’ kan waktu disuruh Papa ? Padahal kan ini udah
malem banget, lho..”



Annisa kecil
masih menggaruk-garuk kepala. Tetapi ia nampak tersenyum mendengar jawaban itu.
Lalu segera ia berbaring, mencoba tidur..



 



Sebenarnya yang
terjadi setengah jam sebelumnya adalah begini:



Kami, saya dan
istri, sedang menonton DVD, saat Annisa kecil tiba-tiba menyelinap keluar dari
kamar dan menirukan posisi saya tiduran dengan sebelah tangan menopang kepala sambil
menonton TV.



“Eh, Adek Nica
kok belon tidur ?”



“Mau sama Papa
aja ah, “ jawabnya.



Saya sebenarnya
nyengir dus geli mendengar jawaban APS (Asal Papa Senang) itu. Padahal sih niatnya masih kepingin nonton TV,
aja.. hehehe.. dasar..



“Kan ini udah
malem, Nica..”



“Papa belon
bobo..” sambil menuding saya, membandingkan..



“Kalo Papa kan udah
gede, bobo malem tetep bisa bangun pagi; nah kalo kamu bobo malem ntar ngga
bisa bangun pagi, loh..”  Saya jawab
demikian, soalnya Annisa selama ini selalu ingin ikut mengantar kakaknya
sekolah (playgroup), dan dengan
demikian ia ada kesempatan untuk mencoba beberapa alat permainan di sekolah
kakaknya.



Annisa
terduduk. Tapi nampaknya tengah berpikir untuk “ngeyel”.



“Nica mau ma’em
xxxxxx..” katanya menyebut merek sereal yang biasa mereka jadikan penganan tiap
sore.



“Ngga ada susu
sapinya..,” kata saya cuek, sambil terus nonton TV.



“Hm.. bialin.. Nica
mau ma’em xxxxxxxx aja..” katanya menyebut merek penganan lainnya



“Udah Papa
abisin..” jawab saya sekenanya, padahal sih sebenarnya saya ngga tahu apa masih
ada apa enggak penganan itu (sst, jangan
ditiru yah bo’ongnya....
:)



Saya sempat
melirik Annisa kecil, dan terlihat ia merengut kesal.



“Nica mau
gambal aja, ” mau menggambar, katanya.



“Jangan, ah..
Papa mau pake kertasnya, mau ngeprint..”



 



Sekali ini saya
lanjutkan menoleh, “Eh, anak kecil kalo jam segini kan bobo’ lho..Ntar
bangunnya kesiangan, loh..”



“Bialin..”



“Entar ngga
dikasih uang jajan sama Mama, loh..” saya tiduran lagi sambil komentar cuek,
iya lah wong TV-nya lagi asyik.. (hehehe,
ini juga jangan ditiru yah
?!)



“Bialin..”



“Entar ngga
bisa maen di sekolah Kak Chacha, loh..”



“Bialin..” tapi
kali ini saya menangkap ada nada mau menangis..



“Eh, kalo nakal
begitu, kalo Papa pulang, ngga keliling kompleks, loh..” saya sebut kebiasaan
saya kalau pulang dari kantor, bersama anak-anak itu naik kendaraan keliling
kompleks. Buat mereka, itu sudah jalan-jalan.. (^^V



Kali ini
nampaknya ampuh. Ia langsung bangun dan masuk ke kamar.



Saya sempat
takut tangisnya meledak di kamar, tapi ternyata tidak.





Tapi yah,  begitulah.. ternyata di dalam ia tetap tidak
bisa tidur, berpikir keras seperti tadi. Sampai ketahuan Mamanya..



 



Yah, memang
sebagai orangtua, sebaiknya bisa mengendalikan hawa nafsu, antara lain amarah.
Bukan ngga boleh marah, tapi mengendalikan amarah. Hal ini, saya yakin orangtua
mana saja akan berpendapat demikian  
Tetapi terus terang, setelah istri saya keluar dan menceritakan kejadian
di dalam, saya jadi baru mengerti bahwa “marah” yang harus dikendalikan bukan
“marah” versinya Papa Ari, tapi versi “Kakak Chacha” dan atau versi “Adek Nica”.



 



Hati-hati,
putra-putri Anda bisa jadi punya definisi “Papa marah-marah” yang berbeda
dengan Anda..



Sungguh, malam
itu memberi pelajaran berharga buat saya.



 



Bagaimana dengan
pengalaman Anda dengan putra-putri Anda ? Saya sungguh berharap lebih baik..





 



Salam, Ari Latoeng