Tuesday, November 20, 2007
Dongeng Putri Tidur versi Baru
versi 01
Putri Aurora: Nissa (3 th)
Pangeran : Chacha (4,5 th)
Sutradara : Ibunya anak-anak
Skenario : terserah pemain, deh
Sang Pangeran akhirnya menemukan Putri Aurora, masih terbaring tidur
di ranjangnya. Sang Pangeran hendak membangunkan Sang Putri dengan
cara menciumnya..
Tapi... Sang Putri mendadak bangun dan berlari terbirit-birit ketakutan
Sutradara : Lho lho.. kok Putrinya ketakutan ?
Putri Aurora: Habis giginya Pangeran bau belon sikat gigi..
(kejadiannya memang hari minggu pagi-pagi sekali. jadi yah.. boro-boro
anak-anak udah mandi dan gosok gigi, Bapaknya bangun aja belon..)
*gubrag*
versi 02
Putri Aurora: Chacha, gantian ceritanya
Pangeran : Nissa
Sutradara : masih Ibunya anak-anak
Skenario : tetep terserah pemain
Sang Pangeran akhirnya menemukan Putri Aurora, masih terbaring tidur
di ranjangnya. Sang Pangeran hendak membangunkan Sang Putri dengan
cara menciumnya..
Tapi... Sang Pangeran tidak jadi mencium, berbalik arah dan muntah-muntah
Sutradara : Lho lho.. kok sekarang Pangerannya muntah-muntah ?
Pangeran : Habis Putrinya kan belon mandi seratus tahun..
* halah*
mohon maaf kalau kurang berkenan, hanya intermezzo
Sunday, November 18, 2007
Wednesday, September 12, 2007
Mohon Maaf Lahir Bathin (plus Bimbo: hidup dan pesan nabi.mp3 attch)
dear all,
dalam kesempatan ini, izinkan kami memohon maaf atas segala silap dan kesalahan, lisan dan tulisan, perkataan dan perbuatan, lahir dan batin, disadari maupun tidak, disengaja maupun tidak, yang kami lakukan sepanjang waktu ini.
kami tahu kami tidak mungkin mengembalikan semuanya seperti sedia kala sebab hidup ini berjalan terus, tidak bisa kembali, tapi kami yakin bahwa dengan niat yang tulus ikhlas, maka setidaknya qalbu kita bisa kembali putih bersih bagaikan sehelai kertas yang baru.
insya Allah kondisi itu, akan membuat perbedaan pada langkah-langkah kehidupan yang selanjutnya, insya Allah, amiyn.
mudah2an Ramadhan ini menjadikan kita insan yang lebih baik lagi, insya Allah. amiyn
ari & keluarga
Hidup dan Pesan Nabi
Hidup bagaikan garis lurus
Tak pernah kembali ke masa yang lalu.
Hidup bukan bulatan bola, yang tiada ujung dan tiada pangkal
Hidup ini melangkah terus, semakin mendekat ke titik terakhir.
Setiap langkah, hilanglah jatah menikmati hidup, nikmati dunia.
*Reff
Pesan nabi, tentang mati
Jangan takut mati karena pasti terjadi.
Setiap insan pasti mati, hanya soal waktu.
Pesan nabi, tentang mati
janganlah minta mati datang kepadamu,
dan janganlah kau berbuat menyebabkan mati.
*end of Reff
Tiga rahasia Ilahi yang berkaitan dengan hidup manusia
Kesatu, tentang kelahiran
Kedua pernikahan
Ketiga kematian
Penuhi hidup dengan cinta
Ingatkan diri saat untuk berpisah
Tegakkan shalat lima waktu dan ingatkan diri saat dishalatkan
*go to Reff
*Reff2
Pesan nabi, jangan takut mati,
meski kau sembunyi, dia menghampiri
takutlah ada kehidupan sesudah kau mati, renungkanlah itu
*end of Reff2
(Lirik lagu Hidup dan Pesan Nabi - Bimbo-)
Monday, August 20, 2007
PPN ? Siapa Takut..!?
PPN ? Siapa Takut..!?
by Anton MS Wardhana
Terus terang saja, tulisan ini berangkat dari rasa penasaran: mengapa sih kebanyakan orang rada “anti” dengan Pajak Pertambahan Nilai ? Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menguraikan apa dan bagaimana itu PPN, secara udah pada bosen dengernya kayaknya, tetapi mengenai beberapa pendekatan penggunaan PPN dalam usaha.
Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan wirausaha bertanya tentang kapan sebuah usaha harus memungut PPN. Ia bertanya demikian sebab rekanannya mempertanyakan status Pengusaha Kena Pajak-nya alias status berhak (dan wajib) memungut PPN dalam usahanya. Setelah saya jelaskan, omzet rekan ini ternyata sudah di atas ambang batas seorang pengusaha tidak wajib memungut PPN
--ahem.. kayaknya laris nih Boss bisnisnya ?! *tuing*tuing* <ari.ams
--hush ! serius dikit ! <bu momod
Keadaan yang demikian, ternyata malah membuat rekan kami ini tersenyum kecut. Ketika ditanya mengapa, sang rekan mengemukakan beberapa alasan:
1. kalau PKP, banyak kerjaan administrasi tambahan setiap bulan, kalo telat dendanya gede pula, apalagi yang mulai tahun depan
2. kalau memungut PPN, harga jual jadi tidak bersaing lagi, kalah sama toko sebelah
3. tapi intinya, kalo harus pake PPN, kok kayaknya tambah susah aja, geto lowh..
Hmm.. Alasan nomor satu, dengan terbitnya Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan yang baru yang No 28 Th 2007 itu lho.. yah iya juga sih (hiks). Kalo alasan nomor dua, kalo gw bilang sih itu salah elu sendiri ngapain juga milih buka toko persis di sebelah toko saingan..
--halah ! <oom momod
--ups ! ok, back to laptop ! <ari.ams (katro mode on)
Memang sih dengan dikukuhkan sebagai PKP, seorang pengusaha jadi ketambahan beban administratif yang lumayan berat. Tapi, lihat dulu dong:
1. Pasti memang berat kalo dilakukan dengan sistem SKS alias Sistem Kebut tanggal Setor PPN *maksa*dot*com*. Tapi betul, kan ? Seandainya setiap kali kita menerbitkan dan atau menerima invoice langsung kita input itu data PPN-nya dalam suatu sistem yang langsung nyambung ke SPT (seperti e-SPT PPN itu lho), rasanya pekerjaan beratnya sudah cukup terbantu deh
2. Kalau pekerjaan administratif itu enggak dilakukan, mana kita tahu berapa PPN yang masih harus dibayar ke kas negara, atau sebaliknya: yang bisa kita mintakan restitusi atau kompensasi dari negara. Itu pun, kalo pake cara nomor satu, sudah bisa dilakukan otomatis kok, asal rajin tiap transaksi langsung diinput ajah. Jadi ngga pake seradak seruduk menjelang tanggal 15 atau tanggal 20.
3. Oh iya, kalo usaha elo pengin diklasifikasi jadi kelas B alias bisa ikut tender kelas M-M-an gitu, ini biasanya kalo bouwheer-nya pemerintah nih, umumnya dia minta status PKP elo, prend
4. Dan tambahan pekerjaan administratif ini, khususnya di bagian ekualisasi PPN, bisa dimanfaatkan untuk pengendalian internal, yakni untuk menguji ketaatan dan keandalan pencatatan data dan...
--mas, kayaknya elo udah mulai ngecap, deh ! <mas penyelenggara
--duh ! ya jangan buka rahasia gitu dong, Yan.. kan gw malu.. <ari.ams (tersipu mode on)
Oke deh kita masuk alasan nomor dua: harga jadi tidak bersaing. Ah, masa iya ? Memang sih, bila harga jual kita dikenakan PPN, tidak otomatis harga jual kita menjadi lebih bersaing
--yah, ni orang ! emang sebelumnya guwa bilang apa yah, bro ?! <rekan yang wirausaha
--iye dah, iyee ! <ari.ams
Intinya, dengan dikenakan PPN, harga jual dan atau profit margin kita tidak selalu juga lantas jadi lebih buruk ! Sebab, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita berbicara strategi PPN, antara lain :
1. Kastemer dan Vendor
Apakah pelanggan kita kebanyakan sudah PKP atau banyak yang non PKP ? ketika banyak yang sudah PKP, maka perubahan status perusahaan kita menjadi PKP akan ikut menguntungkan mereka dari sisi kredit pajak. Dan itu poin plus tersendiri, artinya: pelanggan tidak akan menghilang gara-gara kita berubah jadi PKP.
Begitu juga dengan pemasok, ketika banyak yang ternyata PKP, perubahan status kita menjadi PKP akan menguntungkan perusahaan dari sisi pengkreditan PPN dan penurunan cost/biaya.
By the way, adakalanya juga nih ya pada saat-saat tertentu, seperti kombinasi pemasok PKP dan pembeli non PKP, secara cash flow justru lebih bagus bila kita tetap non PKP. Apalagi bila dikaitkan dengan harga jual yang bagi pembeli non PKP tentu dianggap lebih mahal. Dan mungkin juga itulah sebabnya, sampai pada level tertentu, seorang pengusaha diperbolehkan atau tidak wajib memungut PPN. Nah, sepanjang memang kasusnya demikian dan kesempatannya diberikan oleh peraturan, yah.. ahem.. sebaiknya dimanfaatkan. Ya nggak sih prend ?!
--so, kenapa ngga selamanya aja ngga usah mungut PPN ? <rekan yang wirausaha
--yah ! kalo udah lewat ambang batas PKP, artinya udah jadi pengusaha gede, bo.. masa ngga malu sih masih ngembat jatahnya pengusaha kecil..!? <ari.ams
2. Strategi Penentuan Harga dan/atau Laba Kotor
Sebenarnya dalam penentuan harga dan atau laba kotor, kita bisa melakukan perbandingan atau perhitungan sederhana bilamana kita PKP atau tetap bertahan non PKP. Dalam hal itu, secara garis besar ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan:
2.1. Harga beli dan Harga Jual pada level yang sama
Misalnya PT A membeli barang dari supplier PKP seharga Rp5 juta (diluar PPN) dan dijual seharga Rp6 juta (diluar PPN), maka:
| Keterangan | PKP | Non PKP |
| Harga Beli | Rp5.000.000,- +PPN | Rp5.500.000,- |
| Uang Dikeluarkan | Rp5.500.000,- | Rp5.500.000,- |
| Harga Jual | Rp6.000.000,- +PPN | Rp6.000.000,- |
| Uang Diterima | Rp6.600.000,- | Rp6.000.000,- |
| Laba Kotor | Rp1jt (Rp6jt-/-5jt) | Rp0,5jt (Rp6jt-/-Rp5,5jt) |
| Penerimaan Kas | Rp1jt ((Rp6jt-/-5jt)-(Rp0,6jt-/-0,5jt)) | Rp1jt ((Rp6jt-/-5jt)-/-Rp0,5jt) |
Sebenarnya penerimaan kas yang betul-betul diterima adalah 1,1 juta (6,6jt-/-5,5jt) tetapi kan ada hutang PPN 0,1jt yang harus dibayar (0,6jt-/-0,5jt) jadi pada akhirnya penerimaan kas hanya 1 juta, dengan keuntungan pemanfaatan waktu atas uang senilai 0,1 juta sebelum disetor ke kas negara. [perhitungan terlampir]
Kesimpulan, dengan jalan seperti ini maka seharusnya sih mengenakan PPN lebih untung.
Tapi masalahnya, metode ini otomatis mengalami kenaikan harga/biaya, maksud saya setidaknya bagi konsumen harus mengeluarkan dana 10% ekstra (kecuali tentu bagi pembeli yang PKP, soalnya bisa dikreditkan). Dan ini mungkin akan berdampak pada penurunan penjualan. Kecuali, tentu saja bila diimbangi dengan strategi pemasaran lain dan atau kondisi seperti kastemer dan vendor kebanyakan PKP.
2.2. Jumlah yang dibayar oleh konsumen sama
Dengan kasus yang serupa, tetapi dalam hal ini jumlah uang yang dikeluarkan pembeli sama-sama Rp6.000000 (misalnya). Bagi PKP harga tersebut termasuk PPN, bagi Non PKP tentu diluar PPN.
| Keterangan | PKP | Non PKP |
| Harga Beli | Rp5.000.000,- +PPN | Rp5.500.000,- |
| Uang Dikeluarkan | Rp5.500.000,- | Rp5.500.000,- |
| Harga Jual | Rp6.000.000,- incl PPN (=Rp5.454.545,- +PPN | Rp6.000.000,- |
| Uang Diterima | Rp6.000.000,- | Rp6.000.000,- |
| Laba Kotor | Rp0,45jt (Rp5,45jt-/-5jt) | Rp0,5jt (Rp6jt-/-Rp5,5jt) |
| Penerimaan Kas | Rp0,45jt ((Rp6jt-/-5,5jt)-/-45rb)) | Rp0,5jt (Rp6jt-/-Rp5,5jt) |
Uang yang diterima sebenarnya Rp0,45jt (Rp6jt-/-Rp5,5jt) tetapi tanggal 15 bulan berikutnya ada hutang pajak senilai Rp45rb yang harus disetor ke kas negara. Jatuh-jatuhnya Rp0,45jt dengan keunggulan waktu pemanfaatan Rp45rb sampai tanggal 15 bulan berikut. [perhitungan terlampir]
Kesimpulan, pada kondisi jumlah yang dibayar oleh konsumen yang sama persis (sangat boleh bersaing dong !? buat yang PKP, harga jualnya kan malah lebih rendah tuh..) metode ini sayangnya menghasilkan angka laba bersih di neraca yang lebih kecil bagi yang PKP daripada yang Non PKP meski tidak terlalu signifikan. Dan memang secara cash basis, angka yang diterima oleh PT A selaku PKP lebih kecil karena dipotong Hutang PPN (PPN Keluaran > PPN Masukan). Tapi ini pada level penjualan yang sama, lho.
Di sisi lain, mengingat harga jual resminya yang jadi lebih murah dibanding perusahan saingan yang non PKP, hal ini bisa jadi akan mendongkrak angka penjualan menjadi tinggi sehingga margin laba dan kas yang diterima jadi lebih besar dari sebelumnya. Masalah klasiknya tentu saja: dengan harga jual kita yang jadi begitu menggiurkan, kastemer lain (yang bukan kastemer lama) pada tahu itu dan tertarik, tidak ? Kalo nggak, ya sama juga bohong.. Tapi bagian ini sih biar dipikirkan kawan-kawan di milis pemasaran aja kali ya..?!
2.3. Jumlah laba kotornya sama
Kasus dasarnya sama, tetapi dalam hal ini PT A, baik sebagai PKP maupun bukan, sangat fokus pada cash margin. Dalam hal ini asumsinya margin penerimaan kasnya sama-sama Rp 500.000 sesuai perhitungan penerimaan kas bagi PT A bila Non PKP.
| Keterangan | PKP | Non PKP |
| Harga Beli | Rp5.000.000,- +PPN | Rp5.500.000,- |
| Uang Dikeluarkan | Rp5.500.000,- | Rp5.500.000,- |
| Harga Jual | Rp5.500.000,- +PPN | Rp6.000.000,- |
| Uang Diterima | Rp6.050.000,- | Rp6.000.000,- |
| Laba Kotor | Rp0,5jt (Rp5,5jt-/-5jt) | Rp0,5jt (Rp6jt-/-Rp5,5jt) |
| Penerimaan Kas | Rp0,5jt ((Rp6,05jt-/-5jt)-(Rp0,55jt-/-0,5jt)) | Rp0,5jt (Rp6jt-/-Rp5,5jt) |
Uang masuk sebenarnya Rp0,55jt (Rp6,05jt-/-Rp5jt) tetapi tanggal 15 bulan berikutnya ada Rp50.000,- yang harus disetor ke Kas Negara. Jadi hasil akhirnya Rp500.000,- juga, dengan keuntungan time value of money Rp50.000,- sampai tanggal 15 bulan depan. [perhitungan terlampir]
Kesimpulan, pada kondisi ini harga jual perusahaan yang PKP masih lebih rendah dibanding yang non PKP (so masih bisa bersaing dong !?) Sedang jumlah uang yang dikeluarkan kastemer PKP memang sedikit lebih besar dari yang non PKP. Tetapi bila kastemernya PKP, tentu hal ini tidak jadi masalah sebab cost dilihat dari angka harga jual murninya diluar PPN.
Metode ini menghasilkan angka margin kotor di laporan laba rugi yang sama besar bagi perusahaan baik PKP maupun bukan, begitu pun secara cash basis.
Oke deh, jadi kesimpulannya jangan buru-buru bilang PPN itu menakutkan, PPN itu bikin ngga mampu bersaing de el el de es be. Sebab tidak selalu demikian.
--bro bro, “tidak selalu demikian” itu.. artinya biasanya begitu, dong ?! <rekan yang wirausaha
--halah ! mental loser, deh elu tuh ye ?! <ari.ams
Kita harus selalu bisa menilai situasi dan kondisinya dengan tepat, agar strategi/rencana perpajakan kita benar-benar mendatangkan yang terbaik bagi usaha kita.. hmm..dan atau usahanya boss kita, deh. Contohnya, bisa lihat perhitungan-perhitungan sederhana di atas.
Memang sih perhitungan di atas itu sangat sangat sederhana. Pasti ada banyak hal yang belum dipertimbangkan dan atau memerlukan koordinasi dengan pihak-pihak lain di dalam perusahaan. Namun dengan perhitungan yang seperti ini dan tentunya dengan penguasaan kita tentang produk kita sendiri, maka seharusnya keputusan menjadi PKP atau bukan PKP bukan lagi soal mental ataupun isyu, melainkan benar-benar soal perhitungan dan perencanaan.
Jadi, jangan takut sama PPN, geto loh bo..
Dan, omong-omong, lokasi wirausaha rekan saya ini dekat rumahnya Oom Ika di BSD. Di deket situ itu ada sebuah rumah makan kecil yang menunya boleh dibilang sangat jarang ada di Jakarta, yaitu Mangut. Mangut ini semacam...
--mas, lanjutan kulinernya di sebelah aja, mas ! <mr. president, Republik OOT
--oh.. sendhika dawuh, pak presiden ! <ari.ams
Dan dengan demikian, tulisan ini harus disudahi sebelum saya kena dikenakan pasal menghina Presiden Republik OOT dan menyebarkan hasutan terhadap status PKP.
11 Agustus 2007
koreksi 12.08.2007 dan 18.08.2007
Anton M.S. Wardhana
Anton MS Wardhana alias Ari AMS a.k.a Ari Latung. Pekerjaan: ngga jelas. OB di sini dan Cleaning Service di sana. Kadang juga jadi as-pri istrinya: jualan bakso..! (tapi lebih sering dimakan sendiri, sih..enak soalnya..)
--Latung !!! <moderators, mas penyelenggara, dan presiden OOT
--iya, iya.. wis rampung ! gw diem, deh ! <ari.ams
...
--tapi, kan.. <ari.ams
--avada kedavra !! cruccio !! sectum sempra !! kamehame ha !! (teriakan2 mantra dan jurus para mods dan panitia membungkam ari.ams)
...
...
@EOF
Wednesday, July 4, 2007
Si Bodoh (part 03)
Sebagai sequel dari tulisan yang lalu, Kembali tentang seseorang yang sering dianggap tolol tapi keras kepala. Siapa lagi kalau bukan Guo Jing (aka Kwee Ceng) dalam The Legend of Condor Heroes. Kali ini, kita akan menandingkan Guo Jing dengan seorang yang sering disebut-sebut pahlawan, tokoh legendaris, penakluk. Siapa lagi kalau bukan ayah angkatnya, Temujin atau Jenghiz Khan. Kha Khan bangsa Mongol.
Berikut ini adalah kutipan percakapan episode akhir cerita itu
dikutip dari http://serialsilat.tungning.com/lpr_haru.php
Jenghiz Khan menahan kudanja, ia memandang ke empat pendjuru.
"Anak Tjeng," ia berkata, "negara besar jang aku membangunnja, berdjaman-djaman tidak ada bandingannja! Dari tengah-tengah negaraku ini untuk sampai di daerah paling udjung di sekitarnja, di timur dan selatan, di barat dan utara, semuanja seperdjalanan satu tahun lamanja! Kau bilang, di antara pendekar-pendekar di djaman dulu hingga di djaman sekarang ini, siapakah jang dapat melawan aku?"
Kwee Tjeng berdiam sekian lama, baru ia menjahut: "Di dalam halnja kegagahan, semendjak dulu hingga sekarang ini, tidak ada orang jang dapat menandinginja, hanjalah, oleh karena keangkaran Khan seorang, maka di kolong langit ini entah telah bertumpuk berapa banjak tulangbelulang putih serta mengalirkan airmatanja setahu berapa banjak anak-anak piatu dan djanda..."
Sepasang alisnja Jenghiz Khan bangun berdiri, tjambuknja menjambar ke pundak si anak muda!
Kwee Tjeng melihat itu, ia tidak takut, ia berdiam sadja.
Tjambuk itu berhenti di tengah udara.
"Apa kau bilang?" membentak pendekar mongolia itu.
Kwee Tjeng berpikir: "Setelah hari ini dan selandjutnja, pasti aku dan khan ini tidak bakal bertemu pula, maka itu biarnja dia bakal djadi gusar sekali, apa jang aku pikir mesti aku mengutarakannja!" Maka ia menjahuti dengan gagah: "Khan jang agung! Kau telah memelihara aku dan mendidik aku, kau djuga telah memaksakan kematiannja ibuku! Tapi itulah budi dan dendaman pribadi, tak usahlah itu dibitjarakan! Sekarang aku hendak tanja kau dengan satu pertanjaan sadja: "Kalau seorang telah mati dan dia dikubur di dalam tanah, berapa luas dia dapat tanah kuburannja itu?"
Jenghiz Khan melengak, lalu ia mengajun bundar tjambuknja. "Itulah lebih-kurang seluas ini," sahutnja.
"Benar," berkata Kwee Tjeng. "Sekarang kau telah membinasakan demikian banjak orang, kau telah mengalirkan demikian banjak darah, kau djuga telah merampas demikian banjak negara, di achirnja, apakah gunanja semua itu?"
Khan jang agung itu, pendekar dari Mongolia, berdiam. Tidak dapat ia membuka mulutnja.
Kwee Tjeng berkata pula: "Pendekar djaman dahulu hingga djaman sekarang ini, mereka jang dikagumi orang djaman belakangan, mesti dia jang telah membuatnja rakjat berbahagia dan jang menjinta rakjatnja! Menurut pandanganku sendiri, siapa jang membunuh banjak orang, belum tentu dialah satu pendekar!"
Dengan "pendekar" itu, Kwee Tjeng maksudkan "eng hiong."
"Apakah seumurku aku belum pernah mealkukan pekerdjaan baik?" khan itu tanja.
"Pekerdjaan baik itu pasti ada dan djuga besar sekali," mendjawab Kwee Tjeng. "Kau telah menerdjang ke Utara, kau telah menumpuk majat setinggi gunung, apakh itu jang dinamakan djasa atau dosa, itulah sukar dibilang..."
Kwee Tjeng djudjur, maka apa jang ia pikir lantas ia mengutarakannja.
Jenghiz Khan besar kepala, ia biasa merasa puas akan dirinja sendiri, sekarang di saat-saat dari hari achirnja, ia mesti mendengar kata-kata tadjam itu, ia tidak dapat kata-kata untuk membilang suatu apa. Ia lantas membajangi segala perbuatannja duludulu. Ia pun memandang kelilingan. Ia merasa seperti kehilangan sesuatu. Lewat lagi sesaat, mendadak ia berseru: "Oweh!" dan memuntahkan darah hidup!
Kwee Tjeng kaget. Ia lantas mengerti bahwa barusan ia telah bitjara terlalu tadjam. Ia lantas mempepajang pendekar itu.
"Kha Khan, mari kita pulang untuk beristirahat," katanja. "Barusan aku telah salah omong, harap dimaafkan."
Tapi Jenghiz Khan tertawa, tawar tertawanja, parasnja pun menjadi kuning-pias. "Orang di kiri-kananku," katanja, "tidak seorang djuga jang bernjali besar sebagai kau, jang berani omong padaku setjara begini djudjur."
Ia lantas mengangkat alisnja, ia kelihatan djumawa. Ia kata njaring: "Seumurku aku telah malang-melintang di kolong langit ini, aku telah memukul musna negara lain tak terhitung banjaknja, tetapi menurut kau, aku bukannja satu pendekar! Hm, sungguh kata-katanja seorang botjah!"
Ia mentjambuk kudanja, ia melarikannja pulang.
Malam itu Jenghiz Khan berpulang ke lain dunia di dalam Kemah Emasnja, maka menurut pesannja jang terachir, Ogotai menggantikan ia mendjadi khan jang maha agung. Di saat napasnja terachirnja, beberapa kali ia menjebut-njebut: "Pendekar... Pendekar..." Rupanja ia terpengaruh sangat perkataannja Kwee Tjeng.
Kwee Tjeng dan Oey Yong menanti sampai upatjara permakaman selesai, di itu hari djuga mereka pulang ke Selatan. Di sepandjang djalan, hati mereka bukan main terharunja, sebab mereka melihat di antara rumput-rumput tebal tak sedikit tulang-belulang putih kurban bentjana perang. Mereka ngelamun, kapan akan datangnja djaman aman-sentosa hingga rakjat dapat hidup aman dan berbahagia...
Kalau membaca ini, mungkin Guo Jing sebenernya ngga bodoh. Mungkin dia malah lebih bijaksana daripada saya, yang mungkin (mungkin lho..) kalau saja diberi kesempatan untuk melahap dunia mungkin akan saya lakukan saking maruknya..
Friday, June 29, 2007
Monday, June 4, 2007
Cinta Putih dan Pertanyaan Seorang Jomblowan
Mari kita jaga sebentuk cinta putih
Yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian
Antara engkau dan aku oh..
Masihlah panjang
Jalan hidup mesti ditempuh
S'moga tak lekang oleh waktu
Reff#
Cukup bagiku hadirmu
Membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasihku
Kau ungkap.. tlah terjawab
Jika kau bertanya
Sejauh mana cinta membuat bahagia
Sepenuhnya t'rimalah apa adanya
Dua beda menyatu saling mengisi
Tanpa pernah mengekang diri
Jadikan percaya yang utama
Back to Reff#
cinta putih ● katon bagaskara ● gemini
teks dari http://www.iloveblue.com/lirik/lyric_artist_indonesia_barat_bali_song/210.htm
Belum lama ini ada seorang jomblo-er yang nampak gelisah, mencoba numpang bertanya mencari pencerahan pada seorang Bapak salah satu narasumber kegiatan kami: “Pak, dulu waktu Bapak memutuskan untuk menikah, apa alasan Bapak ?”
Saat itu sebenarnya kami tengah berada di salah satu warung kopi di banda aceh serta membicarakan soalan lain. Si Bapak yang ditanya, meski sedikit terkejut mendengar pertanyaan out of topic itu, segera menjawab, “Terus terang saya ngga tahu, Mas. Waktu itu saya hanya merasa ngga bisa menjalani hidup ini dengan baik kecuali bila bersamanya. Kalo seperti itu dibilang cinta, ya mungkin itulah. Kalo yang begitu dibilang karena Allah, ya mudah-mudahan benar begitulah. Setidaknya saya berharap begitulah...”
Agaknya belum puas, kawan kami ini bertanya lebih lanjut, “Tapi bagaimana Bapak bisa yakin dialah orangnya ? Bapak kan belum tahu siapa dia betul-betul ?”
“Yah, kalo dipikir-pikir Mas ini benar juga,” jawab si Bapak, “Tapi waktu itu saya lihat dia orangnya telaten, sopan sama yang tua, membimbing sama yang muda, serta cukup taat sama perintah agama. Orangnya juga cukup menarik.. Cukuplah itu buat saya. Dan karena saya waktu itu sudah bekerja dan –eh- ada lah dorongan-dorongan yang mulai agak-agak mengganggu, jadi saya waktu itu berpikir mau tunggu apa lagi?! Jadi saya datang dan minta nasihat Pak Ustadz, lalu Pak Ustadz dan orangtua saya meminta izin pada orangtuanya. Lalu kami menikah. Begitu..”
Sang Jomblo-er tertegun, “Begitu saja ? Tapi apa nggak jadi sering bertengkar nantinya Pak ? Kan baik Bapak maupun Istri Bapak belum terlalu kenal ?!”
“Wah ngga tahu juga ya Mas, “ jawab si Bapak bingung, “Tapi saya mau protes apa sama Istri saya, lha wong saya sendiri juga ngga kalah banyak kok jelek-jeleknya ?”
“Jadi yah kami mencoba saling menerima apa adanya sambil memperbaiki diri sendiri.. Lha wong menikah itu ternyata satu paket Mas, mau bagusnya juga harus mau terima jeleknya. Lagipula saya sendiri juga bukan yang terbaik, kok Mas..” lanjut si Bapak, “Kami cuma bisa berdoa sama Allah, minta supaya pernikahan kami ini penuh barokah, ya buat kami sendiri, buat anak-anak kami, buat semuanya..”
Pada saat itu, tiba2 HP seorang kawan berdering, dengan ringtone mp3 lagu ini. Dan entah karena penjelasan Si Bapak, atau entah karena isi teks lagu ini, yang jelas rekan kami jomblo-er itu manggut-manggut. Entah-entah juga apakah itu artinya ia paham atau justru karena semakin bingung dus ragu.
Saya sendiri tidak tahu jawaban Si Bapak ini benar atau tidak. Tetapi setidaknya jawaban Beliau membuat saya mencoba menata ulang tujuan pernikahan saya agar lebih barokah.
Kalau Anda bagaimana ?
Salam, Ari Latoeng
PS: Btw rekan jombloer kami ini bukan jomblo betulan, melainkan berada dalam hubungan yang kurang jelas :p Mudah2an dirimu dan siapapun pasangan pilihanmu selalu dirahmati Allah. Amiyn.