
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | History |
| Author: | Langit Kresna Hariadi |
Majapahit (Pernah) Diperintah oleh King Janes *)
Resensi Buku
Judul Serial :Gajah Mada
1. Gajah Mada. Cet. V. 2007
2. Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta
dan Angkara. Cet. IV. 2007
3. Gajah Mada, Hamukti Palapa. Cet. I. 2006
4. Gajah Mada, Perang Bubat. Cet. I. 2006
5. Gajah Mada, Madakaripura Hamukti Muksa. Cet I. 2007
Pengarang : Langit Kresna Hariadi
Penerbit : Tiga Serangkai, Solo
“Untuk mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar,” ucap Gajah Mada dengan suara amat lantang, “untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum cita-citaku dan cita-cita kita bersama ini terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung, yang itulah hakikat arti dari sumpahku, Sumpah Palapa, semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak akan beristirahat. Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsung amukti Palapa.”
(kutipan ringkasan cerita Gajah Mada buku ke-3: Hamukti Palapa)
Kalau Anda membaca sumpah ini, kalau boleh tahu, apakah yang terlintas dalam benak Anda tentang sosok Gajah Mada: Apakah ia seorang pemersatu bangsa ? Atau ia hanya satu dari sekian banyak tiran imperialis lainnya ?
Buku serial Gajah Mada, sampai saat ini ada 5 buku, mencoba mengupas siapa sebenarnya Gajah Mada. Mengapa sosok Sang Mahapatih Amangkubumi bergelar Mahamantrimukya ini seperti berstatus persona non-grata di Bandung sehingga tidak ada nama jalan Gajah Mada di kota itu ? Mengapa kedua Prabu Putri keukeuh tidak ingin Gajah Mada memaksa kedua kerajaan Sunda, Sunda Galuh dan Sunda Pakuan, untuk bergabung dengan “aliansi” Majapahit Raya ? Apakah karena Narayama Sanggramawijaya, pendiri Majapahit, ayah para Prabu Putri itu, ternyata sebagian berdarah Rajasa dan sebagian lagi darah Sunda Galuh ? (waks, gosip baru, nih..)
Di sisi lain, sebenarnya mengapa Gajah Mada begitu ingin menyatukan nusantara ? Kalau itu ambisi, darimanakah ia mendapat ide imperialis begitu ? Sebaliknya, apabila ternyata penyatuan nusantara itu adalah kebutuhan, apa latar belakangnya ?
Bagi saya, buku yang diterbitkan dari hasil analisis sejarah ini cukup mampu memberi gambaran mengenai apa yang terjadi, siapa, dan bagaimana, dengan caranya sendiri yang mencoba untuk tidak berpihak. Tutur bahasanya mampu menjembatani situasi mencekam karena intrik politik masa lalu hadir ke masa kini, seolah-olah intrik-intrik perebutan kekuasaan itu baru saja kita baca di surat kabar hari ini.
Masih bagi saya, saya kok membacanya begini: Penulis mencoba mengatakan bahwa Perang Bubat terjadi karena Gajah Mada “termakan” sumpahnya sendiri. Namun demikian, ide bahwa ada penerjemahan perintah yang kebablasan sungguh menarik. Menarik, karena mungkin saja beberapa peristiwa besar yang terjadi tahun-tahun belakangan ini pun terjadi karena hal-hal yang demikian.
Eh, halo ? Ahem.. Mau mengingatkan aja: semua itu hanya pendapat saya yang bukan siapa-siapa, kalau Panjenengan percaya dengan saya, nggih mangga, kalau tidak percaya mungkin bagusnya silakan dibaca sendiri baru ditarik kesimpulannya.
Sebelum lupa, tokoh sentral cerita ini tidak melulu Gajah Mada. Ada Gagak Bongol, Pradhabasu, dan Gajah Enggon akan sering menghias halaman yang Anda baca. Lalu masih ada tokoh seperti Rahyi Sunelok serta Dyah Menur Sekar Tanjung. Pula generasi selanjutnya antara lain: Sang Prajaka alias Riung Sedatu, Kuda Swabhaya, dan Gajah Sagara. Serta jangan dilupakan tokoh-tokoh sejarah yang memang ada: Arya Tadah alias Jabung Krewes, Ibu Suri Gayatri, Prabu Putri Dyah Wiyat dan Sri Gitarja, dan pemeran pembantu yang cukup penting, adalah Prabu Jayanegara alias Kalagemet, Raja Majapahit putra Raden Wijaya yang juga berdarah Melayu.
Dan omong-omong, buku-buku ini memberi bonus yang lumayan lho. Peta lanskap istana Majapahit berdasar penelitian sejarah dan saduran terjemahan Negarakertagama.
Salam, Ari Latoeng
*) Majapahit diperintah King JaMes, dari Inggris ? Beneran, tuh ? Waks, ngga teliti, atuh bacanya.. Perasaan saya ngga nulis King JaMes, deeh..
King JaNes, tepatnya Janeswara, adalah betul-betul salah satu panggilan Prabu Hayam Wuruk. Suwer.. Test mata aja.. hehehe *gedubrag*
Eniwe, meski King James I of England adalah raja pertama yang memerintah keseluruhan England, Wales, Scotland, & Ireland (kira-kira 200 tahun setelah King Janes di Majapahit), dari dulu sampe sekarang kita ngga pernah diperintah England. Eh, salah.. pernah sih, hanya untuk beberapa tahun dan pastinya jauh dari masa Majapahit. Tepatnya ketika Thomas Stanford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di (sebagian) wilayah yang sejak dulu sampai sekarang disebut Nusantara.